[FF] Your Love Change My World (Part 2)

Title : Your Love Change My World

Maincast : Im YoonA, Lee Donghae, Tiffany

Supportercast : temukan sendiri chingudeul XD XD

Genre : Romance, Life, Chapter

A/N : Halooo haloooooo readers!! ^^ kini author membawa part 2 dari ff “Your Love Change My World”, tak  usah berbabibubebo lebih baik lansung berfantasi di dunia author!! ^^ mian kalau masih ada typo, karena author juga seorang manusia T^T tapi gomawoyo chingudeul sudah mau menyempatkan waktunya untuk mengunjungi blogku XD XD sungguh-sungguh tersanjung(?). Ayo lanjut ke part 2!! 😀

Preview

Princess Hours ini mengisahkan kehidupan seorang gadis (Han Chae Kyung) dari kalangan rakyat biasa yang harus menikah dengan seorang Putera raja (Lee Shin) karana desakan ekonomi dan janji yang pernah dibuat oleh keluarga Han Chae Kyung dengan keluarga diraja. Pernikahan ini harus terjadi karana desakan keluarga diraja yang harus segera mengisi posisi calon raja kerana raja yang sekarang sedang dalam keadaan tidak sihat. Proses untuk menjadikan Han Chae Kyung sebagai calon permaisuri menjadi babak lawak. Namun karena sifatnya yang selalu ceria membuat dia diterima oleh pihak kerajaan. semasa pernikahan mereka datanglah Lee Yul, setelah 14 tahun meninggalkan Korea dengan ibunya Yul, sebenarnya Lee Yul juga adalah seorang putera raja, yang akan menjadi persaingan calon raja korea. Kisah menjadi lebih menarik setelah bekas kekasih Lee Shin yaitu Min Hyo Rin seorang penari balet sturut kembali ke korea dan ingin kembali bercinta dengan Lee Shin. Namun disatu sisi lain Lee Shin secara diam-diam mulai mencintai Han Chae Kyung. Han Chae Kyung pun sebaliknya merasakan perasaan tersebut sejak lama, namun ia tidak berani menunjukan sikap perhatiannya dengan Lee Shin. Dan ternyata Lee Yul sejak pertama mengenal Chae Kyung sudah sangat menyukainya, perasaan itu semakin lama semakin tumbuh menjadi rasa cinta. Namun kembalinya ibu Lee Yul bersamanya tidak hanya sekedar hanya kembali namun memiliki sebuah rencana jahat yang ingin ibunya lakukan untuk menghancurkan keluarga kekaisaran dan merebut kembali semua apa yang seharusnya menjadi miliknya jika suaminya tidak meninggal. Saat pertemuan awal Lee Shin dan Chae Kyung, mereka selalu bertengkar. Mungkin dari kebiasaan itu lah tumbuh perasaan cinta dalam diri mereka masing-masing, perasaan benci berubah mennjadi cinta.. lucu bukan?? ini lah yang mereka alami. Di akhir episode mereka akhirnya bahagia bersama walaupun melewati banyak rintangan yang ingin mengkandaskan kisah cinta mereka namun mereka bisa melewatinya. 

“Sangat mengharukan sekaligus membahagiakan sepertinya” ucap Donghae yang masih fokus dengan sinopsis dari naskah yang sedang dipegangnya.

“Tentu saja, sangat mengharukan dan juga membahagiakan.. lucu dan romantis. Semua paket lengkap dalam drama ini” ucapku dengan wajah yang berseri-seri.

“Ne, aku pernah menontonnya namun tidak sampai habis. Sayang sekali” ucap Donghae lalu mulai menatap dalam manik mataku dan sangat sukses membuatku habis kata untuk membalas perkataannya.

“A..ah ne sayang sekali” ucapku dengan sedikit terbata-bata, dan tiba-tiba #brukkkkkkkkkkk ada seseorang yang menabrakku dan kini kurasakan tangan kekar seseorang telah bertengger dipinggangku dan mata kami saling bertemu, sangat terasa hembusan nafas hangatnya yang menerpa wajahku.. dan ternyata dia adalah.. deggg….

“Kau tidak apa-apa YoonA-ya??”

————————————————————————————————–

Still YoonA POV

“Kau tidak apa-apa YoonA-ya??” ucap seorang namja tampan kepadaku.

“Aniyo gwenchanna” ucapku dengan terbata-bata karena apa?? kalian tahu jantungku kini berdetak 100 kali lebih cepat dari biasanya. Ah perasaan ini semakin aneh~

“Baiklah, sini bangun” ucap namja tampan tersebut yang tak lain adalah Donghae, namja yang secara diam-diam aku sukai.

“Ah..n..ne” ucapku lagi dengan tergagap dan kali ini nyatanya gagapku sangat terlihat dan tampak sadar pipiku mengeluarkan semburat merah yang menandakan bahwa aku malu sekarang ini ><.

“YoonA-ya, pipimu kenapa merah seperti itu?? apakah kau benar-benar tidak apa-apa??” tanya Donghae dengan menatap intens kepadaku lalu mengusap pipiku yang kuyakin sudah semerah kepiting rebus ini, ah aku sangat malu ><.

“A..ah aniyo Donghae oppa, aku hanya sedikit tidak enak badan saja. Tak perlu khawatir” ucapku dengan memalingkan wajahku karna aku tak tahan jika terus menatapnya, matanya yang teduh itu seakan-akan menjadi candu yang menggila bagi diriku.

“Baiklah, ohya apakah kau tidak lapar YoonA-ya??” balas Donghae dengan memegangi perutnya yang kukira pasti kini sudah sangat lapar.

“Aniyo oppa, aku masih kenyang. Kalau kau mau pergi makan tak apa, aku masih ingin membaca naskah ini” ucapku sambil membuka satu-persatu lembar naskah yang benar-benar menyelamatkanku kali ini.

“Ah kau bisa membacanya di kantin YoonA-ya, ayolah temani aku. Aku sedang ingin ditemani. Kau bisa minum saja di kantin, tak perlu makan. Waeyo??” ucap Donghae masih memegangi perutnya, namun kali ini ia mengeluarkan puppy eyesnya.

“Baiklah, akan aku temani” balasku dengan menyunggikan senyum kebanggaanku.

“Ok, kajja!!” ucap Donghae yang bisa dikatakan sedikit berteriak lalu menarik tanganku lalu menggandengnya. Ah mimpi apa aku semalam?? ah ><

Donghae POV

Untung saja tadi aku berani mengajaknya ke kantin ani tepatnya aku sedikit memaksanya hehe. Dan kini kami mulai memesan makanan beserta minumnya. Ah tidak pernah kubayangkan aku bisa makan siang bersama YoonA.

“YoonA-ya, kau mau makan apa??” ucapku sambil menyodorkan buku menu kepadanya, lalu ia membuka buku menu tersebut.

“Hmm aku ingin lemon tea hangat saja oppa, kau sendiri ingin apa oppa??” tanyanya kepadaku lalu dengan reflek aku pun langsung melontarkan apa yang ada di otakku.

“Aku ingin kau YoonA-ya” ucapku dengan lantangnya, ah Donghae!! apa yang kau lakukan??! rutukku dalam hati.

“Hmm?? apa oppa?? tadi aku tidak dengar, suara mahasiswa disini sangat keras sekali sehingga barusan aku tidak dapat mendengar jelas apa yang oppa ingin pesan. Mianhae, bisa oppa ulangi??” ucap YoonA lalu mengulang pertanyaan yang sama lagi kepadaku.

“Aku ingin kimchi dan minumnya green tea hangat” ucapku kepadanya sambil mengulum senyum indah di bibir tipisku ini karna aku sangat bersyukur YoonA tidak mendengar apa yang aku katakan barusan, hatiku seakan-akan lega tiba-tiba.

“Baiklah, pelayan!!” teriak YoonA kepada pelayan di kantin ini, lalu yang merasa dipanggilpun datang menhampiri kami berdua.

“Sudah ini saja??” tanya pleayan itu kepada kami.

“Iya, tolong jangan terlalu lama ya” ucap YoonA sopan lalu memberikan senyum khasnya kepada pelayan tersebut, ah dia memang yeoja idaman.

“Baiklah, apakah kalian adalah sepasang kekasih?? kalian terlihat sangat serasi” ucap pelayan itu sambil mengulum senyumnya.

“A..ah?? aniyo.. ka..mi kami bukanlah sepasang kekasih” ucap YoonA dengan spontan, dan kuyakin kini pipiku mengeluarkan semburat merah. Dan.. apa aku tidak salah lihat?? pipi YoonA juga berubah menjadi merah. Sangat lucu sekali.

“Mianhae maaf kalau saya lancang, tapi kalau begitu  sayang sekali padahal kalian sangatlah serasi, baiklah saya tinggal dulu. Permisi” ucap pelayan itu sambil menundukkan badannya yang membentuk sudut 90 derajat lalu pergi meninggalkan kami berdua.

Entah sejak kapan udara disekeliling kami terasa sangat panas yang membuat kami gerah, padahal di kantin ini sudah dipasang AC. Apa mungkin karena perkataan bibi pelayan tadi?? ah molayo, tapi aku tidak suka dengan keadaan saling diam seperti ini.

“YoonA-ya?? ucapku yang mulai memberanikan diri untuk berbicara terlebih dahulu kepadanya.

“Hmm??” gumam YoonA seadanya, aku tahu dia juga merasakan suasana yang tidak disukanya.

“Gedung yang akan kita pakai untuk latihan hari ini apakah sudah siap YoonA-ya?? tanyaku kepadanya, ah aku sangat membenci untuk berbasa-basi. Namun entah kenapa mulutku mengeluarkan kata-kata seperti ini.

“Tentu sudah, aku tadi sudah menelpon salah satu pekerja disana untuk menyiapkan semuanya” ucap YoonA sambil mengambil sebuah majalah yang ada di bawah laci meja kantin ini.

“Oh begitu, baiklah. Kau memiliki berapa saudara kandung YoonA-ya?” pertanyaan ini terlontar begitu saja dari mulutku.

“Hmm?? aku mepunyai 2 bersaudara. 1 dongsaeng dan 1 eonni, tapi eonni sudah meninggal karena penyakit kanker yang diidapnya” ucapnya sambil memandang luar jendela bening yang memang berada tepat disebelah kami, aku dapat melihat matanya yang mulai berkaca-kaca seakan-akan menandakan ia sedang menahan tumpahan cairan bening yang ingin keluar dari sudut matanya.

“Ah mianhae aku tidak tahu. Jeongmal mianhae membuatmu teringat kembali dengan masa lalu yang pahit itu” ucapku dengan lemah karna kini aku sangat merasa bersalah kepadanya telah menanyakan tentang saudara kandungnya.

“Aniyo gwenchanna, aku lagipula tidak menangis” ucap YoonA lalu dengan cepat menyeka perlahan air matanya yang kuyakini sedari tadi ingin keluar dari sudut-sudut mata indah YoonA.

“Sudah jangan bohong YoonA-ya, terlihat jelas kau ingin menangis” ucapku lalu menarik kepala YoonA lalu menyederkannya didada bidangku, entah keberanian dari mana aku berani melakukan hal ini.

“Aniyo aku tidak apa-apa” ucapnya lalu dengan perlahan menjauhkan kepalanya dari dada bidangku.

“Ani, mianhae tadi aku refleks melakukan hal itu supayakau tenang YoonA-ya” ucapku dengan raut wajah yang bersalah karena perlakuanku kepadanya barusan.

“Gwenchanna oppa, aku mengerti” ucap YoonA dengan dibarengi senyum manisnya kepadaku.

“Baiklah makanan sudah datang!! ayo kita makan!!”

skip 1 month

YoonA POV

Aku dan Donghae semakin lama semakin dekat, aku merasa cocok dan nyaman dengannya. Tentu saja seperti itu, bagaimana tidak?? aku kan sangat menyukainya ani ralat aku sangat mencintainya. Kami setiap harinya sering bertelponan satu sama lain dan tentunya memberikan pesan singkat juga. Tiffany pun tahu tentang kedekatanku dengan Donghae karena aku sendiri yang memberi tahunya. Tapi kukira ia akan mengejekku jika aku bertemu dengan Donghae, tahunya ia diam seperti biasanya bahkan dia sudah tak mengejekku lagi. Ohya bagaimana dengan nasib drama Princess Hours yang akan kami pertunjukkan sebulan lagi?? kami sudah hampir menyelesaikan drama tersebut, mulai dari kostum dll. Dan kalian tahu?? aku dan Donghae di dalam drama tersebut harus melakukan adegan ciuman beberapa kali. Dan besok adalah latihan pertamaku di bagian kissing scene. Ya aku tidak bisa membayangkan betapa merahanya wajahku nanti saat berhadapan denganya. Hahaha karena Donghae aku sudah bisa melupakan segala masa laluku yang pahit, dan sekarang aku sudah berubah. Aku bukan YoonA yang pendiam dan tak pandai bergaul kini aku berubah menjadi yeoja yang aktif dan pandai bergaul dengan siapapun itu semua berkat keberadaan Donghae disampingku, aku sangat bersyukur karena Tuhan telah mengirimkan namja baik & tampan sepertinya untukku. Hari ini adalah hari weekend dan itu berarti tandanya aku dan Donghae akan pergi bersama hari ini, tahu kenapa?? karena kami berdua memang setiap weekend akan berjalan bersama-sama ke suatu tempat. Sebenarnya hal ini seperti melakukan kencan bukan? haha molayo. Aku pun sedari sudah bersiap-siap untuk pergi dengannya hari ini, aku memutuskan untuk memakai dress berwarna putih lalu dipadukan dengan high heels berwarna putih bening juga. Sangat pas untukku. Kami berdua memiliki janji hari ini jam 5 sore, dan ini sudah jam 4.45. Lebih baik aku menunggu dibawah, sambil menonton Running Man ^^.

Donghae POV

Kini aku sudah sampai di depan rumah YoonA POV, 1 kata yang bisa mendeskripsikan rumahnya adalah WOW. Aku pun memakirkan mobilku didepan rumahnya, lalu aku masuk dan memencet bel rumahnya. Setelah 10 detik menunggu akhirnya seseorang yang dari tadi aku tunggupun keluar. Ia terlihat sangat cantik & anggun, siapa lagi kalau bukan YoonA. Aku sempat beberapa detik tak berpaling darinya karena penampilan dan auranya yang sangat menempel lekat didiriku.

“Yak Donghae oppa, apa yang kau lamunkan??” tanya YoonA sambil mengibaskan tangannya didepan mataku.

“Huh?? aniyo, kau terlihat sangat cantik YoonA-ya” ucapku terang-terangan yang berhasil membuahkan jitakan keras dikepalaku.

“Yak!! oppa ini menggombal melulu. Ayo sekarang pergi” ucap YoonA tanpa jeda sedikitpun, namun dapat kulihat semburat merah keluar dari pipinya yang kurus itu.

“Appo!! Hahaha itu kenyataannya YoonA-ya” ucapku sambil terkekeh geli melihat tingkah lucu yeoja yang aku cintai ini, namun sampai sekarang aku masih bingung kapan waktu yang tepat untuk mengungkapkan isi hatiku padanya.

YoonA POV

Apa-apaan Donghae oppa ini, ia menggombaliku dan tentunya hal itu sukses membuatku salah tingkah didepannya><. Aku akan berpura-pura marah padanya, lihat saja kau oppa kekekke~

“YoonA-ya, kenapa kau diam terus sedari tadi?? apa kau masih kesal dengan oppa??” tanya Donghae yang terlihat mulai khawatir dengan perubahan sikapku, hahaha rasakan kau oppa batinku.

“Ani” ucapku singkat lalu membuang muka ke arah jalan.

“Yaa YoonA-ya, aku minta maaf. Aku hanya bercanda saja, lucu bercanda denganmu” ucap Donghae lembut lalu memberhentikan mobilnya.

“Ne” ucapku seadanya, aku bingung dengannya mengapa dia memberhentikan mobil yang sedang ia kemudikan.

“Ya YoonA-ya, kau jangan bohong. Aku tahu kau sedang marah kepadaku” ucap Donghae dengan raut wajah yang terlihat sangat lucu bagiku.

“Kenapa diberhentikan mobilnya?? sungguh tidak apa, kau ini lucu sekali Oppa kekeke aku berhasil mengerjaimu! XD XD” ucapku dengan penuh kemenangan sambil membuka besar-besar mulutku sambil tertawa.

“Yak!!! kau ini!! kau benar-benar pintar dalam berakting YoonA-ya” ucapnya sambil menghembuskan nafas leganya.

“Kau ini mudah sekali dibohongi, dasar Oppa pabo” ucapku kepadanya, entah kenapa aku kini menjadi sangat dekat dengannya padahal kami baru berkenalan 1 bulan lamanya. Lalu aku mencubit pelan pipinya, lalu munculah dua semburat merah dari pipinya kekeke lucu sekali kau Lee Donghae batinnku.

“Ah kau ini YoonA-ya, yasudah kita jalan” ucap Donghae kepadaku lalu mulai menginjak pedal gasnya yang sedari tadi ia lepaskan, haha lucu sekali Donghae ini batinku.

“Kita mau kemana oppa?? tanyaku sedikit manja kepadanya, untuk pertama kalinya aku berani bercanda dengan seorang namja selain Lee Hongki. Dan dia adalah Donghae.

“Kau mau kemana?? bagaimana kalau kita bermain di taman Seoul, pasti sangat menyenangkan” ucap Donghae tanpa beralih dari pandangannya ke arah jalan yang ada di depannya.

“Ide yang bagus, ayo kajjaa!!” teriakku dengan semangat lalu dengan tidak sengaja aku memegang erat tangan Donghae, mungkin ini karena gerakan reflek terlalu senang saja. Tapi sungguh hal ini sangat membuatku malu di depannya. Namun terlihat sekali Donghae hanya tersenyum melihat tingkah lakuku ini.

“Kau ini bersemangat sekali YoonA-ya sampai-sampai menggenggam erat tanganku” ucap Donghae dibarengi seringaian kecil yang keluar dari mulutnya.

“Ya..ya..ndo!!” teriakku tak terima karena ia terkekeh seperti itu ketika melihatku, sungguh aku sangat malu dibuatnya.

“Hahhahaha” teriak Donghae sejadi-jadinya karena melihat tingkahku yang memalukan ini-___-

at Taman Seoul

Kini aku dan Donghae sudah sampai di depan taman Seoul, 1 kata yang dapat mendeskripsikan taman ini.. INDAH. Pemandangan beraneka bunga yang ada disini ditambah dengan anak-anak kecil yang bermain-main di taman playground yang ada disini sangat menyenangkan. Disini juga banyak para pedagang yang menjual beraneka jenis makanan & minuman, ah lengkap sekali tempat ini. Aku pun yang sedari sempat tertegun dengan keindahan Taman Seoul disadarkan oleh seorang namja yang tak lain adalah Donghae.

“YoonA-si, kau mau es krim tidak??” tanya Donghae dengan sangat ramah kepadaku.

“Ah? ne gomawo oppa. Aku mau yang coklat hehe” ucapku sambil tersenyum-tersenyum sendiri, karna kalian tahu kenapa?? aku sangat menyukai es krim coklat. Dan ini lah saat yang tepat untuk bersantai sambil memakan es krim coklat hanya berdua saja dengan Donghae.

“Tunggu sebentar YoonA-ya” ucap Donghae sembari meninggalkanku perlahan dari dimana tempat aku duduk, yaitu di kursi taman.

Aku akhirnya memilih untuk menunggu Donghae disini sambil mengecek iphone5ku yang kumasukkan ke tas kulit putih yang sedari tadi bergantung di tanganku. Bermain game, memutar lagu, dll. Sudah 1 jam aku menunggu Donghae disini, namun ia tidak kunjung datang. Dimana dia?? kini perasaanku merasa tidak tenang, aku pun segera mencarinya ke seberang jalanan tempat pedagang es krim itu berjualan, walaupun sedikit jauh namun masih dapat tertangkap oleh indra penglihatanku. Eh kenapa disitu ramai?? aku pun dengan tergesa-gesa mendekati kerumunan tersebut, dan aku pun perlahan mendorong pelan orang-orang yang menutupi jalanku untuk mendekati seseorang namja yang kudengar tertabrak sebuah truk 1 jam yang lalu. Dan kalian pasti tidak percaya, namja itu membawa 2 es krim ditangannya dan ia memakai sebuah gelang yang sangat tidak asing bagiku.

“DONGHAEEEEE OPPA!!!”

TBC

Bagaimanaaa??? jelek kah baguskah??? mian sekali kalau masih ada typo-typo karena author juga manusia(?) XD XD author mau curhat nih #cieeee author curhatttt :p gini nih author butuh RCL please T^T author sangat membutuhkan RCL kalian, RCL terlalu muluk mungkin ya atau ga sekedar komen please untuk masukan-masukan. Dan ff ini mungkin akan dilanjutkan jika ada yang minta part 2 nya, semoga saja ada yang minta ya T^T Silahkan masukan komen para readers!! Your Comment = Oxygen for me T^T gomawo para readers :D Ohya catatan FF ini sengaja dibuat lebih sedikit dari part sebelumnya, supaya di next part bisa lebih banyak lagi. Mian kalau kurang memuaskan (?)

[FF] Your Love Change My World (Part 1)

Title : Your Love Change My World

Maincast : Im YoonA, Lee Donghae, Tiffany

Supportercast : temukan sendiri chingudeul XD XD

Genre : Romance, Life, Chapter

A/N : Halooo lohaaaaaaaaaa!^^ bertemu lagi dengan saya author whiteee13 😉 kali ini saya membawakan ff dari YonHae couple!! saya sedang mencoba untuk membuat ff dari semu couple yang ada(?) memang bias saya Cho Kyuhyun 😀 #author curhat kekekee~~ dan sudah dulu saya ber babibu.. cekidot ke imajinasi author yang menggila ini(?) XD XD

YoonA POV

Aku adalah mahasiswi semester 5 di Seoul University. Aku bukanlah yeoja yang mudah berteman dengan orang lain, bisa dikatakan aku kurang pandai bergaul. Memang aku termasuk salah 1 yeoja terpintar di kampus ini, bayangkan saja IP ku mencapai 4O. Fantastis bukan?? tentu saja. Aku mempunyai sahabat bernama Tiffany, dia adalah gadis yang cerdas dan pintar dalam bergaul dengan siapapun. Tidak seperti aku, aku kurang pintar dalam hal bergaul. Entah kenapa aku lebih menyukai keberadaanku yang tidak diketahui oleh banyak orang. Sampai suatu saat aku mengenalnya, namja yang membuat kehidupanku tiba-tiba berubah. Namja itu bernama Lee Donghae, dia adalah sunbaeku di universitas ini. Ia adalah namja pindahan dari Kyunghee University, dan ia mengambil jurusan teater dan seni.. sama denganku. Aku benci mengakui ini semua, bahwa aku mulai menyukainya ani bahkan mencintainya. Perasaan yang sudah 5 tahun tidak pernah kurasakan, kini datang kembali menghampiriku. Aku menjadi mengingat cinta pertamaku, ia adalah Jae Bi. Kalian tahu?? wajahnya dengan Donghae sangat lah mirip, benar-benar mirip. Mungkin alasan ini kah yang membuatku jatuh cinta kepada Donghae?? ah molayo aku tidak tahu. Tiffany sama sekali tidak mengetahui perasaanku kepada Donghae, entah kenapa aku belum siap untuk menceritakan ini semua kepadanya. Sebenarnya aku benci membahas tentang cinta, bagiku cinta sangat memusingkan. Tapi entah mengapa kini aku malah merasakan apa makna dari kata terkutuk tersebut, menjijikan sekali. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa, perasaanku kepadanya semakin hari semakin bertambah.

“Hey YoonA, apa yang kau lamunkan huh??” tanya Tiffany sambil menampilkan raut ingin tahu diwajahnya.

“Aniyo Tiffany, aku hanya sedikit lapar. Ayo kita ke kantin” ajakku sambil menarik tangannya keluar dari kelas kami.

“Pantas saja kau seperti itu, ayo kajja!!” ucap Tiffany semangat lalu menyunggingkan senyum eye smilenya, senyum yang sangat khas dari seorang Tiffany Kim.

“Hey YoonA lihat itu, dia sangat tampan bukan??” tanya Tiffany sambil menyenggol pinggulku lalu mengarahkan tangannya ke arah seorang namja yang sangat kukenali.

“Nde?? ah ne” ucapku datar berusaha tidak membuat Tiffany curiga dengan kelakuanku.

“Tentu saja, ia adalah oppa sepupuku YoonA. Apakah kau sama sekali tidak tahu?? wajahmu tadi terlihat polos sekali, seakan-akan kau tidak tahu kalau aku ini adalah adik sepupunya” balas Tiffany sambil menahan tawanya karena ekspresiku yang menurutnya sangat lucu untuk ditertawakan.

“MWO?? KAU SERIUS TIFFANY?? KAU TIDAK BERCANDA KAN??” ucapku seraya memelototkan mataku padanya seakan-akan tidak percaya dengan apa yang dia katakan.

“Kau belum percaya?? baiklah akan kubuktikan. Donghae oppa!!” ucap Tiffany lalu memanggil Lee Donghae namja yang aku sukai ani ralat bahkan sangat aku cintai walaupun belum pernah mengenalnya lebih jauh.

“Ne?? ada apa Tif?? kenapa kau memanggil oppa??” balas Donghae sambil mengulum senyum terindahnya diatas bibir tipisnya itu.

“Aniyo, nih oppa aku ingin mengenalkanmu dengan sahabatmu. YoonA, cepat perkenalkan dirimu” ucap Tiffany sambil menginjak kakiku dengan high heels tinggi yang ia kenakan itu.

“Yak!! appo Tiffany baboya!!” teriakku kepadanya karena kakiku denga sukses diinjak olehnya.

“Ah mian YoonA hehe” ucap Tiffany dengan tampang tak berdosa.

“Lee Donghae imnida, nice to meet you” ucap Donghae padaku sambil menjulurkan tangannya dan sontak aku pun membalasnya.

“Ne, Im YoonA imnida. Nice to meet you too” ucapku sambil memberikan senyum terbaikku, proses salaman(?) itu berlangsung cukup lama sampai Tiffany…

“Ehemmm…” ucap Tiffany sambil nyengar-nyengir kuda sendiri melihat kelakuan kami berdua.

“Ah mian hehe” ucapk kami berbarengan sambil menundukan badan yang membentuk sudut 90 derajat.

“Kalian ini terlalu sungkan, dan liat wajah kalian berdua.. benar-benar merahh semerah tomat kekekke~” ucap Tiffany dengan nada menggoda kami berdua, kami pun salah tingkah akibat ulah Tiffany.

“Kalian ini lucu sekali, sudah ayo kita makan bersama. Kajja!!” lanjut Tiffany sambil menarik tanganku dan Donghae berbarengan, kini benar-benar kurasakan udara disekitarku semakin memanas.

Akhirnya kami bertiga pun makan bersama disalah satu meja di kantin ini. Banyak para yeoja yang terlihat tidak senang dengan Tiffany maupun aku. Aku risih dengan suasana seperti ini.

“YoonA-ya, sudah biarkan saja mata para yeoja yang tidak senang dengan kita. Sekarang kau mau pesan apa??” ucap Tiffany sambil memberikan senyum tipisnya kepadaku.

“Ah aniyo gwenchannayo, hmmmm aku ingin Kimchi” ucapku dan Donghae berbarengan, huh?? Donghae?? ia memesan makanan yang sama denganku?? ah lucu sekali bisa seperti ini.

“Terus minumnya apa??” tanya Tiffany kepada kami berdua yang kini sedang sibuk dengan pikiran kami masing-masing.

“Aku ingin green tea hangat saja” ucap kami berbarengan lagi. LAGI?? ah semakin aneh saja kami ini.

“Ya! kalian berdua ini belum menjadi sepasang kekeasih saja sudah kompak melulu, gimana kalau jadi kekasih ya?? kekeke” balas Tiffany sambil terngakak guling-guling(?) didepan kami.

“Ah kau ini!!” ucap kami berbarengan lagi. LAGI?? ah aku semakin bingung dengan semuanya-__-

“Hahahaha kan kalian saja memarahiku berbarengan, kalian ini lucu sekali. Cepatlah jadian!! aku mendukung hubungan kalian!!” ucap Tiffany sambil mengangkat kedua tangannya dan memberikan aba-aba “Fighting!!”

“Pleatkkkk!!” jitakan kami mendarat mulus diatas kepala Tiffany. KAMI?? lagi-lagi bersamaan dengan Donghae-___-

“Aw!! appo!! yak!! kalian ini menjitakku saja barengan, sakit tau!! tapi tak apa deh, kalian kan emang satu hati” ucap Tiffany diawali dengan raut cemberut namun diakhirnya ia mengeluarkan nyengir kudanya.

“TIFFANYYYYYY!!” teriak kami berdua sejadi-jadinaya.

“Peace qaqa” ucap Tiffany sambil jarinya membentuk huruf “v”._.v

Donghae POV

Tiffany hari ini sukses membuatku malu setengah hidup(?) didepan YoonA. Hey YoonA adalah yeoja yang sangat cantik, manis dan juga yeoja yang sangat cerdas. Tentunya dia adalah yeoja yang sangat baik, entah aura malaikat(?) dari mana aku sangat nyaman jika berada dengannya. Wajahnya menyinarkan sinar yang benar-benar menyejukkan bagi orang yang melihatnya tak terkecuali aku. Mungkin itu adalah aura dewi. Sejak pertama kali bertemu dengannya, entah bagaimana jantungku berdetak 100 kali lebih cepat dari biasanya. Inikah yang dinamakan cinta?? molayo aku juga bingung, maklum saja aku tidak pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya. Seharian ini aku selalu memikirkannya. Sebenarnya aku ingin sekali menanyakan semua tentang YoonA kepada Tiffany, tapi tidak mungkin.. lihat saja tadi aku sudah di ledekin terus olehnya?? bagaimana kalau ia tahu kalau aku menyukai YoonA?? habislah aku. Tiap hari pasti aku akan diledek olehnya. Tapi.. aku juga tidak bisa terlalu lama menyimpan perasaan ini kepada YoonA, harus secepatnya aku memacari YoonA. Aku takut ia akan terlebih dahulu diambil oleh orang lain, dan aku tidak mau hal seperti itu terjadi kepadaku. Membayangkannya saja aku tak sanggup, apalagi untuk merasakannya. Dengan berat hati aku meminta bantuan dari Tiffany, dari pada perasaanku tidak karuan seperti ini. Sungguh aku benar-benar ingin memiliki YoonA. Aku pun menelpon Tiffany..

“Tif, mari kita bertemu. Jam 8 malam di Kona Beans” ucapku sambil menstabilkan suaraku yang tadi sempat panik.

“Mwo?? ada apa?? tumben sekali kau mengajakku bertemu” ucap Tiffany yang terdengar heran dengan permintaanku ini.

“Ah ada seseuatu yang penting yang ingin kubicarakan, dan hal itu tidak bisa dibicarakan ditelepon. Kita harus bertemu” ucapku dengan lugas kepada Tiffany.

“Hmm baiklah. Jangan telat, aku benci orang telat” ucap Tiffany dari seberang sana lalu menutup sambungan telepon kami.

Still Donghae POV

Ya Tiffany ini lama sekali, dia bilang dia benci orang telat tetapi sendirinya orang yang suka telat. Yeoja payah. Kringgg… pasti itu dia, benar saja itu adalah Tiffany. Sudah kusiapkan amukan untuknya karena telat datang, bayangkan saja aku sudah 1 jam menunggu disini untung saja aku membawa ipadku jadi selama aku menunggunya aku memainkan game di ipad putihku ini.

“Kau bilang kau benci menunggu?? cih.. nyatanya kau sendiri ngaret waktu” ucapku dengan senyuman asam kepada Tiffany.

“Mian, tadi ban mobilku bocor makanya aku telat datang. Lagi pula aku kan sudah sampai disini, dasar tak tahu diri kau ini” ucap Tiffany dengan nada ketus kepadaku.

“Yak!! kenapa kau yang marah huh??! harusnya aku yang marah karena kau telat” balasku dengan nada bicara yang tidak terima dengan perkataan Tiffany barusan.

“Sudahlah tak usah dibahas, sekarang kau ingin berbicara apa denganku huh??” ucap Tiffany dengan mulut yang dikerucutkan.

“Begini, aku ingin menanyakan tentang YoonA. YoonA itu yeoja seperti apa?? sepertinya menyenangkan berteman dengannya” tanyaku dengan nada yang sedikit ragu, karena takut Tiffany akan meledeknya seperti tadi pagi di sekolah.

“Hmmm Tentu saja. YoonA adalah yeoja yang baik. Dia yeoja yang cerdas dan canti ani sangat cantik aku pun mengakui kecantikannya. Namun ia adalah tipe orang yang cukup sulit bergaul” ucap Tiffany dengan sedikit menggantungkan kata-kata “cukup sulit bergaul”.

“Mwo?? kenapa bisa begitu huh??” tanyaku penasaran dengan cerita Tiffany.

“Setahuku dia dahulu pernah dihianati oleh sahabatnya sendiri, dan sahabatnya itu merebut namjachingunya. Makanya ia sukar untuk bisa bergaul dengan luas, dan seingatku ia juga benci dengan kata-kata cinta karena kejadian itu” ucap Tiffany dengan seksama menjelaskan.

“Kasihan sekali dia, tapi kalau boleh tahu awalnya kenapa sahabatnya bisa berselingkuh dengan kekasihnya sendiri. Mian kalau aku terlalu ingin tahu jauh mengenai kehidupan YoonA” ucapku hati-hati karena tak ingin membuat Tiffany salah paham.

“Tenang saja tak apa, aku juga tahu kalau kau mencintai YoonA. Benar bukan?? ayo jujur saja denganku” ucap Tiffany tenang tanpa sedikit pun tersirat nada ledekan disetiap kata-kata yang keluar dari mulutnya.

“Ne benar, aku mencintai YoonA sejak pertemuan pertama kami Tiffany-ya. Bisakah kau ceritakan tentang mantan kekasihnya itu??” ucapku dengan sedikit memperlembut suaraku.

“Baiklah aku akan menceritakannya padamu” ucap Tiffany dengan menunjukkan wajah seriusnya, sangat jarang sekali aku melihat wajah serius dari Tiffany.

“Begini, dahulu YoonA memiliki seorang namjachingu dan namanya adalah Jae Bi.. Park Jae Bi. Dia sangat tampan dan baik, namun pada suatu saat YoonA melihat namjachingunya itu melakukan hal “itu” dengan sahabatnya sendiri. Nama sahabatnya itu adalah Cho Eunji. YoonA sangat terpukul dengan kejadian itu, ditambah lagi ternyata ayahnya mengalami kecelakaan mobil saat berada di daerah Busan menuju Seoul dan ayahnya terbakar bersamaa mobil tersebut. Kedua hal tersebut membuat YoonA mengalami keterpurukan mental yang cukup lama. Aku pun bisa menjadi sahabatnya membutuhkan waktu yang sangat lama. Kau mau tahu?? aku baru menjadi sahabatnya setelah kami berteman selama 5 tahun. Namun sekarang menurutku ia sudah lebih baik keadaannya dari pada sebelumnya. Dan kukira sekarang ia mulai menyukai namja” ucap Tiffany panjang lebar mengenai masalah yang pernah menimpa YoonA.

“Mwo?? apa katamu barusan?? ia menyukai seorang namja?? nugu??” ucapku dengan cepat tanpa memberikan jeda disetiap katanya.

“Tentu saja kau Lee Donghae oppa, masa kau tidak menyadarinya?? dasar namja pabo” ucap Tiffany datar sambil memainkan iphone5 yang baru dibelinya.

“JEONGMAL?? KAU TIDAK SEDANG BERCANDA KAN TIFFANY??” ucapku sedikit diperbesar meyakinkan akan perkataan Tiffany barusan.

“Untuk apa aku bercanda huh?? dari tingkah laku kalian berdua saja aku bisa tahu kalau kalian berdua itu saling menyukai satu sama lain. Ternyata kau namja yang tidak peka ya Donghae oppa” ucap Tiffany sambil mengeluarkan senyum manis dibibirnya.

“Ah ternyata kau sangat pandai soal cinta, tapi kenapa kau belum mendapatkan namjachingu huh??” tanyaku dengan mengeluarkan seringaian nakalku.

“Yakkk oppaa!! kau ingin meledekku huh??! aku hanya belum mendapatkan namja yang cocok denganku. Aku butuh waktu” ucap Tiffany dengan wajah yang lecek bagaikan baju yang tidak disetrika oleh pemiliknya kekekeke.

“Ah aku hanya bercanda Tiffany-ya, jangan marah. Kau terlihat sangat jelek jika kau memanyunkan bibirmu itu hehe” ucapku dengan sengaja menggoda Tiffany, karna bagiku menggoda Tiffany adalah sebuah keharusan bagiku.

“YAK NDOOO!!! TAK AKAN KUAMPUNI KAU LEE DONGHAE!!!

YoonA POV

Ah hari ini aku ada kelas teater bersama dengan para sunbaeku. Ah sungguh malas sebenarnya, mengingat aku buruk dalam hal bergaul dengan orang lain. Seharusnya ada Tiffany, tapi hari ini ia mengambil kelas siang karena kudengar ia kelelahan kemarin. Sedangkan aku siang tidak bisa karena aku harus menjemput adikku pulang. Aku memang hanya tinggal bersama adikku mengingat hyungku dan noonaku yang bersekolah di Paris. Sedangkan eommaku sibuk mengurus perusahaan appa, sehingga kami hanya bisa bertemu 1 bulan hanya sekali. Dan itu pun sering ia tidak bisa kembali karena  alasan banyak perkerjaan yang harus diselesaikannya di Amerika. Memang aku dan adikku disini hidup dengan sangat berkecukupan tapi bagiku kasih sayang lah yang aku butuhkan sekarang ini, bukan materi atau harta. Lee seosengnim pun masuk ke kelas kami sambil membawa tumpukan buku yang sangat banyak, dan kupastikan buku-buku itu adalah sebuah skenario drama. Dan benar saja, hari ini Lee seosengnim membagi muris-murid di kelas ini menjadi beberapa kelompok. Dan ternyata aku sekelompok dengannya, siapa lagi kalau bukan Lee Donghae.. namja yang aku sukai ani aku mencintainya. Aku sekelompok dengan Park Nari, Kim Ji Eun, Lee Hong Ki, Kang Tae Hwang, Lee Donghae, Han Jae Sang,  Cho Yong Dae, Lee Ji Eun, Kim Hyoyeon, dan Kwon Yuri. Kami diberi naskah sebuah drama dari “Princess Hours” dan aku sangat senang karena drama ini merupakan drama yang sangat aku sukai. Kami pun memulai membagi peran dalam cerita drama ini.

Prolog

Dan mereka membagi peran mereka masing-masing, mulai dari YoonA. YoonA menjadi Han Chae Kyung, sedangkan Lee Donghae menjadi Lee Shin serta Kwon Yuri menjadi Min Hyorin. Lee Hong Ki pun menjadi Lee Yul. Lalu 6 orang yang lainnya hanya menjadi pemain pembantu saja, maksudnya pemain pambantu dari 4 pemain utama. Di dalam drama ini dosen hanya menyuruh mereka untuk menjadi pemain-pemain yang mengambil inti dari drama ini sehingga tak perlu banyak orang dalam setiap kelompoknya. Karna drama ini juga hanya sekedar ditampilkan untuk diatas panggung, dan dilakukan secara musikal. Mereka hanya diberikan waktu 2 bulan untuk mempelajari naskah itu, dan waktu tersebut bukanlah waktu yang lama.. benar bukan?? tentu saja. Belum lagi mereka disibukkan oleh tugas dari masing-masing dosen yang lainnya, jika mengingat hal itu pasti mereka akan pusing 7 keliling #sok tau nih authorrrrr-___- #salah mulu ya kayanya authorrrrrrrr, back to story!. Dan kini para kelompok sedang membicarakan tentang drama ini masing-masing.

Author POV

“Semuanya, apakah kalian hari ini bisa datang untuk latihan drama??” tanya YoonA sambil menyunggingkan senyum manisnya yang sedari terpampang, entah apa yang ia pikirkan sekarang ini.

“Bisa kami hari ini tidak ada acara apapun. Tapi dimana??” ucap yang lainnya sambil menengok kanan-kiri memastikan tidak ada orang yang tidak menyetujui latihan mereka hari ini.

“Hmm bagaimana kalau di gedung milik keluargaku, kukira gedung itu cukup besar untuk dijadikan tempat berlatih” ucap YoonA dengan pelan, karena ia tidak ingin di anggap sombong oleh teman-temannya bahkan sunbae-sunbaenya.

“Ide yang bagus YoonA, yang kutahu gedung milik keluargamu besar sekali” teriak Lee Hong Ki nampak bersemangat karena memang ia sudah mengetahui gedung apa yang dimaksud YoonA.

“Yak!! kecilkan sedikit suaramu??!” bentak YoonA kepada Hong Ki, karena ia tidak enak dengan teman-teman diseklilingnya yang mendengar ucapan sahabat lelakinya itu.. bagaimana pun YoonA adalah mahasiswi yang tidak suka memamerkan kekayaannya.

“Hehe mian YoonA, aku tidak bermaksud seperti itu” ucap Hong Ki dengan jari membentuk “v”, dan Ohya kalian pasti tentu belum mengetahui tentang Hong Ki bukan?? Hong Ki adalah sahabat YoonA sejak TK, dan Hong Ki juga adalah orang pertama yang mengetahui situasi keadaan YoonA sejak kecil sebelum Tiffany. Jadi tidak heran jika YoonA dan Hong Ki sangat dekat. Keluarga YoonA pun berkrabat akrab dengan keluarga Hong Ki.

“Sudah-sudah kalian ini, baiklah jalan dimana gedung itu berada dimana YoonA??” tanya Donghae sambil memutar-mutarkan pena biru diatas jari-jarinya yang lentik itu.

“Di Jl. Myeongdeong no. 13, Seoul. Kita mau latihan jam berapa??” ucap Yoona sambil menaruh kepalanya diatas pangkuan tangannya.

“Kalau jam 2 bagaimana?? ini kan sudah jam 12” usul Donghae sambil membuka selembaran-selembaran skenario yang sedari tadi sudah dipegangnya.

“Baiklah kami setuju!!” ucap para anggota kelompok Donghae yang lain berbarengan.

“Baiklah, akan aku tunggu kalian pukul 2 siang” ucap Yoona sembari mengulum senyum yang sedari tadi berubah menjadi wajah kecut karena kelakuan Hong Ki tadi.

“Jangan lupa makan dan minuman ya YoonA hahaha” ucap Hong Ki dengann diiringi ucapan setuju oleh teman-teman dan sunbaenya yang sekelompok dengannya.

“Arra, tenang saja” ucap YoonA sambil membernarkan posisi duduknya.

“Kekeke YoonA deer sangat baik ya hehe” ucap Hong Ki sambil mengelus puncak kepala YoonA, dan entah sedari kapan Donghae mulai gerah melihat perlakuan Hong Ki kepada YoonA. Didalam pikiran Donghae saat ini, ia harus segera bertanya kepada Tiffany mengenai siapa Hong Ki.. mungkin kemarin Tiffany lupa memberitahunya tentang namja ini.

“Wah bel sudah berbunyi, baiklah sampai bertemu nanti” ucap teman-teman dan sunbae-sunbae yang sekelompok YoonA, kecuali Donghae namja yang sedari tadi masih berkutat dengan pemikirannya yang membuatnya berpikir keras.

YoonA POV

Kenapa Donghae, apakah ia pusing dalam memerankan tokoh Lee Shin dalam film ini?? tentu saja. Tapi setahuku Donghae sangat berbakat dalam dunia akting, aku yakin dia pasti dapat memahami tokoh Lee Shin.. kalau begitu apa yang dipikirkannya?? ia terlihat sangat berpikir keras. Ah lebih baik aku tanya saja, siapa tahu benar dugaanku.

“Donghae oppa, kau kenapa?? apa ada yang bisa kubantu??” tanyaku dengan pertanyaan bertubi-tubi, terlalu berlebihankah aku?? ah molayo, dari pada perasaanku tidak tenang seperti ini.

“Ahh aniyo, aku hanya berpikir tentang karakter tokoh yang kumainkan ini. Mungkin akan sulit” ucap Donghae dengan cepat lalu membuyarkan lamunannya karena mengetahui aku sedang berbicara dengannya.

“Ah soal drama ini, aku yakin kau bisa. Percayalah Donghae oppa” ucapku dengan mengepalkan kedua tanganku lalu melayangkannya ke udara dan memberikan senyuman lebar dibibirku ini.

“Ah gomawoyo YoonA-ya. Maukah kau menemaniku membaca skenario ini bersama-sama?? mungkin jika bersama-sama akan sedikit bisa membantuku” ucap Donghae lalu mulai membuka lembar pertama dari naskah yang sedari tadi ia gulung-gulung tersebut.

“Boleh, lagi pula aku ingin mendalami karakterku menjadi pasanganmu” ucapku dengan cepat, dan seketika itu pula aku merutuki apa yang baru saja aku katakan.

“Huh??” gumam Donghae lalu mengambil botol pocari sweat dingin yang sedari tadi ada di pangkuannya, dan meminumnya.

“Aniyo, maksudku aku akan berusaha mendalami karakterku di dalam drama ini” ucapku dengan nada yang sedikit panik, dan kupastikan wajahku kini pasti sudah semerah tomat.. ah bodoh sekali kau ini YoonA, rutukku dalam hati.

“Ah ne. Chakamman, kenapa denganmu?? apakah kau flu?? pipimu mengeluarkan semburat merah YoonA-ya” ucap Donghae sambil menatap intens kearahku lalu menaruh telapak tangannya di pelipisku.

“Aniyo aku hanya merasa dingin, mungkin akibat musim salju” ucapku dengan setenang mungkin untuk menghindari resiko Donghae akan mengetahui kalau aku mengeluarkan semburat merahh karena ucapan memalukanku tadi. Untung saja sepertinya ia tidak mendengarnya.

“Baiklah, ini pakai saja jaketku” ucap Donghae kepadaku sambil menyunggikan senyum yang sangat menawan di bibir tipisnya itu.

“Ah aniyo, gwenchannayo” ucapku menolak usaha Donghae untuk meminjamkan jaketnya kepadaku.

“Tak apa, cepat pakai. Nanti kau malah bertambah kedinginan, aku tidak apa-apa seperti ini. Lagi pula aku malah akan bertamabah sexy hahaha” ucap Donghae lalu mengusap puncak kepalaku, ah aku sangat malu karena perlakuannya terhadapku.

“Ah ne, gomawoyo oppa” ucapku sambil membenarkan jaketku yang baru saja dipakaikan oleh Donghae ditubuhku, ah sangat hangat dan nyaman sekali. Dan kalian tahu?? Donghae sekarang hanya menutupi absnya dengan baju berwarna abu-abu dengan potongan di lengannya sehingga menampilkan otot-otot yang ada di lengan tangannya. Sangat tampan batinku. Ah tapi kau tidak boleh salah tingkah YoonA karna melihat penampilannya kini.

“Cheonmaneyo YoonA-ya, ayo kita mulai membaca bersama-sama naskahnya” ucap Donghae sambil mencubit gemas pipiku dan atas perlakuannya ini seketika udara disekitarku memanas, ah aku bingung aku harus melakukan apa supaya aku tidak selalu seperti  ini dihadapannya.

“Baiklah, kita lihat cerita singkatnya dahulu ya. Baru karakter setiap tokohnya masing-masing. Arra??” ucapku dengan memberikan winkku kepadanya, ah aku bertambah malu sekarang ><

Princess Hours ini mengisahkan kehidupan seorang gadis (Han Chae Kyung) dari kalangan rakyat biasa yang harus menikah dengan seorang Putera raja (Lee Shin) karana desakan ekonomi dan janji yang pernah dibuat oleh keluarga Han Chae Kyung dengan keluarga diraja. Pernikahan ini harus terjadi karana desakan keluarga diraja yang harus segera mengisi posisi calon raja kerana raja yang sekarang sedang dalam keadaan tidak sihat. Proses untuk menjadikan Han Chae Kyung sebagai calon permaisuri menjadi babak lawak. Namun karena sifatnya yang selalu ceria membuat dia diterima oleh pihak kerajaan. semasa pernikahan mereka datanglah Lee Yul, setelah 14 tahun meninggalkan Korea dengan ibunya Yul, sebenarnya Lee Yul juga adalah seorang putera raja, yang akan menjadi persaingan calon raja korea. Kisah menjadi lebih menarik setelah bekas kekasih Lee Shin yaitu Min Hyo Rin seorang penari balet sturut kembali ke korea dan ingin kembali bercinta dengan Lee Shin. Namun disatu sisi lain Lee Shin secara diam-diam mulai mencintai Han Chae Kyung. Han Chae Kyung pun sebaliknya merasakan perasaan tersebut sejak lama, namun ia tidak berani menunjukan sikap perhatiannya dengan Lee Shin. Dan ternyata Lee Yul sejak pertama mengenal Chae Kyung sudah sangat menyukainya, perasaan itu semakin lama semakin tumbuh menjadi rasa cinta. Namun kembalinya ibu Lee Yul bersamanya tidak hanya sekedar hanya kembali namun memiliki sebuah rencana jahat yang ingin ibunya lakukan untuk menghancurkan keluarga kekaisaran dan merebut kembali semua apa yang seharusnya menjadi miliknya jika suaminya tidak meninggal. Saat pertemuan awal Lee Shin dan Chae Kyung, mereka selalu bertengkar. Mungkin dari kebiasaan itu lah tumbuh perasaan cinta dalam diri mereka masing-masing, perasaan benci berubah mennjadi cinta.. lucu bukan?? ini lah yang mereka alami. Di akhir episode mereka akhirnya bahagia bersama walaupun melewati banyak rintangan yang ingin mengkandaskan kisah cinta mereka namun mereka bisa melewatinya. 

“Sangat mengharukan sekaligus membahagiakan sepertinya” ucap Donghae yang masih fokus dengan sinopsis dari naskah yang sedang dipegangnya.

“Tentu saja, sangat mengharukan dan juga membahagiakan.. lucu dan romantis. Semua paket lengkap dalam drama ini” ucapku dengan wajah yang berseri-seri.

“Ne, aku pernah menontonnya namun tidak sampai habis. Sayang sekali” ucap Donghae lalu mulai menatap dalam manik mataku dan sangat sukses membuatku habis kata untuk membalas perkataannya.

“A..ah ne sayang sekali” ucapku dengan sedikit terbata-bata, dan tiba-tiba #brukkkkkkkkkkk ada seseorang yang menabrakku dan kini kurasakan tangan kekar seseorang telah bertengger dipinggangku dan mata kami saling bertemu, sangat terasa hembusan nafas hangatnya yang menerpa wajahku.. dan ternyata dia adalah.. deggg….

“Kau tidak apa-apa YoonA-ya??”

TBC

Bagaimanaaa??? jelek kah baguskah??? mian sekali kalau masih ada typo-typo karena author juga manusia(?) XD XD author mau curhat nih #cieeee author curhatttt :p gini nih author butuh RCL please T^T author sangat membutuhkan RCL kalian, RCL terlalu muluk mungkin ya atau ga sekedar komen please untuk masukan-masukan. Dan ff ini mungkin akan dilanjutkan jika ada yang minta part 2 nya, semoga saja ada yang minta ya T^T Silahkan masukan komen para readers!! Your Comment = Oxygen for me T^T gomawo para readers 😀

[FF] Can You Remember Me?? (Part 1)

Title : Can You Remember Me??

Author : whiteee13

Maincast : Shin Chae Jin (You) , Cho Kyuhyun, Lee Donghae, Shin Chae Rin

Supportercast : cari sendiri ya XDD

Genre : Romance, Life, Sad

Length : Chapter

A/N : Lohaaa lohaaa!!! ga usah banyak ba bi bu lagi, ayo kita mulai berimajinasi di dunia author! ^^

Author POV

Tubuh mungil Chae Jin kini baru saja tiba di kota kelahirannya Seoul. Chae Jin adalah seorang lulusan dari bidang seni lulusan Paris dengan nilai terbaik seuniversitasnya. Hari ini memang Chae Jin belum memiliki tujuan yang jelas, yang ada dipikirannya sekarang adalah dia harus segera cepat-cepat beristirahat karena tubuhnya mulai terasa sangat remuk (?). Dengan cepat ia menarik koper ungu yang tidak terlalu besar ke dalam taksi. Ia memberikan alamat dimana ia akan pergi, maklum saja karna orang tuanya itu baru saja pindah rumah saat Chae Jin berada di Paris jadi Chae Jin tidak mengetahui dimana persisnya rumah orang tuanya berada. Sambil menikmati pemandangan kota Seoul, tak lupa ia memutarkan beberapa lagu kesayangannya dari mp4 ungu yang selalu menemaninya. Setelah kurang lebih 20 menit ia menikmati pemandangan Soeul dari balik kaca taksi yang ia tumpangi, akhirnya ia sampai di sebuah rumah besar berwarna putih.

Shin Chae Jin POV

Wah neommu yeoppo, apakah ini rumahku? tanyaku dalam hati. Eomma sangat sudah bekerja keras untuk menghidupiku dan juga Shin Chae Rin dongsaengku. Kalian bertanya-tanya dimana appaku? appaku sudah meninggal 6 tahun yang lalu, ia mengalami kecelakaan pesawat ketika ia ingin kembali ke Seoul. Maklum ia sangat sibuk jadi dalam 1 minggu ia dapat pergi ke 4 negara. Ya namun ia sedang bernasib buruk saat itu, dan ia dikabarkan mati seketika di dalam Pesawat. Ah aku sangat terpuruk dengan keadaan itu, namun akhirnya kuputuskan untuk berguru di kota mode dunia tersebut. Sebenarnya berat cukup berat meninggalkan kota Seoul, terutama meninggalkan dongsaeng kesayanganku. Ia pun dititipkan kepada bibi Lee, ia sudah kami anggap seperti bibi kami sendiri. Ia sudah bekerja dengan orang tuaku semenjak aku belum lahir ke dunia ini, sudah lama bukan? tentu saja. Aku pun masuk ke rumah putih tersebut, di dalam rumah itu benar-benar sangat mengagumkan. Aku sangat salut kepada eommaku yang satu ini, memang ia memiliki selera yang tinggi sepertiku. Mulai kulangkahkan kaki jenjangku memasuki satu persatu ruangan yang ada di rumah ini, nampaknya tidak ada orang. Apa bibi sedang ke pasar? ah mola aku tidak tahu. Namun bisa kupastikan aku tidak salah masuk rumah, karena di ruang keluarga banyak foto-fotoku saat kecil dan foto-foto anggota keluargaku. Ah aku sangat merindukan mereka semua. Lalu kudengar sebuah suara perempuan yang kukenal seperti suara bibi Lee, waaa!! bibi Lee! sudah lama kita tidak bertemu! nan bogoshipeoyoo. Kau sudah besar ya Chae Jin, dan tentunya bertambah yeoppo, ucap bibi Lee sambil mengusap puncak kepalaku dengan gemas. Kau juga bibi, kau masih saja terlihat muda, kau melakukan operasi plastik dimana? ucapku terkekeh dan lantas segera mendapatkan jitakkan keras di kepalaku. Ah appo! aku hanya bercanda bibi Lee hehe ucapku sambil mengacungkan kedua jariku dan membentuk tanda._.v peace disana. Dimana Chae Rin? apakah ia belum pulang bi? tanyaku sambil memainkan handphone iphone5ku #authorrr galau tingkat dewaaaaaa. Ya kau sangat merindukanku ya? sampai kau menanyai tentang diriku hah? suara yang sangat familiar denganku, Chae Rin-ya!. Dasar kau dongsaeng nakal, sejak kapan kau bersembunyi di belakang situ huh? ucapku kaget sambil mencubit pelan pinggangnya. Appo!! dasar eonni, sifat galakmu tak pernah berubah ya!-__-. Kau nappeun dongsaeng, #pletakkkkkkkkk #dziengggggggggg

Shin Chae Rin POV

Eonniku yang satu ini memang sangat menyebalkan. Kami berdua adalah kembar, namun ia lebih memilih untuk pergi ke Paris melanjutkan sekolahnya. Tentu saja ia mampu, ia terkenal dengan kepintaran dan kecerdasannya. Terbalik sekali denganku, aku bisa dikatakan bodoh dalam mata pelajaran tertentu. Walaupun nilaiku diatas rata-rata, tapi aku tetap saja dengan eonniku yang yeoppo ini. Ia tidak hanya pintar, tetapi ia juga neommu neommu yeoppo. Apa lagi sekarang? omo…. kecantikannya semakin berkali-kali lipat 100 x #authoorrrr lebayyyyyyy. Iya kembali ke Korea Selatan rencananya untuk mengikuti sebuah audisi di sebuah manajemen artis, ia bilang kalau ia sekedar ingin menambah pengalaman barunya di Seoul.

Aku dan eonniku memang hanya berbeda 5 menit, namun aku tetap saja harus memanggilnya eonni, semua itu karna perintah orang tuaku. Tapi karena aku anak yang baik, manis, rajin menabung (?) jadi aku turuti saja kemauan mereka. Lagi pula eonniku baik padaku, ani sangat baik bahkan. Apa pun dia lakukan demi kebahagiaanku, namun setelah ia pergi ke Paris aku sudah lama tidak merasakan kasih sayang darinya, aku sangat merindukannya!!

Cho Kyuhhyun POV

Apakah tidak ada sedikit waktu untuk berlibur huh?? aku sangat muak dengan kertas-kertas dan map-map yang menumpuk di meja kerjaku. Akhirnya pukul 12 juga, aku akan segera ke Coffe tempat eommaku kebetulan ia menyuruhku untuk datang kesana. Segera kubereskan meja kerjaku dan mengambil kunci mobil yang berada di saku jas hitamku. Ah aku sangat lelah, tiba-tiba saja iphone5ku berdering memutar lagu Bittersweet  yang menandakan sebuah panggilan terlihat di layar bening dan tertulis nama Donghae nemo #peaceeee._.v lalu kuangkat telpon tersebut tentunya dengan menggunakan headset yang menempel dikedua telingaku.

“Yeobbosseyo” suara nyaring Donghae yang terdengar dari seberang sana.

“Yeobbosseyo, waeyo nemo?” tanyaku langsung to the point, maklum saja aku bukan tipe orang yang suka berbasa-basi.

“Hmmm bisakah kita bertemu Kyu? di coffe eommamu mungkin? aku ingin berbicara sesuatu yang penting kepadamu” ucap Donghae dengan nada yang cukup serius.

“Ya! tumben sekali kau serius hahaha waeyo? hal apa yang membuatmu serius seperti ini” ucapku sambil terkekeh mendengar suara Donghae yang menurutku cukup serius, tentu saja aneh menurutku.. seorang Donghae jarang sekali bersikap serius seperti itu.

“Yak!! aku mempunyai informasi penting untukmu! aishh kau malahh menertawaiku, sudah ppailli!! kutunggu kau di coffe bean!” ucap Donghae yang terdengar sedikit kesal dengan ejekanku barusan.

“Ne, arra arra. Chakkammannyo. Aku sudah di jalan” ucapku sambil fokus terhadap jalanan yang ada didepanku.

“Baguslah, kutunggu!” ucap Donghae yang langsung mematikan telponnya tuttt.. tuttt…

Apa yang ingin dibicarakannya denganku? tapi dari nada suaranya hal yang ingin dibicarakan Donghae adalah hal yang cukup serius, ah molaaa lihat saja nanti. Tapi kalau boleh jujur ada suatu perasaan yang mengganjal hatiku untuk membuatku penasaran dengan apa yang ingin dikatakan Donghae. Hal ini sangat langka terjadi.

at Kona Beans

Author POV

Suara lonceng berbunyi, dan tandanya ada seseorang yang masuk ke dalam Coffe ini. Seseorang itu adalah Cho Kyuhyun, ia adalah anak dari pemilik Coffe Bean ini. Ya memang dia sangat kaya dan 1 hal yang tidak bisa dihapuskan dari seorang Cho Kyuhyun, dia memiliki wajah yang tampan ralat sangat tampan. Semua mata kini tertuju padanya, pada sosok tinggi tegap yang memakai kacamata hitam pekat miliknya tak lupa juga ia menyertakan topi hitam di atas kepalanya. Dan perlu kalian tahu, Kyuhyun adalah salah satu member dari boyband Super Junior. Boyband yang paling terkenal di Korea, bahkan di dunia. Wajar saja banyak perempuan yang tergila-gila dengan sosok namja yang satu ini. Kyuhyun pun membalas semua teriakan histeris itu dengan senyuman mautnya. Lalu Kyuhyun pun segera menghampiri eommanya yang sedang berada di meja kasir Coffee Bean.

“Anak eomma sudah datang? cepat sekali kau datang. Ayo sekarang kau makan dulu, baru nanti kau bantu eomma” ucap sosok paruh baya yang tak lain dan tak bukan (?) adalah Nyonya Cho, pemilik dari Kona Bean ini.

“Ne eomma, aku ingin kimchi dan jjangmyeon!!^^” ucap Kyuhyun dengan semangat yang membara-bara (?)

“Arra arra, eomma tahu. Tapi tumben sekali kau ingin makan dengan porsi yang cukup banyak, apa kau stress dengan pekerjaanmu di kantor appamu?” tanya Nyonya Cho seiring mengeluarkan senyum khas dari bibirnya.

“Bagaimana bisa eomma tahu?? kalau boleh jujur memang seperti itu eomma, aku tidak terbiasa dengan pekerjaan sambilan baruku. Aku sangat pusing mengurus semua berkas-berkas yang selalu menumpuk tinggi diatas meja kerjaku.

“Kasihan anak eomma, yasudah tunggu disitu ya akan eomma buatkan makanan kesukaanmu itu. Ohya minumnya banana chocolate milkshake kan?” ucap Nyonya Cho sambil menunjukan meja bernomor 13 disudut kiri Coffe tersebut.

“Baiklah eomma, ne tentu saja^^” jawab Kyuhyun dengan senyum lepasnya. Kyuhyun akan menjadi senang kalau ia dibuatkan Chocolate Milkshake buatan eommanya, menurutnya tangan eommannya adalah tangan ajaib #aneh-aneh aja Kyuhyun ini-__- wahahaha

Kyuhyun pun menuju meja bernomor 13 tersebut sambil memainkan PSPnya #ini orang dimana aja tetep ye maen PSP, yaoloooo-__-. Ia pun kemudia duduk di kursi berwarna merah terang yang didominasi dengan aksen classic modern. Ditambah dengan aksen muda yang diberikan di Coffee ini, mendapat nilai tambah tersendiri bagi pecintanya.

Still Author POV

Pria tampan dengan sepatu boot hitam pun memasuki Coffe tersebut, lalu perlahan membuka kacamata hitam yang menempel lekat di matanya untuk mencari sosok Kyuhyun yang ingin ia temui. Wajah tampannya pun kini semakin sempurna ditambah dengan senyuman manis yang terukir dibibir tipisnya itu, siapa lagi kalau bukan Donghae. Ia adalah salah satu sahabat Kyuhyun sedari kecil, sehingga Donghae tahu semua apa yang terjadi dengan Kyuhyun. Mereka berdua adalah 2 member dari Super Junior, tidak salah jika mereka memiliki wajah yang tampan dan bakat yang sangat memukau. Dan dilihatnya Kyuhyun yang berada di sudut kiri coffee ini dengan menggunakan t-shirt berwarna hitam lalu dipadukan dengan jaket berwarna saphire blue dan tak lupa memakai sepatu sneakers putih kesayangannya. Donghae pun menuntun langkahnya menuju meja nomor 13 tersebut.

“Mianhae, tadi macet sekali di jalan karna ada kecelakaan tabrak lari. Sudah berapa lama kau disini?” ucap Donghae tanpa memberi jeda pada setiap kata yang ia ucapkan tersebut.

“Kukira kau sudah disini, tahunya belum. Sudah sejak tadi, tak usah berbasa-basi lah Donghae.. kau ingin membicarakan hal apa denganku??

“Begini, kudengar ada seseorang yang bernama Shin Chae Jin yang mendaftar untuk mengikuti audisi di SM Entertainment tahun ini. Dan setelah kulihat foto dirinya, ia sangat mirip dengan perempuan yang selama ini kau cari Cho Kyuhyun” ucap Donghae penuh penekanan di kata perempuan yang selama ini kau cari Cho Kyuhyun.

“Jinjja?? apa kau tidak bergurau hyung??” tanya Kyuhyun sambil menatap lurus ke manik Donghae, ingin sekali ia menemukan sesuatu kebohongan dimatanya, namun apa yang dikatakan Donghae benar.

“Untuk apa aku bergurau denganmu untuk hal seperti ini, aku mengatahui batasan-batasannya” ucap Donghae serius sambil mengedarkan seluruh pandangan ke sekeliling Kona Beans tersebut.

“Kapan audisi akan dilakukan? bolehkah aku meyaksikan audisi tersebut?” tanya Kyuhyun dengan raut yang mulai panik.

“Ya kau jangan panik seperti itu, dan kulihat di formulir pendaftarannya ia adalah lulusan dari sebuah Universitas terkenal yang berada di Paris. Bahkan diumurnya yang 20 ini, ia sudah mendapatkan gelar S3nya di bidang seni. Itu sudah menjadikan modal yang besar baginya” ucap Donghae dengan antusias melihat perubahan raut Kyuhyun.

“Pa…Paris katamu? apa dia selama beberapa tahun  ini meninggalkanku sendiri di Seoul untuk melanjutkan sekolahnya di Paris. Aku bahkan tidak tahu menau tentang hal ini” ucap Kyuhyun dengan suara yang mulai serak mungkin kaget dengan apa yang Donghae bicarakan kepadanya barusan.

“Ne Paris, mungkin saja itu alasannya Kyu. Dan mungkin dia juga tidak ingin menyakitimu, dan masih banyak ribuan alasan yang ia punya mengapa ia meninggalkanmu. Tapi melihat kepintarannya sejak kecil, aku tidak heran jika diumurnya yang masih muda ini ia bisa mendapatkan gelar terhormat seperti itu. Sungguh luar biasa” ucap Donghae memuji mantan pacar ani, masih berstatus pacar Kyuhyun tersebut.

Kini Kyuhyun masih dibingungkan oleh pertanyaan-pertanyaan yang mulai berputar-putar di sekeliliing otaknya. Perasaan senang, sedih, panik, dan penasaran teraduk menjadi satu. Namun 1 hal yang ingin dia lakukan sekarang ini, secepatnya bertemu dengan Chae Jin. Perempuan yang selama ini membuat hati Kyuhyun tak pernah lepas dari sosoknya.

next week

Author POV

Eonni kau belum berangkat huh? apa kau tidak akan telat untuk ikut audisinya? ini sudah pukul 9. Ne Chae Rin-ya chakkaman, suara Chae Jin dengan sedikit berteriak. Baiklah, kutunggu kau dimobil. Kajja kita pergi Chae Rin! eonni sudah siap, let’s go!!. Baik lah eonni, tapi bisakah kau tidak duduk dibelakang? jika seperti itu sama saja kau menganggapku supir, cepat pindah ke depan. Ah ne Chae Rin-ya mian tadi aku lupa hehe._.v, ucapnya sambil melompat kodok (?) kedepan kursi jok. Eonni kau tampak seperti bocah yang baru saja mendapatkan lolipop. Maklum Chae Rin, aku dari 1 minggu yang lalu sudah tidak sabar menunggu hari ini datang. Oke kalau begitu, let’s go! teriak Chae Rin dengan memamerkan deretan giginya yang tersusun rapih serta mengangkat satu tangannya ke udara hal serupa juga dilakukan oleh Chae Jin #kakak adek sama ajaaaa hebohnyaaa #plakkkkkkkkkk. Eonni sudah menyiapkan untuk audisi nanti? tentu sudah. Doakan aku ya dongsaengku yang manis, semoga eonni diterima di agensi artis SM Entertainment.  Kau pasti diterima eonni aku yakin 100%. Ya memang aku lulusan seni di Paris tapi hal itu belum tentu menjamin eoh, doakan ya. Ne eonni tak kau suruh pun aku pasti mendoakanmu, eonniku ini lucu sekali hahaha. Benar juga ya katamu, kau kan dongsaengku pasti kau mendoakanku hahaha mungkin karena efek gugup jadinya aku bingung sendiri melakukan apa. Sudah eonni jangan gugup, masuk SM Entertainment tak sesusah yang eonni bayangkan karena eonni sudah mempunyai modal yang kuat untuk masuk kesitu. Baiklah, gomawo dongsaengku. Hmm eonni, aku bingung kenapa kau ingin masuk ke agensi artis di Korea kenap eonni tidak melamar agensi di luar negeri saja? sudah kutebak pasti eonni dapat diterima di agensi artis luar negeri, eonni mempunyai paras yang cantik dan tentunya dengan bakat yang luar biasa. Begini.. eonni merasa kalau eonni lebih suka berada di Korea, dan eonnni pikir eonni sekarang harus menjagamu jadi mungkin alasan itu yang membuat eonni ingin berkarir di Korea. Ne arraso, lagi pula aku sangat rindu dengan eonni. Baiklah sini eonni peluk. Ya! aku sedang menyetir, tidak mungkin bisa memeluk eonni. Aish eonni lupa hehe._.v mian.

at SM Entertainment

Eonni apa perlu aku tunggu? tidak usah Chae Rin-ya nanti eonni bisa pulang naik taxi. Baiklah eonni, fighting!! ><. Ne arraso dongsaengi, fighting!! ><.  Aku pergi dulu ya eonni byee~~ ne goodbye dongsaeng. Chae Jin pun mulai masuk ke dalam gedung megah tersebut, dan ia bertemu dengan seorang lelaki paruh baya dan ia menyapanya. Ne annyeong, apa kau peserta audisi di agensi ini? ne tentu saja, bagaimana kau bisa tahu. Tentu saja, lihat saja pin yang berada di sudut kiri  atas bajumu. Ah ne aku lupa hehe mian, bisa aku tahu dimana tempat audisinya? ah lurus saja dari sini lalu belok ke arah kiri dan anda dapat melihat tulisan SMTown Find Next Star lalu kau masuk saja kedalam ruangan itu. Ah nde gomawoyo ahjussi, senang dapat bertemu denganmu. Ne cheonmaneyo, ppaliya audisi 5 menit lagi akan dimulai semoga anda beruntung. Ne jeongmal gomawo ahjussi, baiklah saya tinggal dulu annyeong.

Cho Kyuhyun POV

Hari ini aku dan Donghae sengaja untuk menyaksikan audisi pencarian bakat-bakat baru dan meminta ijin kepada Leeteuk hyung, yang kebetulan hari ini Super Junior tidak ada acara manggung atau yang lainnya. Aku sudah berada di ruangan audisi ini semenjak 1 jam yang lalu, tapi nampaknya yeoja yang bernama Chae Jin itu belum datang. Aku memang sangat penasaran dengan wanita itu, dan aku ingin sekali bertemu dengannya sekedar mengetahui apakah ia benar-benar Chae Jin, pacarku yang selama ini pergi entah kemana meninggalkanku tanpa mengirimkan kabar sedikitpun. Beberapa menit lagi audisi akan dimulai, dan yeoja bernama Chae Jin itu sedari tadi belum menampakkan batang hidungnya. Aku dan Donghae memang menggunakan topi dan kacamata hitam sebagai penyamaran kami supaya tidak ketahuan oleh para peserta audisi lainnya. Memang peserta audisi kali ini cukup banyak mencapai 100 orang. Namun dari banyaknya peserta yang ikut, diantara mereka hanya dipilih 10 orang saja. Bukan kah menakjubkan? tentu saja. Kupandangi setiap orang yang masuk pintu audisi dan… dia.. apakah dia Chae Jin? wajah tidak berubah banyak dari dahulu namun Chae Jin yang sekarang bertambah cantik dengan dipadukan mata porselen dan tubuh yang bagus yang ia miliki. Dia memang seorang blasteran antara Korea dan Rusia, sehingga ia memiliki mata porselen yang sangat indah. Itu dia Donghae-ya, ucapku sambil menunjuk ke arah yeoja yang kutunggu sedari tadi. Dia? mirip sekali dengan Chae Jin-mu Kyuhyun, mungkin itu benar-benar dia. Iya Donghae, aku yakin sekali kalau itu adalah Chae Jin yang selama ini aku cari. Tapi harus kita pastikan dulu Kyuhyun apakah dia benar-benar yeoja yang selama ini kau cari. Ne itu pasti, dan kulihat tadi ia memakai nomor audisi yang bertuliskan angka 13 berarti kita tidak perlu menunggunya dalam waktu yang lama. Tentu saja, audisi hari ini hanya memperlihatkan 1 penampilan  dengan semua bakat yang ia punya, tapi menurutku ini membutuhkan waktu yang cukup lama Kyuhyun. Eoh? gwenchanna aku akan terus menunggu sampai ia memperlihatkan penampilannya. Diam Kyuhyun, nomor audisi 1 akan tampil. Ne, aku tidak sabar menunggu penampilan yeoja itu.

1 jam kemudian

Nah ini dia penampilan dari yeoja itu, cepat bangun Donghae. Huh? n..ne Kyuhyun-ah, membosankan sekali nomor audisi 1 sampai 12 tadi. Semuanya terlihat biasa saja, sampai-sampai aku mengantuk. Tidak hanya kau saja Donghae, Lee Soo Man pun terlihat begitu bosan dengan penampilan yang ditampilkan nomor audisi 1 sampai 12. Betul terliahat sekali raut Lee SooMan ahjussi yang kecewa, semoga saja penampilan yeoja nomor 13 ini dapat menampilkan pertunjukkan yang luar biasa.

Author POV

Peserta Nomor audisi 13 dipersilahkan untuk naik ke panggung. Lalu naiklah seorang yeoja yang sangat cantik dan memiliki mata porselen yang sangat indah, lalu ia berdiri sambil memberikan senyum terindahnya kepada para juri.

“Apakah kau noona Shin Chae Jin?” tanya Lee Soo Man kepada yeoja tersebut.
“Ne, chonneun Shin Chae Jin imnida. Saya adalah seorang lulusa dari Universitas Ridclife di Paris di bidang seni” ucap yeoja tersebut dengan wajah yang masih setia menampakan senyum bibir cherrynya yang indah itu.

“Ne, kau adalah lulusan dengan nilai kumlaude? dan bahkan kau masih berumur 20 tahun dan sudah dapat meraih gelar S3mu noona Shin Chae Jin?” tanya juri dengan raut yang kaget seakan tak percaya.

“Ne begitulah, apakah aku bisa memulai penampilanku sekarang?” ucap Chae Jin yang masih mempertahankan senyum cherrynya.

“Ne baiklah, tapi apa boleh saya tahu apa alasan anda ingin berkarir di Korea? padahal anda sudah mendapatkan gelar S3 di Universitas musik terkenal di Paris, bahkan anda mendapatkan nilai kumlaude. Pasti banyak agensi artis di luar Korea yang ingin mendebut anda sebagai artis” tanya juri Baek Hee dengan tidak memberikan jeda disetiap ucapannya.

“Saya ingin berkarir di Korea karena saya lebih suka untuk tinggal di Korea, dan saya juga ingin menjaga dongsaeng perempuanku. Mengingat eommaku yang sangat sibuk dengan pekerjaanya, sehingga tak dapat memberikan kasih sayang kepada adikku”  ucap Chae Jin dengan nada yang lembut.

“Ah ne, mian telah menanyakan tentang masalah pribadimu. Baik silahkan tunjukan bakatmu” ucap juri itu dengan senyuman khasnya yaitu juri Son Ji Ra.

Still Author POV

Chae Jin pun mulai menyanyikan lagu Good Bye Tears dan seketika semua mata tertuju padanya dengan raut wajah yang kagum, karna tak menyangka suara Chae Jin sangat lah bagus melebihi penyanyi aslinya. Sangat indah dan sangat bersih suara dari yeoja tersebut. Memiliki suara yang sangat tinggi mencapai 10 oktaf nada musik, fantastis. 2 orang yang sedari tadi memperhatikannya pun dibuat terharu dan kagum akan suara Chae Jin.

Cham himgyeowosseosseo neul ulgiman haesseo
Moduga nareul ddeonagadeon nal
Shimjangeul beneun geu chagaun maldeul
Neo majeodo eobseodamyeon eoddaesseulji

Na ulji anha dashineun motnan babocheoreom
Apahaedeon mankeum han ppyeom deo jaran gaseuminikka
Himdeuljiman nae mami gidael su ige gyeote isseo jugeni
Naui eoje naui sangcheo naui nunmul ijen annyeon

Da jinagalkkeoya ddo shigani gamyeon
Gaseum sog sae sal dodanalkkeoya
Sarame bein geu hyungteokkajido
Sarangeuro deopeojudeon neoro inhae

Na ulji anha dashineun motnan babocheoreom
Apahaedeon mankeum han ppyeom deo jaran gaseuminikka
Himdeuljiman nae mami gidael su ige gyeote isseo jugeni
Naui eoje naui sangcheo naui nunmul ijen annyeon

Ijeneun cheoeum taeeonan geotcheoreom
Aesseon cheot georeum naedideo boryeohae
Witaerobjiman nareul jikyeobwajullae

Dan han georeum deo haetbit sogeuro naseolkkeoya
Jinan shigandeureun naeireul wihan dideomdoringeol
Dashi hanbeon neoege gal su idorog soneul jaba jugeni
Apeun gieog apeun sangcheo apeun nunmura annyeong 

Semua peserta audisi maupun juri melihat takjub akan penampilan Chae Jin barusan. Namun tidak hanya itu saja, Chae Jin juga menampilkan bakat dancenya yang sangat hebat dengan diiringi lagu Turn Up The Love. Badannya meliuk-liuk dengan mudahnya dan aksinya kali ini juga mendapatkan kehisterisan dari semua peserta karena ia memiliki dance yang sangat hebat. Bakat dancenya bahkan melebihi Queen of Dance Korea Hyoyeon SNSD. Sangat mumpuni bakat yang ditampilkan oleh yeoja yang satu ini, dan sangat berhasil menyita perhatian dan kekaguman dari para juri dan para peserta audisi lainnya tak terkecuali Kyuhyun dan Donghae. Chae Jin juga mempertontonkan bakatnya dalam bermain piano. Tuts tuts nada pada piano hitam lekat itu mampu menciptakan nada-nada yang indah namun sulit untuk dimainkan oleh para pemain piano yang dapat dikatakan pemula, hanya pemain piano yang sudah berpengalaman lah yang dapat memainkan lagu tersebut. Benar-benar membuat semua orang terhipnotis dengan permainan jarinya di atas tuts tuts piano tersebut. Tepuk tangan semua orang yang berada di dalam ruangan tersebut menggema sejadi-jadinya, bahkan juri Baek Hee tanpa sadar memberikan standing ovationnya. Sepengetahuan Kyuhyun dan Donghae bila salah satu juri melakukan standing ovation kepada peserta audisi kemungkinan besar orang itu pasti diterima di SM Entertainment. Dan kali ini ternyata juri Baek Hee yang terkenal sangat selektif pun melakukan hal tersebut, ini adalah pertama kalinya juri Baek Hee melakukan standing ovation dan perlu diketahui bukan hanya juri Baek Hee saja yang memberikan  standing ovationnya, bahkan 5 juri yang lain pun memberikan standing ovation atas penampilan Chae Jin yang sangat berkesan bagi para juri tak terkecuali pemilik dari SM Entertainment ini, Lee Soo Man.

Kyuhyun POV

Wow untuk pertama kalinya aku mengetahui bahwa semua juri memberikan kehormatan standing ovation kepada peserta audisi. Aku pun saat audisi tidak mendapatkan standing ovation seperti itu #poorrrrrrrr Kyuhyun. Namun tak dapat aku pungkiri, penampilan Chae Jin sangat lah sempurna. Kyuhyun, yeoja yang selama ini kau cari benar-benar membuatku terpana mungkin saja aku bisa jatuh cinta padanya. #pletakkkkkkkkkkk ah mian Kyuhyun, aku hanya bercanda saja hehe._.v kau terlalu serius hahaha namun tak bisa kupungkiri jika dia bukan yeojachingumu yang selama ini kau cari, mungkin aku akan menjadikannya yeojachinguku. #pletakkkkkkkkkkkkk #dzienggggggggggggg #bakkkkbukkkk appo! aku hanya bercanda, tapi mungkin suatu saat aku tidak akan bercanda soal ini kekekkek sangat menyenangkan menggodamu Kyuhyun-ya hahaha. Aish kau nemo, menyebalkan sekali kau ckck. Sekarang sudah penampilan ke 14, apakah kau tidak mau pulang? aniyo aku ingin tetap disini, lebih tepatnya aku ingin menunggu yeoja bernama Chae Jin itu sampai pulang, kau boleh pulang jika kau mau. Ah terserah kau saja, tapi aku sudah membuat janji bertemu dengan Chae Rin aku tidak ingin membuatnya kecewa. Huh? bukan kah ia adalah dongsaengnya Chae Jin? ya kau ini hahaha jangan menjadikan nya pelarianmu dari Jessica ya Donghae kasihan dia. Aish jinjja.. aku sekarang sudah tidak mempunyai perasaan apa-apa lagi kepada Jessica dan untuk sekarang ini perasaan cintaku hanya untuk Chae Rin. Hahaha baiklah, awas saja kau menyakiti adik iparku habis kau Donghae! arraso, arra arra lagi pula aku tidak mungkin akan menyakitinya. Baik pergi sana! nanti Chae Rin ngambek loh kekekek~ Ok evil, sampai jupaaaa~~

at 4 pm

Cho Kyuhyun POV

Akhirnya selesai juga tahap audisi pertama, sangat melelahkan sampai membuatku sempat tertidur. Oh iya aku baru ingat, mana Chae Jin? aishhhh bodoh sekali aku ini, bisa-bisanya aku tertidur disini. Karena aku berlari dengan cepat menuju tempat parkir SMTown aku tak sengaja menabrak seorang yeoja. Mian saya sangat menyesal, apakah anda terluka? ah aniyo gwenchanna ucap yeoja itu sambil merapikan tasnya yang berserakan akibat bertabrakan dengan Kyuhyun. Aku pun melihat wajah yeoja itu dan ternyata… d.. dia.. Cha.. Chae.. Chae Rin..-ya ucapku dengan tergagap karena terkejut dengan apa yang dilihatku barusan. Mian, apakah saya mengenal anda? deggg….

TBC

Bagaimana ffku yang satu ini?? jelek kah?? mian TT_TT akan saya lanjutkan jika banyak yang komen, gomawo!! ^^

your coment are my oxygen ;D ^^ XDD

[FF] Your Love Is Too High – PART 4

 

 

Title : Your Love Is Too High

Author : ReeneReenePott

Maincast : Choi Minho, Lee Son Hee(reader: dasar author narsis!! Author : *tutupkuping* aku ingin beginiii aku ingin begituuu.. aku ingin ini itu banyak sekaliiii~~)

Supportercast : Lee Taemin, Kim Kibum/Key, Kang Minchan (a.k.a Mahita), Kim Sung Ran (a.k.a Charismagirl), Lee Donghae, Lee Gikwang, Cho Kyuhyun, Kim Jonghyun, Yong Junhyung, Goo Hara, Jo Kwangmin, Jo Youngmin, Hwang Tiffany, Choi Sooyoung

Genre : Romance, Comedy, Fluff, School Life

Length : Sequel

Rating : Teen

A/N : Part 4… lumayan panjang hoho XD Warning yah, ini hampir kayak HHJJF(Happy Happy Joy Joy Fiction) So, gak ada konflik yang menjurus, apalagi sampe bikin reader sebel sama karakternya atau adegan yang mellow ampun-ampunan hoho XD Cuma dibuat berdasarkan mood author yang lagi kacau #plakkk

 

Author POV

“Ya! Son Hee! Jangan melamun terus!” seorang yeoja dengan pakaian persis seperti dirinya berseru dari balik meja kasir. Son Hee yang tengah memegang lap dan semprotan (?) langsung tersentak.

“Eh? Mianhae..” jawabnya lalu membungkuk dan meneruskan kembali pekerjaannya.

“Kau masih SMA, kan?” tanya yeoja itu. Son Hee hanya mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya dari jendela kaca yang besar itu.

“Nde, waeyo eonni?” tanya Son Hee balik.

“Aniyo, terkadang aku hanya rindu masa-masa sekolah,” ujar yeoja itu, yang bernama Tiffany sambil bertopang dagu. “Aku sudah kuliah, namun tetap saja rasanya berbeda dengan sekolah,”

“Tentu saja eonni, oh ya, namjachingu eonni mana? Bukankah jam segini ia suka datang dan memesan sesuatu?” tanya Son Hee. Ya, Tiffany sudah mempunyai namja chingu bernama Ryeowook.

“Ah, Wookie? Sepertinya ia memiliki sedikit urusan dengan dosennya jadi kemungkinan agak telat,” balasnya dengan nada merenung. “Son Hee, kau sudah punya namja chingu?”

“Ah, aniyo, aku tidak punya,” jawab Son Hee tenang. Tiffany membulatkan matanya tak percaya.

“Jinchayo? Bukankah anak sekarang sukanya pacaran?”

“Hahaha, aniyo eonni, bukan begitu. Hanya saja, di sekolah belum ada yang…”

“Menarik perhatianmu?” tanya Tiffany sambil mengangkat sebelah alisnya. Son Hee menggeleng.

“Aku sudah mempunyai namja yang aku suka eonni,” tukas Son Hee riang. “Tapi, aku merasa sulit untuk meraihnya. Dia namja populer di sekolah,”

“Ah, namja populer. Pastilah jadi idola, iya kan?”

“Namanya Choi Minho,” gumam Son Hee. Kedua mata Tiffany membulat.

“Mwoya? Choi Minho? Adiknya Choi Sooyoung?” Son Hee hanya mengangguk polos menanggapi ucapan Tiffany.

“Aku menyukainya sejak MOS. Dan aku tidak tahu kalau ia lumayan dekat degan oppaku,” cerita Son Hee singkat, “Seingatku ia orang yang ramah, baik kepada semua orang dan tidak sombong. Benar-benar tipe impian yeoja deh!”

“Ya, Sooyoung memang memiliki adik yang sangat manis,” Tiffany menimpali, “Dia bahkan populer di kalangan mahasiswa,”

“Mwoo?”

“Nde, mahasiswa jurusan komputer, Kwon Yuri jelas-jelas mengincarnya. Hah, aku tak tahu seleranya benar-benar berondong seperti itu,” Son Hee terbahak.

“Aigoo jinchayo? Sekarang memang jamannya couple dongsaeng-noona sih,” gumam Son Hee dan kembali melanjutkan tugasnya mengelap kaca. Dalam hatinya terbesit rasa khawatir, secantik apa sih Yuri sunbae itu?

__

“Aigoo, Kyuhyun oppa, kau benar-benar gila memberiku soal sebanyak ini,” keluh Son Hee saat seratus lima puluh soal esai matematika tersaji tepat di hadapannya, siap untuk disantap.

“Kau benar-benar manja. Olimpiade ini berlangsung tidak lama lagi tahu, jadi kau memang harus dilatih ekstra-keras,” jelas Kyuhyun tanpa perasaan. Ia mulai bejalan mondar-mandir di depan kelas bak sonsaengnim.

“Hish, arasseo,”

“Ohya, target menngerjakan seluruh soal ini adalah… 60 menit saja. Di mulai dari… sekarang!”

“Argh oppa!” erang Son Hee frustasi sambil menyambar penanya.

__

“MWO?” seru Son Hee kaget. Ditangannya sudah ada sepucuk surat undangan berwarna putih dengan garis biru muda. Ia kembali mendongak cepat, menatap ke seorang yeoja berambut panjang dengan wajah secantik boneka.

“Ne, aku ingin kau datang,” ujar Hara tegas sambil menatap mata Son Hee lurus-lurus.

“Nan?” ujar Son He sekali lagi sambil menunjuk dirinya sendiri. Hara mengangguk yakin. “Aku pikir kau salah orang, sunbae,”

“Ani, aku sama sekali tidak salah,” balasnya.

“Ini pesta ulang tahun Choi Minho? Astaga, ia seperti yeoja saja pakai undangan segala,” gumam Son Hee. Hara yang mendengarnya langsung terbahak.

“Masalahnya, di pesta ulangtahunnya nanti ia harus memutuskan untuk memiliki yeojachingu. Karena itu, ahjumma ingi megundang sebanyak-banyaknya yeoja,”

“Konsepnya… mwo? Pesta topeng?” gumam Son Hee lagi saat meneliti cover undangan itu. Hara kembali mengangguk.

“Nde, pesta topeng. Minho harus mencari yeojanya di pesta topeng. Unik ya? Itu ideku dan Junhyung oppa. Kemarin Minho langsung memprotes karena terkesan seperti cerita Cinderella. Tapi menurutku itu sama sekali tidak. Ya kan?”

“Geundae sunbae, sunbae tidak mengundang yeoja yang lain?” tanya Son Hee bingung. Ia menggeleng.

“Ani. Yeoja yang membuatku tertarik hanya kau. Mereka terkadang membuatku kesal dengan gaya mereka,” balas Hara cuek.

“Aku punya chingu yang tidak terlalu lebay kok..”

“Tapi mereka sudah punya namjachingu, kan?” potong Hara yakin. Son Hee memngangguk.“Itulah masalahnya. Harus yeoja single,”

“Astaga, ini seperti acara pencarian jodoh deh,” ungkap Son Hee takut-takut. Hara hanya tersenyum.

“Geurom, halmoeninya ingin agar ia cepat menikah dan memberikan cucu,” perkataan Hara membuat Son Hee tersedak liurnya sendiri.

“Mwoya? Halmoeninya? Menikah? Punya cucu?”

“Aish, itu tidak penting. Yang pasti, kau akan datang ke pesta itu, kan?” pinta Hara memelas. Son Hee mengigit bibirnya.

“Masalahnya sunbae, ini pertama kalinya aku ikut pesta-pesta seperti ini. Pesta topeng pula,” gumam Son Hee lemah. Hara mengibaskan tangannya.

“Ah, soal itu mah gampang. Yang pasti, kau akan ikut, kan?” akhirnya Son Hee mengangguk juga. “Gomawo!”

“Ne, aku akan mencoba deh,”

“Hey, aku dengar kau akan mengikuti olimpiade matematika ya? Hwaiting!” seru Hara sambil mengepalkan tangannya. Son Hee hanya bisa tersenyum menanggapinya.

“Ne, 3 minggu lagi. Gomawo sunbae,”

Son Hee POV

3 weeks later

Di sinilah aku sekarang. Di sebuah ruangan yang ada di Seoul International University,dengan berlembar-lembar soal matematika. Dengan mengerjakan soal-soal ini, aku tengah membawa nama sekolahku sebagai satu-satunya siswa yang mengikuti olimpiade matematika kelas X tingkat nasional (emang ada?#plakk)

Aku kembali mendongak menatap pengawas yang memasang tampang seram dengan datar. Menunggu aba-aba mulai darinya. Kurasa aku sudah mengerjakan soal macam ini ratusan kali dengan Kyuhyun sunbae—dia terus merecokiku dengan soal seperti itu—jadi kurasa soal-soal ini tidak akan terlalu sulit bagiku.

“Baiklah, kalian bisa mulai mengerjakan soal-soal ini,” ujar pengawas tenang.

__

“HIYAAAAHHH akhirnya selesai juga!!” pekikku girang setelah kurang lebih satu setengah jam berkutat dengan matematika tadi. Aku sudah ngibrit ke bawah, ke taman yang ada di pinggir lapangan basket outdoor.

Kutemukan sosok Kyuhyun oppa yang tengah berjalan sambil berbincang dengan sonsaengnim. Aku melambaikan tanganku ke arahnya. Ia menoleh lalu melangkah mendekatiku.

“Ottheyo? Kau bisa mengerjakannya tidak?” tanya Kyuhyun oppa. Aku mengacungkan kedua jempolku.

“Aku sudah berlatih berkali-kali dengan oppa, jadi aku lancar saja mengerjakannya,” jawabku sambil mengecek ponselku. Wah! Chinguku semuanya mengirimiku pesan!

From : Kim Sung-Ran~

Son Hee-yah, hwaiting!

From : Kang Minchan~

Kerjakan dengan baik, ne? Fighting!

From : Donghae oppa~

Saenggg~~ selamat berjuang! Doa oppa menyertaimu!!

From : Gikwang oppa~

Saeng, kerjakan dengan benar, ne?! Kau membawa nama sekolah, arra!!

From : xxxxxxxxx

Son Hee-ssi, hwaiting! Semoga sukses!

Aku merenyitkan kening. Nuguni? Ah, mungkin Taemin sunbae atau Key sunbae atau Hara sunbae. Minho sunbae? Yah, meskipun aku berharap tapi aku tak berani mengira. Aku membalas pesan-pesan mereka satu-persatu, kerajinan kah? Hehehe.

“Mereka mengirimu pesan?” tanya Kyuhyun oppa yang ada di hadapanku. Aku hanya mengangguk.

“Nde,” jawabku sambil memasukkan ponsel kembali ke dalam saku, “Kita kembali, oppa?”

“Ani, kita menunggu yang ikut olimpiade IPS dan beberapa yang ikut Fisika. Tunggulah sebentar lagi,” jawabnya sambil mengecek jam. “Kau lapar? Ingin makan?” aku menggeleng.

“Ani. Oppa saja kalau mau. Aku sudah sarapan di rumah,” tolakku sambil tersenyum.

Author POV

“Minchan-ah!” panggil Sung Ran tiba-tiba. Minchan yang sedang makan siang bersama Key di kelas mereka hanya bisa menoleh bingung.

“Wae?” jawabnya cuek.

“Ani, kurasa ada sesuatu yang janggal deh,” ujarnya pada Minchan yang duduk di seberang. Minchan mengangkat alisnya sambil menyuapkan telur gulung ke mulut Key.

“Janggal apanya?”

“Triple date!” seru Sung Ran semangat. Minchan menghentikan aktifitasnya, demikian pula Key.

“Ah iya! Kita lupa! Kita belum menentukan tanggal dan jamnya, kan?” ujar Key ikut-ikutan. Sung Ran hanya mengangguk polos. “Mana Taemin-mu?”

“Ah, dia sedang ada urusan,” kilah Sung Ran. Key mengangkat sebelah alisnya.

“Hati-hati, Sulli mengincarnya,” ujarnya hati-hati. Sung Ran Cuma nyengir.

“Soal itu aku juga tahu,” balasnya. “Aku percaya padanya, lagipula perhatiannya padaku sama sekali tak berkurang kok,”

“Ya, Taemin pernah bilang padaku seperti itu,” ujar Key pada akhirnya. “Jagi, kau mau ikut jadi pasanganku tidak?” tiba-tiba Key beralih berkata pada Minchan.

“Mwoya? Pasangan apa?” tanya Minchan kaget. Key hanya tersenyum simpul.

“Di pesta ulang tahun Minho, akan ada pesta topeng. Kau mau ikut kan? Jadi pasanganku?” pinta Key. Sung Ran mendengus melihat kemesraan itu. Tentu saja, ia sekarang Cuma sendirian dan hanya di temani dengan pensil dan buku kimia. Bagaimana tidak panas?

“Haish, kalian berhentilah membuatku panas, arasseo?!” seru Sung Ran ketika kedua mahkluk itu mulai saling menggelayut manja.

“Tentu saja aku mau, gomawo oppa!” balas Minchan senang. Key mengacak rambutnya. Sung Ran mendengus karena dia dikacangin.

“Hish, kacang seribu won lima bungkus deh,” desahnya lemah.

“Sung Ran-ahhh~~!” seru seorang namja dari balik pintu kelas. Sung Ran mendongak, dan mendapati Taemin tengah tersenyum kepadanya. “Apa kabar?”

Sung Ran hanya terdiam sambil menatap Taemin. Taemin yang bingung karena Sung Ran tak kunjung menjawab sapaannya hanya menggaruk-garuk kepalanya bingung. “Jadi kau menyapa yeojachingu-mu dengan ‘Apa kabar’? Neo neomu jincha!”

“Ah, mianhae Sung Ran-ahhh.. jangan marah dong jagiiii~~” Taemin menggelembungkan pipinya. Sung Ran hampir saja melupakan bahwa ia sedang kesal dengan namja satu itu ketika ia hendak menjerit ketika melihat namjachingunya yang memang Prince of Aegyo.

“Ya! Kau merayuku lagi!” Sung Ran menjaga gengsinya setinggi langit dengan menatap Taemin tajam walahpun hatinya meleleh melihat tingkah Taemin seperti itu.

“Geurom, wajahmu lucu kalau di rayu, hehehe..”

“YA!!! Lee Taemin!!”

“Sekarang kalian yang merasa dunia milik berdua,” gumam Key kesal. Minchan hanya cekikian melihat Key. “Ya! Lee Taemin! Kita harus membicarakan triple date yang sebelumnya kita lupakan begitu saja!”

“Oh iya! Triple date! Kenapa aku bisa lupa?” gumam Taemin bingung. “Memangnya kita mau kemana?”

“Ku usulkan ke tepi sungai Han saja, sepi dan romantis… hehehe…” timpal Sung Ran tiba-tiba. Minchan mengangguk setuju.

“Daripada Lotte World? Di sana ramai sekali,”

“Arasseo, kita bisa ke Sungai Han. Kapan?” kata Key pada akhirnya setelah berpikir cukup lama. Minchan mengembangkan senyumnya, sementara Key hanya mengacak rambutnya sayang. Sementara Taemin hanya melirik yeoja chingunya yang seakan tak peduli dengan pembicaraan itu.

“Ya.. Kang Sung Ran…” Taemin menyenggol bahu yeojanya itu. Sung Ran tetap membuang muka. “Ashh, kau benar-benar tidak asik… masa begitu saja marah sih jagi aegi yeobokuuu~~”

Blush

“YAA!!! KAU JANGAN MEMBUATKU MALU LEE TAEMIN!!” Sung Ran memukul bahu Taemin dengan wajah yang semerah kepiting rebus. Taemin tergelak melihat tingkah yeoja chingunya.

“Iyyaah, jagi, kau mau jadi pasanganku ke pesta ulang tahun Minho tidak?” tanya Taemin to the point setelah meredakan tawanya. Sung Ran membulatkan matanya.

“Mwo? Pesta ulang tahun Minho?” Sung Ran berpikir sejenak, sepertinya tadi Key sudah sedikit menyinggung tentang pesta itu.

“Ne,”

“Pesta topeng itu kah?” tanyanya.

“Kau tahu?”

“Ne, tadi dua manusia itu terus bercengkrama tentang pesta itu,” ujar Sung Ran sambil menunjuk Key dan Minchan yang sudah tak mengindahkan siapapun lagi. Serasa dunia milik berdua yey..

“Kau mau jadi pasanganku?” tanya Taemin sambil menatap mata Sung Ran dalam. Sung Ran tersenyum dan mengangguk.

“Geurae,”

“AAAAA GOMAWO YEOBOOO~~”

“YAAA KANG MINCHAN KITA MAU TRIPLE DATENYA KAPAN?” seru Sung Ran menghindar dari pelukan Taemin yang mungkin bisa mengundang gosip tak sedap diantara mereka (author ngaco._.V)

“Kita urus masalah itu sesudah pesta ulang tahun Minho, oke?” ujar Key. Minchan mengerutkan keningnya.

“Mwoya?” gumamnya kaget. “Tidak akan bisa oppa, Minho pasti sudah punya yeojachingu,”

“Bagaimana bisa?” tanya Key bingung. Minchan memutarkan kedua bola matanya kesal.

“Kan oppa yang cerita kalau pesta itu untuk mencarikan Minho sunbae seorang jodoh?” Minchan sedikit berjengit ketika ia mengucapkan sebaris kalimat itu. “Sementara tujuan kita mengadakan triple date ini kan untuk mendekatkan Son Hee dan Minho…”

“Oh iya ya..” Key menepuk jidat mulusnya. “Bagaimana kalau besok? Jam… sekitar jam 4 sore?”

Son Hee POV

Aku mendengus saat menunggu di halte bus. Mereka benar-benar… argh! Aku pikir rencana mereka untuk mengajakku triple date itu hanya bohongan. Ternyata beneran! Dan aku harus ikut karena tidak sengaja menyetujuinya. Haish! Kenapa dunia makin sulit sih?

Brumm…

Aku merenyitkan kening ketika sebuah motor berhenti di hadapanku. Si pengendara membuka helmnya, dan ternyata itu Minho sunbae! Omo!

“Cepat naik,” katanya singkat. Aku hanya mengangguk singkat dan menuruti perintahnya. Kalian merasa aneh kenapa aku menurutinya? Aku saja bingung apalagi kalian! (woy, orang authornya juga bingung kok)

Kami berdua akhirnya berboncengan*ehem* sampai ke tempat tujuan, yang gak lain gak bukan adalah Sungai Han. Aku heran pada Minchan dan Sung Ran, kenapa mereka memilih tempat ini ya? Apakah karena mereka bosan dengan keramaian? Atau ingin berduaan dengan lebih syahdu? Aaku turun dari boncengan, dan 2 pasangan sudah muncul di hadapanku sambil nyengir lebar.

“Kita mau ngapain sih?” tanyaku bingung. Sung Ran memutar kedua bola matanya kesal.

“Triple date lah, Lee Son Hee. Kau ini bolot atau bagaimana?” tukasnya enteng. Aku melongo. Triple date? Di tempat sesepi ini? Triple date versi baru atau apa nih? Oke, tidak sepi sih, cuma ada beberapa orang atau pasangan yang sedang menyelesaikan atau baru memulai piknik di sore ini.

“Kau yakin? Kupikir bila di Lotte World akan lebih seru untuk triple date,” gumamku.

“Tapi di sini lebih romantis, Son Hee-yah..” Minchan mendesah. Aku membulatkan bibirku.

“Tapi kalian kan bisa pergi double date saja? Kenapa aku harus di ajak?” balasku lagi. Sung Ran tampak salah tingkah, sementara Minchan memasang ekspresi aku-tidak-dengar-apa-yang-kau-katakan.

“Sudahlah, kkaja!” Key sunbae meraih tangan Minchan dan mengajaknya pergi. Demikian pula dengan Taemin dan Sung Ran.

Aku melirik menatap Minho sunbae, yang juga sama melirikku.

__

“Ah.. es krim…” gumamku saat sebuah gerobak tertangkap oleh indra penglihatanku. Minho sunbae yang sedang berjalan di sampingu ikut menoleh.

“Kau mau es krim?” tanyanya. aku berpikir sejenak lalu mengangguk. “Baiklah. Tunggu di sini ya,”

Aku menggigit bibirku. Astaga, tingkahku tadi sangat memalukan! Padahal aku kan bisa beli sendiri… heish!

Gusrakk…

Gusrakk..

Duak…

Aku menoleh cepat ke belakang. Kurasa aku barusan mendengar suara-suara aneh, tapi aku bingung suara apa itu.

“Yaiks! Oppa! Jangan dorong-dorong punggungku!” lho? Itu kan suara Sung Ran? Aku merenyitkan kening dan mengedarkan pandangan. Tak ada yang bisa di jadikan tempat persembunyian, kurasa. Selain semak belukar yang luar biasa besarnya itu. Apa? Semak belukar?

“Kalian?!” pekikku kaget saat empat orang manusia duduk berjongkok di belakang semak ini. “Apa yang kalain lakukan? Bukannya kencan, ini kan keinginan kalian!”

“Hehehe… kan kami penasaran dengan apa yang akan terjadi padamu dan Minho sunbae…” Sung Ran menggaruk-garuk kepalanya yang.. kurasa sama sekali tidak gatal. Aku mengerutkan kening dan menatapnya sedikit kesal.

“Tidak ada apa-apa diantara kami. Kami berdua hanya akan menunggu kalian selesai kencan, arra?! Sekarang bubar! Kencan sana!” aku mencak-mencak tak jelas. Benar-benar kekanakan(?)

“Son Hee-ssi, ada apa?” suara Minho sunbae mengagetkanku yang masih memperhatikan kedua pasangan yang melangkah menjauh dengan malas itu. Aku menoleh, lalu tersenyum tipis.

“Aniyo,” ia menyodorkan cone yang berisi 2 scoop eskrim vanilla.

“Igeo, katanya kau ingin es krim, kan? Bagaimana kalau kita makannya di batang tumbang itu?” usulnya sambil menunjuk ke sebuah batang pohon yang sangat besar di tepi sungai.

“Geurae,”

Author POV

“Sunbae, gomawo sudah menemaniku hari ini,” ujar Son Hee tulus saat ia sudah diturunkan di depan rumahnya. Minho tersenyum tipis.

“Ne, cheonma,”

“Oh ya… pesta ulang tahun sunbae…”

“Pesta norak itu? Haish, jangan bahas itu. Aku kesal dengan Hara dan Junhyung hyung karena mereka merencanakannya tanpa meminta persetujuan dariku,” potong Minho sedikit kesal. Son Hee langsung mengunci mulutnya. “Ah, kau masuklah, ini sudah sore. Jaljayo..”

“Ne, jalja…”

__

“Ya! Saengi-ya!” Donghae menghempaskan tubuhnya di samping tubuh adiknya yang berbaring di atas ranjang.

“Ne?”

“Tadi kau kemana?” tanya Donghae pelan. Son Hee mendesah.

“Triple date… bersama chinguku…” jawabnya lemah lalu menoleh menatap oppanya. “Waeyo?”

“Tak apa,” Donghae terdiam beberapa saat. “Lalu… kau…. berpasangan dengan?”

“Minho sunbae,” jawabnya lagi. Donghae membulatkan matanya.

“Namja?!?!”

“Ya iyalah oppa, masa aku mau nge-date sama yeoja? Aku kan bukan lesbi, oppa,” Son Hee tertawa kecil. Donghae mengerucutkan bibirnya.

“Lebih tampan siapa? Aku atau dia?” tanya Donghae manja. Son Hee menaikkan sebelah alisnya.

“Bagiku? Eum…. Minho sunbae,”

“YAAA! Kenapa bisa dia lebih tampan dariku? Aku ini oppa paling tampan sedunia, kau tahu?!” Donghae mencubit kedua pipi Son Hee.

“Adaw… oppa! Arra, arra, oppa yang paling tampan deh!” Son Hee akhirnya mengalah. Donghae tersenyum senang.

“Kau menyukainya?” tanyanya lagi. Senyum Son Hee menghilang seketika, lalu berdeham kecil.

“Ne, kurasa begitu,”

“Hiyaaaa!! Mana sih yang bernama Minho itu? Kenapa dia membuat adikku berpaling padanya hah?!?!” Donghae merutuk kesal. Son Hee terbahak melihat tingkah oppanya.

“Oppa ada-ada saja deh. Oppa juga sudah punya Sicca eonni, kan?” Son Hee mengadu bahunya dengan bahu oppanya.

“Hish! Kau ini! Tapi awas kalau dia membuatmu menangis, arra?! Kubejek-bejek(?) dia!!” Donghae mengepalkan tangannya, mungkin sedikit… dendam?

“Ya! Oppa! Aku belum jadian dengannya, tahu!”

“Iyakah? Ah.. syukurlah…”

“Dasar oppa aneh!”

“Apa kau bilang?!?!” Donghae membulatkan matanya, sementara Son Hee terkikik geli.

__

Seorang yeoja yang berumur sekitar awal dua puluh-an, melangkah memasuki gerbang sekolah yang sepi itu. B’Goss International High Shcool, yeoja itu tersenyum samar begitu membaca tulisan besar yang tertulis di gedung mewah di hadapannya. Ya, gerbang dan suasana sekolah nampak sepi karena jam pulang masih sebentar lagi.

Ia melangkah pelan, menelusuri setiap koridornya. Mengundang tatapan terpesona dari setiap haksaeng namja yang tak sengaja memandangnya dari balik jendela kelas. Namun yeoja itu seakan tak peduli, terus menelusuri koridor hingga sampailah ia di kantin sekolah. Yeoja itu anak kuliahan, tentu saja. Nampak seumuran dengan putri pemilik sekolah itu, Choi Sooyoung. Dan nama yeoja itu adalah Kwon Yuri.

Ia memastikan datang ke sekolah itu untuk mendapatkan namja incarannya. Yah, ini sih baru permulaan. Bila nasib baik datang padanya, keinginannyaa pasti akan terwujud.

Kriiinggg

Kriingg

Baru saja ia selesai menyeruput jus jeruknya sampai habis, bel sekolah berdering. Ia bangkit dan berjalan ke depan koridor kelas XII. Banyak haaksaeng yang sudah keluar kelas. Sebagian besar namja menatap terpesona padanya. Namun ia hanya fokus mencari satu namja. Maatanya menemukan sosok namja itu yang baru saja melangkah keluar kelas. Ia mengembangkan senyumnya, dan melambaikan tangan.

“Minho-ah!!”

Minho menoleh ketika mendengar namanya dipanggil. Seulas senyum juga terlukis di bibirnya. Ia melangkah cepat ke arah yeoja itu. “Annyeong Yuri noona,”

“Minho-ah, aku disuruh noonamu untuk menjemputmu dan membawamu ke rumah. Kkaja!”

“Ndee??” Minho membelakakkan kedua matanya. “Untuk apa noona? Aku bisa pulang sendiri,” lanjutnya.

“Kau lupa hari ini hari apa, heuh?” Yuri menjitak kepalanya.

“Auch! Appoyo, noona,” keluk Minho. Ia berpikir sejenak, lalu mendengus pelan. “Arrayo! Tapi aku kan pasti pulang, noona,”

“Sooyoung sudah takut kalau kau tidak akan pulang. Pestamu sudah direncanakan dengan matang, dan ia bisa marah besar kalau kau tidak ada,” ujar Yuri. Minho mendengus kesal. Tangannya langsung tiarik oleh Yuri, mau-tak mau ia ikut berlari, mengikuti Yuri ke mobilnya.

Seorang yeoja berkucir satu baru saja menginjakkan kakinya di tengah lapangan sambil menyelempangkan tasnya. Pandangannya tak lepas dari yeoja dewasa yang menggandeng tangan Minho itu. Ia mengerang.

“Ah, itu mungkin yang bernama Yuri. Benar-benar cocok untuknya, YAAA apa yang kau pikirkan Lee Son Hee??” tiba-tiba ponsel di sakunya berdering. Dengan cepat ia mengangkatnya, “Yoboseyo?”

“…”

“Ah, ne, uisa (:dokter), jadi siang ini kawat gigiku sudah bisa dilepas?”

__

“Kau mau membunuhku, Kim Sung Ran?!” seru Son Hee membulatkan matanya. Sebuah ponsel menempel di telinganya. Ia sudah ada di rumahnya, baru saja ia mengganti seragam sekolahnya dan tiduran di ranjang. “Aku kurang yakin benar-benar pergi ke pesta itu atau tidak,”

“Astaga, Lee Son Hee, Hara sunbae secara eksklusif mengundangmu, bagaimana bisa kau tidak datang?! Aku akan datang ke rumahmu nanti sekitar jam 3. Kau harus mandi, keramas, dan pakailah pakaian santaimu dulu. Aku dan Minchan akan mendandanimu,” jelas Sung Ran panjang lebar dari telepon.

“Bagaimana dengan kalian?” tanya Son Hee sambil mengerutkan keningnya. “Pasti Key dan Taemin sunbae mengundang kalian, kan?”

“Ah, kami mah gampang. Sekarang, cepat mandi dan keramas, yang bersih, arra?!” klik.

“Errgghhh…” erang Son Hee malas. Ia menyambar handuknya, menoleh ke lemari bajunya sebentar, mengambil sepotong levis pedek dan kaus putih, dan melesat menuju ke kamar mandinya.

Sekitar setengah jam kemudian—dia sengaja berlama-lama saat mandi—ia baru keluar dari kamar mandi dengan rambut basah yang masih ia keringkan dengan handuk. Matanya melirik jam. Baru jam 2 lewat. Ia mendengus, menyambar buku novel fantasynya, lalu duduk di atas ranjang. Itulah caranya mengahbiskan waktu, benar kan?

Baru saja ia mau memasuki 3 bab terakhir, bel rumah berbunyi nyaring. Berpikir bahwa oppanya, Gikwang yang membukakan pintu, ia hanya mendongak sekilas dan melaanjutkan aktifitasnya. Benar saja, suara canda 2 yeoja yang familier di telinganya terdengar makin keras.

Cklek…

“Son Hee-yah, ah ternyata kau sudah mandi. Good job!” Minchan mengeluarkan jempolnya. Yang membuat Son Hee takjub adalah, tas besar yang mereka bawa.

“Apa… yang kalian bawa itu?” tanya Son Hee polos. Minchan dan Sung ran saling pandang, lalu menatap Son Hee sambil tersenyum.

“Gaunmu, gaun kami, dan sepatu. Oh ya, kami juga membawa make up. Aku dan Minchan sudah make up duluan, tinggal me’mermak’mu,” ujar Sung Ran. Son Hee membulatkan matanya.

“Mwoya??”

“Sekarang, duduk di sini!”

“Hey!! Jangan anarkis dong!!” seru Son Hee ketika kedua temannya itu sudah memenjarakan dirinya di depan meja rias.

“Well, Lee Son Hee, akhirnya kau menyingkirkan behelmu yang mengganggu pemandangan itu,” gumam Minchan saat ia mengambil hair dryer dari dalam tasnya, dan disambut kekehan dari Son Hee.

Beberapa jam kemudian…

“Tada!!! Selesai deh!!” pekik Minchan dan Sung Ran girang. Mereka nampak puas dengan hasil karya mereka, benar-benar sempurna.

“Sekarang, khusus untukmu, aku menyediakan sepatu dengan heel cuma 5 cm. Kalau tinggi-tinggi, bisa rugi,” ujar Minchan nyablak sambil meraih sepasang sepatu berwarna putih gading dari dalam tas. “Apalagi kalau yang memakai seorang Lee Son Hee… pulang-pulang bisa sudah mendarat di tong sampah karena heelnya copot semua!” lanjutnya.

Son Hee memonyongkan bibirnya yang hanya dipolesi lip gloss pink. Kenapa? Dia membenci lipgloss yang berbau dan apalagi berasa seperti rasa strawberry! Tubuhnya sudah dibalut simple short dress warna krem yang bagian bawahnya mengembang dengan ikat pinggang putih. Rambutnya dikelabang hingga setengah kepala (??) dan diberi jepit kupu-kupi putih. Make up simple untuk mencerahkan wajahnya. Dan heel sudah terpasang di kedua kakinya. Sederhana, tapi ia nampak cantik.

“Tampangmu aneh, Son Hee-yah,” Minchan bergumam kepada Son Hee yang sedari tadi memonyongkan bibirnya.

“Lip glossnya bau…”*ternyata dia menuruni sifat author hokakaka* namun perhatiannya tersita oleh penampilan kedua chingunya. Sung Ran, memakai mini dress off-shoulder berwarna violet muda, dengan rambut yang digelung antik namun tetap menyisakan anak rambutnya tergerai dan jepit berbentuk pita dengan warna senada di sisipkan ke gelungan rambutnya itu. Riasan wajahnya minimalis, benar-benar keren. Kali ini heel yang ia gunakan setinggi 7 cm, menakjubkan menurut Son Hee. Sementara Minchan menggunakan dress tanpa lengan berwarna sky blue. Rambut panjangnya di kelabang ke samping, dan heel setinggi milik Sung Ran. Make upnya yang bernuansa biru dengan sedikit glitter membuatnya tampak berbeda dari biasanya.

“Siap semuanya?” tanya Minchan kepada Son Hee yang masih melongo menatap kedua chingunya.

“Kalian.. yeoppo…” gumamnya. Sung Ran langsung terbahak.

“Kau juga. Ini topengnya. Kalau di pesta topeng, harusnya kau tidak boleh dikenali siapapun,”

“Arra…”

Cklek…

“Wohoo.. ladies, ada apa kalian berdandan se’heboh’ ini?” tiba-tiba Gikwang muncul dari balik pintu kamar Son Hee. Son Hee hanya nyengir.

“Kami diundang ke pesta ulang tahun Minho sunbae…” Gikwang nampak terkejut dengan penuturan Son Hee.

“Aku tidak dia ajak? Ah, ya, dia sudah bercerita. Hanya yeoja single yang boleh ikut,” sindir Gikwang dengan tampang jahilnya. Kedua alis Son Hee terangkat, menandakan ia tak setuju dengan gagasan itu.

“Aku boleh ikut kan, oppa?” tanya Son Hee. Gikwang hanya mengangguk menyeteujui.

“Tentu saja, mengapa tidak?”

“Wait…. sepertinya aku mendengar ada yang menyebut ‘pesta’ dan ‘Minho’,” Donghae tiba-tiba keluar dari tempat persebunyiannya. “Oh my…”

“Kenapa hyung? Son Hee cantik banget ya hyung?” Gikwang terkikik geli. Donghae menatap saenginya takjub.

“Ya! Kau tidak boleh keluar rumah!!” pekiknya dan menyeret Son Hee masuk kembali ke dalam kamar.

“OPPA!!! AKU HARUS PERGI!” jerit Son Hee bingung. “Ish, oppa, aku diundang loh oppa, kan tidak sopan kalau mengabaikan undangannya begitu saja…”

Donghae menghentikan langkahnya dan menatap Son Hee kesal. “Ya sudah deh. Ingat, kalau kau bertemu namja bilang ke oppa, ne?!”

“Ne, arrayo!”

TBC

GYAAAAA Ottheyo?? Rada aneh kah kencannya? Bukan kencan kan itu? *ini orang ngomong apa sih* #plakkk Next udah kelar. Yeeahh.. #plakk Gamsahayoo yang udah baca.. dimohon komen, kritik dan sarannyaa ^^

 

credit by : whiteee13

[FF] Your Love Is Too High – PART 3

Title : Your Love Is Too High

Author : ReeneReenePott

Maincast : Choi Minho, Lee Son Hee(reader: dasar author narsis!! Author : *tutupkuping* aku ingin beginiii aku ingin begituuu.. aku ingin ini itu banyak sekaliiii~~)

Supportercast : Lee Taemin, Kim Kibum/Key, Kang Minchan (a.k.a Mahita), Kim Sung Ran (a.k.a Charismagirl), Lee Donghae, Lee Gikwang, Cho Kyuhyun, Kim Jonghyun, Yong Junhyung, Goo Hara, Jo Kwangmin, Jo Youngmin, Hwang Tiffany, Choi Sooyoung

Genre : Romance, Comedy, Fluff, School Life

Length : Sequel

Rating : Teen

A/N : ANNYEONG ^o^ kali ini aku membawakan FF jadulku, yang dibuat pasca Go away ._.V hanya sedikit yang kupoles, Cuma konflik dan beberapa bagian. Kubuat ringan supaya akunya gak bingung sendiri ^^V Mian kalo baahasanya masih rada-rada kasar, hehe ^^

Part 3

Son Hee POV

Sepertinya ada yang mengikutiku sejak tadi deh. Atau hanya perasaanku saja ya? Akh molla. Yang penting selama pekerjaanku tak terganggu sepertinya akan baik-baik saja. Eh?? Entah deh.

Aku melangkah ke loker karyawan, hendak mengambil pakaian gantiku. Setelah mendapatkannya, aku pun mengganti seragam sekolahku dengan pakaian itu. Selesai mengganti baju, aku langsung melakukan instruksi tadi. Aku mengambil krim vanilla dan serbuk mocca yang ada di ruang penyimpanan, lalu melangkah ke dapur.

“Chef, ada yang bisa kubantu?” tanyaku sambil mencuci kedua tanganku, tentu saja. Saat memasuki dapur, keadaan harus steril, bukankah begitu?

“Ne, tolong, keluarkan cheescake itu dari oven, lalu oles bagian atasnya dengan selai stroberi dan krim vanilla,” sahut chef yang tengah sibuk dengan adonan dan beberapa wajan yang sesekali dikontrolnya.

“Nee.. Nanti mau dibawa ke meja mana chef?” tanyaku lagi sambil mengoleskan selai stroberi dengan kuas yang sudah tersedia.

“Ada 2 porsi untuk meja 6. Dan 1 porsi untuk meja 2,” sahutnya lagi. Aku mengangguk meski ia tak dapat melihatnya.

“Oh nee…” Aku menyiapkannya dan bergegas mengantarnya. Namun begitu aku mengantarkan ke meja 2…

“Sunbae?” sapaku ragu. Benar atau tidak, sunbae di depanku ini, Choi Minho? Benarkah?

“Kau.. Bekerja disni?” tanyanya langsung. Aku tersentak dan mengangguk.

“Ne,” jawabku singkat.

“Wae?”

“Aku hanya ingin belajar mandiri. Haha,” balasku sambil tertawa garing.

“Dengan bekerja seperti ini?” sergahnya lagi. Kok aku serasa diwawancara ya?

“Ne. Oppadeul juga begitu,” jawabku sekenanya, mengingat Gikwang dan Donghae oppa yang juga bekerja sepertiku, hanya saja pekerjaan mereka sudah lebih ‘berkelas’ dibanding pekerjaanku.

“Oh. Sekarang duduk,” katanya tiba-tiba. Aku melongo.

“Mwoya??”

“Temani aku makan,” katanya lagi yang membuatku mulai grogi.

“A.. Aniyo.. Aku ga bisa. Aku karyawan..”

“Sudahlah.. Dibolehin kok sama bos. Lagian sepi sekarang, pengunjungnya cuma sedikit,” ujarnya lagi, yang membuatku terpaku.

“Tetap saja aku tidak boleh,”

“Boleh..” tegasnya yang membuatku langsung merinding.

“Ya sudah,”akhirnya aku pun duduk di hadapannya ketika bosku tersenyum ke arahku. “Cepat habiskan! Ottheyo? Massitayo?” tanyaku ketika ia mulai menyuap strawberry cheesecakenya itu.

“Sabar sihh… Neomu massita!” sahutnya sambil tersenyum. Ya Tuhan… andai saja aku terkena serangan jantung, aku bisa stroke duluan!

“Kalau begitu sering-sering datang ke sini ya!” sahutku. Yah, tak apa deh. Mumpung nambahin pelanggan, hehe…

“Pastinya. Begitu tahu kau kerja di sini..” katanya lagi yang membuatku langsung tercekat. Ya, aku memang bukan tipe yeoja peka tapi aku juga bisa salah tingkah kalau dalam situasi seperti ini.

Mwoya?? Apa katanya?? Jangan geer dulu.. Jangan geer dulu….

“Silahkan saja..”

“Hei.. Nih..” serunya sambil memberikan garpu yang sedang dipakainya padaku. Aku menatapnya bingung. Apakah garpunya terjatuh? Jadi kotor, begitu?

“Mwoya??

“Suapi aku,” ujarnya tiba-tiba. Aku mendleik menatapnya sambil menganga.

“Kau gak punya tangankah??”

“Yee.. Ngeyel. Cepetan ah!” idih, ini orang kok maksa sih ==

“Kaga maoo!!” seruku. Ia menelan ludahnya dan menyenggol lenganku. Maunya apa sih? Kalau dia seperti ini terus bisa-bisa jantungku tak bisa dikontrol lagi XD

“Ck, ah nih anak. Cepetan ah!!” ia menyenggol lenganku lagi.

“Sirreo!! Aku masih banyak kerjaan!!” sahutku dan kabur kembali ke dapur.

__

Pekerjaanku sudah selesai. Yeah, aku capek sekali, pengunjung hari ini lumayan banyak, padahal biasanya tidak ada setengahnya dari ini. Aku bergegas mengganti bajuku lalu melangkah keluar cafe. Dan.. Aku menemukan…

“Saengi-yaaaa~” sebuah suara berat yang sangat kurindukan terdengar dari arah luar. Aku menoleh cepat.

“Oppa!! Kapan datang?” tuh kan, dugaanku benar. Oppaku, Lee Donghae, ada di sini sekarang. Aku berlari kecil menghampirinya dan langsung memeluknya erat.

“Barusan beristirahat sepulang dari bandara. Dan.. Kau….” ujarnya sambil memeprhatikan tubuhku dengan seksama. Baiklah, aku hanya bisa menelan ludah khawatir sekarang ”Ya!! Kau tambah kurus!! Kau sangat kurus!! Kau menyiksa dirimu hah??” bentaknya tiba-tiba tepat didepan wajahku.

“Enggak oppa, aku sama sekali gak nyiksa diri kali. Ga tau deh kok jadi gini. Yang penting setiap hari aku makan kok!” sungutu pelan. Yah, meski terkadang nafsu makanku sering overload…

“Jinchayo?” aish oppa ini percaya pada adiknya tidak sih?

“Iyaa!! “ balasku juga.

“Hahaha, asik deh. Kau jadi lebih manis kalau begini…” hadeh, ini lah sifat asli oppaku. Dihadapan orang lain sih pendiam, tapi begitu jiwa aslinya keluar.. SUKA GOMBAL!

“Aihh, oppa mah bisanya gombal doang! Bagaimana keadaan Sicca eonni?” tanyaku mengalihkan topik sembari melangkah keluar dari café.

“Aku akan melamarnya segera,” desahnya sambil menerawang. Mataku membulat senang. Kuharap ini bukan sebuah candaan.

“Jinchayo?? Yeeey!!! Akhirnya aku dapat kakak ipar jugaa…” seruku senang. Donghae oppa hanya tersenyum.

“Haiishh.. Kenapa sih kau begitu lucu heumm? Kalau begini lama-kelamaan lebih baik aku melamarmu daripada melamar Sicca,” ujarnya tiba-tiba sambil mencubit kedua pipiku gemas. Kayaknya bukan gemas lagi deh, sampai sakit banget begini, huhu…

“Yaikkss oppa! Sakit!” seruku sambil memukul pelan lengannya. “Oppa aneh ih, kita kan saudara sedarah oppa, mana mungkin menikah!” ia mengacak rambutku lembut.

“Hehehe.. Sudahlah, kkaja, ayo kita pulang!” dan kami tengah berhadapan dengan motor sport oppa yang super duper keren. Tidak hanya motornya, yang punya juga keren banget! Kena jampi-jampi apa yah aku, kok bisa punya oppa sekeren Donghae oppa?

Sesampainya dirumah, kami langsung disambut oleh eomma dan Gikwang oppa. Omo, ia begitu keren dengan rambutnya yang masih basah itu. Kenapa yah, oppadeulku kok keren semua? Sedangkan aku tidak? Heu.. Nyakiit!!!

“Eomma!! Oppa!!” seruku sambil menerobos masuk ke dalam rumah.

“Kau mandi dulu sana! Bau tau!” eommaku berseru sambil menepuk pundakku. Aku mengerucutkan bibir. Namanya baru pulang ya pasti bau lah eomma!

“Nee..” sahutku menurut. Gikwang oppa yang berdiri di samping eomma nampak berusaha menahan tawanya. “Apa yang kau tertawakan hah?”

“Aniyo… Hahaha…”bukannya mereda, tawanya malah mengeras. Haish..

“Ya! Oppa! Belum sikat gigi ya? Mulutmu bau!”

“Ehh.. saengi durhaka. Aku sudah sikat gigi tahu!” balasnya sambil menjitak kepalaku.

“Haish aku mandi dulu!” aku melangkah ke belakang tempat jemuran handuk.

“Mandi yang bersih ya!” samar-samar kudengar suara Gikwang oppa cekikian di belakangku.

“Atau mau kumandikan, Heenie-ahh?” Kini suara Donghae oppa yang berkicau. Hya… mereka suka sekali menggodaku!

“Ya! Oppa! Aku sudah besar tahu!” sahut ku kesal, tapi kedua oppaku malah ngakak. Ckckck…

Dan akhirnya aku masuk ke kamar dan bergegas mandi. Setelah selesai mandi, aku menggunakan handukku untuk mengeringkan rambut. Lalu melangkah keluar kamar.

“Ya!! Saengi-yaa… Kenapa kau begitu kurus??” Donghae oppa berseru tak terima padaku. Aku membulatkan mataku kaget.

“Mwo??”

“Tak apalah, donghae, lagipula lebih baik seperti ini, ya kan Son Hee?” ujar eomma bijak. Aku hanya nyengir tanpa berkata apapun.

“Sudah.. Sudah.. Lupakan soal kurus atau enggak. Sekarang kita makaan!!” dengan semangat ia langsung menyendokkan sesuap besar kimbap hingga mulutnya menggelembung. Astaga… oppaku brutal sekali…

“Oppa, kau sangat bersemangat. Sebenarnya berapa lama kau tidak makan kimbimbap heuu?” ledekku yang masih memegang sumpit bersih, belum tersentuh makanan apapun. Donnghae oppa mengangkat kepalanya sejenak, lalu nyengir dengan mulut penuh makanan.

“Sudah setahun saeng… Dan tidak ada apa-apa disana…” jawabnya dengan tampang memelas. Hah, aku malah ingin tertawa melihatnya.

“Hah? Tidak ada kehidupankah disana?” tanya Gikwang oppa polos. Aku Cuma bisa ngakak sambil mencomot udang goreng dan menyuapkan kimbap ke dalam mulutku.

“Hahh.. Dongsaengku yang ini kok pabonya sama sih kayak Sicca. Maksudku tuh kaga ada masakan korea yang benar-benar enak disana.. Apalagi.. Masakan eomma kan selalu khas.. Ehehehehe….” jawab Donghae oppa sambil terus nyengir.

“Merajuk tuh eomma!” seruku dan Gikwang oppa serempak.

Author POV

Son Hee sedang berkutat dengan berbagai macam soal matematika yang ada di hadapannya ketika jarum pendek jarum jam sudah menujuk ke angka 3, menandakan ia mulai mempersiapkan olimpiadenya bersama parternya, Cho Kyuhyun. Kepalanya mulai terasa panas saat mengerjakan soal ke-lima puluh.

“Hyahhh aku tidak kuat lagi! Hanya segini kemampuanku! Aku harus mengistirahatkan pikiranku,” pekik Son Hee sambil membanting penanya. Kyuhyun menatapnya sambil mencibir.

“Dasar. Kau ini memang kurang latihan ternyata. Ya sudah, berapa soal yang kau selesaikan?” tanya Kyuhyun pada Son Hee yang sedang memijit keningnya.

“Lima puluh dari tujuh puluh lima soal. Heuu…” desahnya sambil merilekskan otot tengkuknya yang hampir kram karena selama satu setengah jam terakhir ia terus menunduk dan berkutat dengan soal-soal itu.

“Hm, tidak buruk untuk hoobae sepertimu,” gumam Kyuhyun dan mulai memeriksa jawaban Son Hee.

“Otte? Kuharap tidak banyak yang salah,” gumam Son Hee sedikit harap-harap cemas. Kyuhyun menyipitkan matanya beberapat saat, lalu menggoreskan pensilnya di atas jawaban Son Hee.

Cklekk..

“Hey, Cho Kyuhyun!” sebuah suara menyambut dari luar pintu. Son Hee menoleh dan mendengus. Sementara yang disapa menyambutnya dengan senyum lebar.

“Kenapa oppa ke sini?” tanya Sopn Hee sedikit jutek. Namaj yang baru masuk itu, Gikwang, menoleh menatap saenginya sambil nyengor lebar.

“Tugasku melatih di bidang fisika sudah selesai. Ya, kau belum selesai juga?” tanya Gikwang dengan nada sedikit mengejek. Son Hee memeletkan lidahnya sejenak lalu meraih penanya.

“Tentu saja belum. Aku hampir gila di beri soal sebanyak 75 oleh chingu evil oppa satu ini!” tunjuk Son Hee sedikit kesal. Kyuhyun menurunkan lembar jawaban yangs sedang di periksanya dan menatap Son Hee garang.

“Apa katamu barusan?” desisnya. Son Hee hanya nyengir kuda.

“Animnida,” sahutnya singkat. “Oh, ayolah, sudah selesai belum? Aku sangat keroncongan belum makan siang,”

“MWO? Belum makan siang? Pabo!” seru Gikwang. Son Hee hanya nyengir kuda, sementara Gikwang menatapnya tajam.

“Hehe, mianhae, habis aku masih ada urusan dengan…” belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Gikwang sudah menyeretnya keluar.

“Ya! Kyuhyun-ah! Aku bawa saengiku ini makan dulu, bisa diomeli habis-habisan aku oleh hyungku kalau sampai dia telat makan,”

“Ya! Oppa! Apa-apaan! Tadi aku sempat mengganjal perutku dengan roti kok!” sela Son Hee tak terima.

“Ah, pokoknya sekarang kau makan dulu, oke? Oppa yang traktir,” Son Hee mengangkat sebelah alisnya ketika oppanya mengatakan sebaris kalimat itu.

“Tumben oppa mau mentraktirku,”

“Ya, jangan berpikir yang macam-macam,” ancam Gikwang. Son Hee hanya menahan tawanya.

“Ya, anggap saja kalau aku berpikir kalau oppa hendak menyogokku untuk meminta nomor telpon dan alamat e-mail Hyosung, hahaha,” Son Hee terkekeh sendiri. Gikwang hanya berdecak kesal.

“Kau benar-benar usil! Sudahlah, kau mau pesan apa?” tanya Gikwang. Son Hee berpikir sejenak, sebelum akhirnya memutuskan.

“Ramen dan kimchi soup!” seru Son Hee semangat.

Son Hee POV

“Ya, Lee Son Hee pabo. Sedari tadi kau dipanggil tapi tidak menyahut,” tiba-tiba Sung Ran sudah berdiri di hadapanku yang sedang duduk manis bersama novel kesayanganku. Sunshine Becomes You.

“Waeyo? Aku tidak mendengarmu Sung Ran-ah, kau tahu sendiri kan kalau aku sudah baca novel,” sahutku sambil nyengir. Sung Ran hanya memutarkan bola matanya kesal.

“Aniyo, hanya ingin memberitahumu, mau triple date tidak?”

“Mwoya?” seruku kaget. “Triple date?”

“Ne, aku dengan Taemin oppa, Minchan dengan Key sunbae, kau…” ia menimbang-nimbang sejenak. Aku langsung menyilangkan kedua tanganku di depan dada.

“Andwae. Kalau pasangannya Gikwang oppa aku tidak akan mau,” sahutku keras. Sung Ran langsung terbahak.

“Tentu saja bukan pabo! Aku akan memasangkanmu dengan Minho sunbae,” ujarnya lagi. Aku menghembuskan napas lega. Tapi aku baru mencerna kata di akhir kalimatnya tadi. Aku menerjapkan mataku.

“Mwoya? Minho sunbae?”

Author POV

“Nde? Triple date?” Minho berseru keras saat Key dan Taemin menceritakan rencana mereka.

“Ne, kalau double date itu sudah biasa, makanya lebih baik mencoba triple date, aduh! Sakit Taemin!” maki Key ketika kakinya diinjak oleh Taemin. Taemin hanya menatapnya sambil mengerutkan keningnya kesal.

“Kapan memangnya?” tanya Minho pada akhirnya. Taemin dan Key sama sama membulatkan mata mereka.

“Kau menyetujuinya?” tanya Taemin ragu. Minho mengangguk yakin.

“Ne, tentu saja,” jawab Minho tegas. Tiba-tiba Kwangmin dan Youngmin berlarian memasuki kelas, membuat ketiga namja itu menoleh heran.

“Ya! Kalian itu kenapa?” Tanya Taemin bingung. Kwangmin dan Youngmin hanya mengatur napas mereka yang masih satu-satu.

“Hh.. ada rumor… hhh.. kalau… hh..” Youngmin berusaha memberitahu apa yang ada di pikirannya, karena wajahnya nampak panik sekali.

“Rumor? Rumor apaaan?” sergah Key bingung. Ia mengguncang-guncang bahu Youngmin. “Ya! Pabo! Cepat katakan!”

“Kyuhyun sudah punya pacar anak kelas X. Namanya Lee Son Hee,” jelas Kwangmin saat napasnya sudah teratur. Youngmin hanya mengangguk membenarkan ucapan Kwangmin.

“MWOYAAA??” seru Minho, Taemin dan Key serempak.

“Bagaimana bisa?” Minho menetralkan suaranya lagi, merasa masih gengsi mendengar berita itu.

“Kemarin, mereka berdua berjalan berdua di koridor sekolah,” jawab Youngmin polos. Key menjitak kepalanya. “Adawww..”

“Bagaimana bisa disimpulkan kalau mereka berdua pacaran hanya karena ‘berjalan-berdua-di-koridor-sekolah’ hah??” pekik Key kesal.

“Masalahnya, mereka berjalan berduaan lama sesudah jam pulang sekolah,” gumam Kwangmin. Minho mengerutkan keningnya. Pulang sekolah?

__

“Hahahahahaha…” Son Hee tertawa ngakak saat kedua temannya menatapnya penuh tanda tanya. “Kalian salah pahamnya terlalu sekali sih!”

“Lah, kalian berdua hanya berduaan, di koridor sepi, ngobrol akrab, lama sesudah pulang sekolah pula! Apalagi kalau bukan pacaran coba,” cerocos Minchan tidak terima. Son Hee memegangi perutnya yang sakit karena tertawa.

“Kalian benar-benar lucu. Untuk apa aku pacaraan dengannya? Ia hanya melatihku untuk mengikuti olimpiade matematika, hahahaha…” Sung Ran dan Minchan saling pandang.

“Tapi…”

“Sudahlah, kalau kalian mau bukti, kalian bisa membuntutiku sepulang sekolah,” ujar Son Hee santai.

“Baiklah, baiklah, kami percaya padamu,” Sung Ran dan Minchan akhirnya menyerah.

“Hei, ada yang mau ikut aku ke perpustakaan?” ujar Son Hee. Keduanya menggeleng tanpa berpikir lagi. Son Hee mengulum senyum tipis lalu melangkah keluar kelas.

Ia melangkah dengan tenang, sangat tenang. Tapi banyak sekali haksaeng-haksaeng yang memperhatikannya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Ia memang merasa sedikit risih, tapi ia mencoba untuk tidak memperhatikannya. Tiba-tiba matanya menangkap sosok Key , Taemin dan Minho menuju ke arah kelasnya.

“Annyeong haseyo sunbae,” sapanya ramah yang membuat ketiga namja itu melongo. Tiba-tiba Key ingat dengan apa yang dikatakan si Kembar itu dan langsung mengacungkan jari telunjuknya ke depan wajah Son Hee.

“Ya! Kau! Apa kau benar-benar pacaran dengan Kyuhyun?” serunya keras. Son Hee hanya membulatkan matanya polos.

“Nde? Mwoya?” tanyanya bingung.

“Haish, apa kau benar-benar pacaran dengan Kyuhyun?” cerocos Key lagi.

“Hahaha, aniyo sunbaenim,kami tidak pacaran kok, selera humor kalian tinggi sekali hahaha…” balas Son Hee yang tawanya langsung meledak seketika.

“Geundae, kalian jalan berdua di koridor itu?” tanya Minho penasaran. Son Hee berusaha meredakan tawanya, lalu menatap Minho lurus.

“Ia membantuku menyiapkan olimpiade matematika,” sahutnya kalem. Ketiga sunbaenya hanya ber-oh ria. “Geurom, aku ke perpustakaan dulu ya, annyeong,” lanjutnya dan meneruskan langkah ke arah perpustakaan. Minho tercenung, sementara Taemin dan Key sudah melangkah meninggalkannya.

“Ya! Choi Minho! Kau ngapain di situ?” tanya Taemin seraya berseru. Minho menoleh, lalu bergegas mengikuti mereka.

“Eh, mian mian..”

“Kkaja!!”

TBC

OTTHEYOO?? #plakkk Bahsanya sedikit, berubah, nah besok udah berubah semuaa!! #pletaksss Semoga feelnya masih dapet yaa XDD

Gomawo yang sudah baca, komen , kritik dan saran ditampung semuaa XDD

 

credit by : whiteee13

FF] Your Love Is Too High – PART 2

Title : Your Love Is Too High

Author : ReeneReenePott

Maincast : Choi Minho, Lee Son Hee(reader: dasar author narsis!! Author : *tutupkuping* aku ingin beginiii aku ingin begituuu.. aku ingin ini itu banyak sekaliiii~~)

Supportercast : Lee Taemin, Kim Kibum/Key, Kang Minchan (a.k.a Mahita), Kim Sung Ran (a.k.a Charismagirl), Lee Donghae, Lee Gikwang, Cho Kyuhyun, Kim Jonghyun, Yong Junhyung, Goo Hara, Jo Kwangmin, Jo Youngmin, Hwang Tiffany, Choi Sooyoung

Genre : Romance, Comedy, Fluff, School Life

Length : Sequel

Rating : Teen

A/N : ANNYEONG ^o^ kali ini aku membawakan FF jadulku, yang dibuat pasca Go away ._.V hanya sedikit yang kupoles, Cuma konflik dan beberapa bagian. Kubuat ringan supaya akunya gak bingung sendiri ^^V Mian kalo baahasanya masih rada-rada kasar, hehe ^^

Part 2

Son Hee POV

Hari ini pelajaran olahraga. Gak masalah sih kalo senam lantai atau apalah. Tapi? Ini? Basket? Haduh coach, walaupun aku tahu tekniknya dan berusaha keras supaya dengan benar bolanya masuk ke tempat yang seharusnya, maaf aja kalo badanku tidak bisa di ajak kompromi jadi bolanya melayang ke kepala coach bukan ke ringnya.

“Ya! Sekarang kalian akan dibantu oleh sunbae kalian dari kelas 3… Kita bagi jadi 5 kelompok… bla.. bla… bla..” sudahlah coach, kau ngomong apa pun aku tak mengerti. Kepalaku sudah mau pecah bayangin muka coach yang marah kalau bola basket melayang ke kepalanya.

“Ya! Kau! Lee Son Hee!! Ngapain bengong hah?? Masuk ke kelompok sana!!” seru coach menyadarkanku dari lamunanku yang gak jelas pada tempatnya itu.

“Hee?? Eh… ne coach!!” seruku dan langsung beranjak ke kelompok yang ditunjuk coach.

“Ppali! Sunbaemu sudah mulai mengajar!” pekiknya lagi.

“Nee!!” seruku malas. Heuu~

“Ppali!! Son Hee-yah!! Kyaaa~” pekik Soo Jung tak jelas. Aku merenyit sambil mendekatinya.

“Kau kenapa sih teriak-teriak begitu?” tanyaku penasaran.

“Igeoo.. Minho sunbae!! Kyaa~ keren!!” pekiknya lagi.

“Mwoya??” gumamku sambil melotot pada sunbae yang baru tadi kutabrak. Hohoho.. mianhae sunbae… kalau nanti dengan terpaksa aku memberikan sesuatu di jidat sunbae…

“Waeyo?? Apa kau tak menyukainya?” Tanya Soo Jung bingung dengan tingkahku.

“Aniyo! Aku bukan fansnya!” ujarku. Jujur lho, aku kan bukan fansnya, tapi aku menyukainya, ekkkee~~

“Halah, nanti juga naksir!” seru Soo Jung lagi.

“Huh! Memangnya si Minho sunbae itu yang mengajarkan kita?” tanyaku yang disambut dengan anggukan semangat dari Soojung.

“Ne, kalau Minchan kelompoknya Kibum sunbae, kalau Sung Ran kelompoknya Taemin sunbae. Kyaaa mereka jodoh sekalii..” pekik Soo Jung lagi. Akupun mengedarkan pandangan ke sekelilingku.

“Bahkan Youngmin mengajar Caerin..” gumamku saat melihat Youngmin memegang tangan Caerin, mengajarkan cara memegang bola yang baik dan benar. Romantis sekali.

“Geurae… Caerin itu yeojachingunya!” seru Soo Jung lagi. Aku mendelik.

“Hoaa? Jinchayoo? Kok aku gak tahu?” kataku tertahan. Soo Jung hanya memutarkan kedua bola matanya.

“Kau kerjaannya melamun di kelas mulu sih.. belajaaar mulu. Gak capek tah?” Tanya Soo Jung lagi. Aku memiringkan kepalaku.

“Gak juga. Lagipula tugasku memang banyak kok,” kataku membela diri.

“oh..” katanya pada akhirnya. “Ehh.. sekarang giliranmu!” katanya sambil menepuk pundakku. Aku menoleh bingung.

“Mwo? Aku harus ngapain?” kataku gugup ketika dengan ajaib sebuah benda bundar-takbersudut-oranye-garishitam sudah ada di tanganku.

“Lay up!! Lay up!!” bisik Soojung. Aku hanya mengangguk.

“Silahkan coba lay up, Son Hee-ssi,” kata Minho sunbae sambil bersiap memperhatikanku. Err.. tepatnya memperhatikan gerakanku.

Well, lebih baik lakukan saja deh daripada di paksa T^T

Tap..

Tap..

Syuuut…

Tuing….

Jeduaaakkk…

“Akh!! Mianhae sunbae!” pekikku ketika melihat Minho sunbae sudah tepar karena benda-bulat-oranye-garishitam itu mencium jidatnya yang mulus itu dengan sukses, sempurna, dan di tempat yang strategis. Aku melongo, bingung harus melakukan apa. Sekarang, kalian coba pikirkan, apa yang harus kalian lakukan bila kalian di kelilingi dengan tatapan menghina seakan mau membunuhku dalam sekejap ini?

“Kau harus tanggung jawab Son Hee!!” kata Soo Jung memperingatiku. Aku langsung lemas seketika.

“Haduhh, gimana dong?” ujarku pasrah.

“Siapa yang melempar bolanya?” suara coach yang menggelegar membuat bulu kudukku berdiri.

“Sa.. saya coach..” jawabku jujur. Udah, jujur ajadah, daripada gak jujur, sangsinya lebih mantep daripada yang jujur. Lagi pula, jaman sekarang jujur itu mahal, kecuali jujur kacang ijo (??)

“Huh. Kau lagi. Dari pertama masuk sini memang tak pernah bisa basket. Ya sudah, bawa sunbaemu ke UKS,” kata coach tak berperasaan.

“Ne.. coach,” kataku pasrah. “Eh.. coach..” kataku lagi karena mengingat sesuatu. Coach hanya menoleh malas.

“Apa lagi?”

“Gimana saya bawanya coach? Bayangin deh coach, bandan dia seberapa, badan saya seberapa..” kataku sambil membandingkan besar-kecilnya badanku dengan badan Minho sunbae.

“Ah, kau ini. Ya sudah, minta Jong Hyun untuk membawanya. Dan ingat, kau yang harus menungguinya!” kata coach lagi dengan kejamnya.

“Ne.. coach,” kataku kalem lalu mengikuti Jong Hyun sunbae yang sudah mulai mengangkat tubuh Minho sunbae.

“Heu. Jadi kau hoobae yang payah basket itu yah? Hahh.. merepotkan saja..” katanya yang membuatku ciut.

“Ne, sunbae. Mianhamnida sudah merepotkanmu,” kataku takut-takut.

“Sudahlah. Sekarang ikut aku ke UKS,” katanya singkat.

Heuu.. aku telah mencelakai Minho sunbae. Akh, aku harus bagaimana sekarang? Aku memang tak berguna. Dan aku harus menungguinya? Hah. Ini lebih baik daripada harus mengikuti pelajaran coach yang pastinya membuatku mati kutu. Demi jjajangmyun eomma!!

Aku mengekor Jong Hyun sunbae sambil menunduk.

“Sekarang, kau kutinggal. Jaga dia, kompres benjolannya itu.” Katanya setelah membaringkan Minho sunbae di ranjang UKS. Aku mengangguk.

“Ne, sunbaenim. Gamsahamnida,” kataku sambil membungkuk. Lalu Jong Hyun sunbae tersenyum tipis dan berlalu.

Heu. Aku melangkah mengambil kain dan baskom berisi air es. Perlahan kudekati Minho sunbae yang tergeletak di ranjang UKS dengan benjolan segede telor di jidatnya, yang merupakan hasil karyaku. Minhamnida sunbae…

“Gila, ini benjolannya gede amat yak? Sekeras apa sih lemparanku?? Huaa.. kalo Hara sunbaenim sampe tahuu.. bakalan digorok aku, telah merusak wajah namjachingunya..” gumamku sambil mengkompres benjolan itu.

“Siapa yang namja chingunya siapa hah??” tiba-tiba suara Minho sunbae mengagetkanku.

“Omo.. sunbaenim! Kau sudah sadar?” tanyaku walaupun matanya masih terpejam.

“Katamu tadi, siapa yang namjachingunya siapa?” katanya lagi menghiraukan pertanyaanku.

“Err.. anu.. Minho sunbae namjachingunya Hara sunbae..hehehe..” kataku sambil menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Matanya terbuka seketika.

“Kata siapa?” tanyanya lagi, lebih tajam daripada peniti.

“Kataku tadi barusan, hehehe..”

“Kau suka banget ketawa gaje begitu sih?” tanya Minho sunbae lagi yang membuatku menghentikan tawaku yang rada-rada itu.

“Ga tau ya? Keturunan kali!” jawabku asal.

“Denger ya.. aku ga pacaran sama Hara. Dia itu..”

“Sahabat sunbae?” potongku.

“Ish, jangan dipotong dulu kenapa, dia itu.. sepupuku,” katanya yang denagn sukses membuatku melongo.

“Oh. Oh… OHHHHH???” pekikku kaget.

“Hahahahahahaha..” ia hanya tertawa nyaring. DISITUASI SEPERTI INI MASIH SEMPATNYA AKU TERPESONA OLEHNYA?? Aigoo…

“Baru tahu.. kupikir sunbae pacaran sama Hara sunbae,” kataku kalem.

“Jangan pernah berpikir seperti itu,” katanya tajam aku terlonjak.

“Tapi sudah terlanjur tuh..” kataku lagi.

Author POV

Minho memandang Son Hee yang tengah menyahuti perkataannya seenak udel. Ia memiringkan kepalanya, memikirkan kata-kata yang pas untuk mengunci Son Hee.

“Berarti… Aku harus mengubah pemikiranmu itu…” sahutnya juga seenak jidat. Minho bangkit dari posisi tidurnya, dan langsung menarik kepala Son Hee ke arahnya lalu mencium Son Hee tepat di bibirnya.

Karena tak ada respon apapun dari Son Hee, minho pun menghentikan ciumannya, takut bila nyatanya Son Hee menangis menerima perlakuannya yang pasti melanggar HAM#plakk. Namun nyatanya, Son Hee hanya memandangnya dengan mata terbelalak. Sekejap kemudian, Son Hee langsung ngibrit ke luar uks, meninggalkan Minho yang masih kaget dengan apa yang barusan dilakukan Son Hee.

Son Hee berlari ke kamar mandi perempuan yang jaraknya 3 lantai dari UKS. Ia langsung masuk ke salah satu biliknya, menguncinya dan berjongkok di situ. Ia menyentuh tengkuknya, bekas sentuhan tangan Minho, terasa hangat. Dan ia juga menyentuh bibirnya yang masih basah, berpikir apa yang telah tejadi pada dirinya. Jantungnya masih berdegup dengan sangat cepat, membuah seluruh tubuhnya terasa panas.

Son Hee terus berdiam di situ hingga terdengar bunyi bel tanda bergantinya pelajaran. Ia baru mau melangkah ke luar toilet dan dengan langkah hati-hati ia kembali ke kelasnya, duduk di bangkunya dan menelungkupkan kepalanya.

Minho POV

Aigoo, apa yang telah kulakukan? Apakah aku telah kehilangan akal sehatku? Bagaimana kalau nanti dia membenciku? Bagaimana kalau nanti dia melapor ke oppanya… Bagaimana kalau nanti dia… Arrgghh!!! Kenapa aku tidak dapat mengendalikan diri tadi?? Dia itu hanya yeoja aegyo yang gak tahu apa-apa!! Aigoo… Minho pabo!! Kalau dia minta tanggung jawab bagaimana? Haish, dan pasti dia langsung lari entah kemana. Aigoo… Choi Minho.. Kau benar-benar paboo!!!!

Akh… Eotthoke? Padahal dengen baik hati dia sudah mengompres hasil karyanya di keningku. Heu~ ya sudahlah. Aku pun melangkah kembali ke kelas dengan perasaan gamang. Akh.. Aku menodai hoobaeku sendiri!! Andwaee!!!

Chingudeulku sudah kembali ke dalam kelas semua ternyata.

“Minho-ya!” seru Kwangmin yang membuatku menoleh malas.

“Ne?”

“Gwaenchanna?” tanyta Taemin polos dengan nada khawatir. Tentu saja polos, kan aku kena bola, bagaimana bisa aku baik-baik saja?!

“Kau.. Hahahahaha.. Melas sekali kau.. Hahahahahaha…” seru Key, si namja setengah botak yang cerewet sekali, mirip ummaku. Aku hanya meliriknya sinis, tak menanggapi ucapannya. Tidak ditanggapi saja sudah berkicau terus, bagaimana kalau ditanggapi lagi?(Author dirajam lockets)

“Jangan meledeknya deh Key…” sahut Jjong, nama sebenarnya sih Jong Hyun tapi panjang sekali namanya jadi disingkat saja. Lagipula orangnya juga tidak keberatan kok, hehehe.

“Gomapta Jjong…” cetusku pelan. Jjong hanya menyambutnya dengan senyuman.

“Ah.. Dia sedang malas bicara rupanya.. Wae? Apa kau.. Dan hoobae itu…” Youngmin menggantungkan kata-katanya, membuat kumpulan ini menoleh bingung ke arahnya. Ya, haksaeng yang lebih mirip dengan hoobae itu suka sekali memprovokator sesuatu.

“Mwo?” tanyaku heran, begitu semua tatapan menuju ke arahku dengan cengiran khas setan.

“Ah.. Kau pasti tahu maksudku…” lanjut Youngmin lagi lalu menatapku seakan mengerti sesuatu. Hei? Kenapa sepertinya aku jadi bulan-bulanan mereka sekarang?

“Mwoya? Jincha Choi Minho? Neo?” seru Jjong tiba-tiba. Grr.. anak ini.. aku menyesal sudah berterima kasih padanya!

“Waee? Aku tak melakukan apapun padanya!!” tukasku tajam. Sepertinya aku tahu akan kemana arah pembicaraan ini berjalan…

“Jangan mengelak, wajahmu sudah cemberut begitu. Ada sesuatu yang telah tejadi,” Ck, si magnae ikut-ikutan.

“Hahahahahaha… Uri Minho sudah besar…” kini si mak lampir (Author dicincang lockets) tertawa terbahak-bahak diatas penderiataan Arjuna (??)

“Apa maksudmu hahh?”Sahutku sambil menjitak kepala setengah botak milik Key.

“Yak~” protes Key sambil mengelus kepalanya itu.

“Hei, beritahu aku bagaimana rasanya,” tiba-tiba Jjong merangsek mendekatiku yang kebingungan.

“Apaan sih?!”

“Lah, bukannya kau sudah ada apa-apa dengan hoobae itu?” cetus Kwangmin yang sedari tadi diam memperhatikan kami berdisikusi dengan mesra (??)

Author POV

“Ya!! Ya!! Apa berita yang barusan ku dengar? Neo?? Dengan seorang hoobae?? Ahahahaha.. Aku lega.. Mana hoobae itu?? Pokoknya aku harus melihatnya…” cerca Hara semangat, tanpa meperdulikan wajah Minho yang sudah ijo-merah-biru-kuning.

“Yaa!! Apa maksudmu hahh???” bentak Minho kesal, membuat Hara cekikikan yang mengundang tatapan terpesona dari Kwangmin.

“Aku sudah mendengarnya dari radius 5 meter dari sini.. Hahahahaha…” sahutnya sambil memegangi perutnya yang mulai sakit.

“Wah, kau mendukungnya dengan hoobae itu ya?? Toss… Hahahahaha..” seru JongHyun sambil ber-high five dengan Hara.

“Jinchayo kalian ini.. Haishh!!!” racau Minho sambil mengacak rambutnya sendiri.

“Kenapa sih Ho?? Sewot amat.. Ahahaha.. Aku balik dulu ya??” kata Hara tiba-tiba, yang disambut dengan anggukan dari kerumunan itu. Kecuali Minho, yang kini tengah menutupi wajahnya kesal.

“Psst.. Beritahu aku, sudah sejauh mana hubunganmu dengan hoobae itu haa???” godanya sambil menyenggol-nyenggol lengan Minho.

“Mwoo???” seru Minho hingga terlonjak dari tempat duduknya.

“Dia.. Maksudmu Jjong?? Hoobae yang melemparkan bola basket ke kepala Minho itu??” tanya Key tiba-tiba, baru nyambung dengan percakapan aneh mereka itu.

“Nee…”

“Itu kan…” Key bergumam pelan sambil menatap Taemin.

“Son Hee?? Temannya Sung Ran??” katanya pelan.

“Temannya Minchan juga kale!” balas Key sedikit sebal.

“Ya iya!!!”

“Manis gak menurut kalian anaknya???” tanya JongHyun semangat tiba-tiba.

“Kau mau apakan dia, Kim Jong Hyun??” suara Minho terdengar dingin, membuat Jonghyun bergidik ngeri.

“Hahahaha.. Minho marah..” celetuk Kwangmin, membuat sepasang mata kodok besar itu (author ditimpuk) berpindah memelototinya.

“Eh.. Mianhae Ho.. Aku ga tau.. Hehehehehe… Pikirku, kalo kau ga mau dia buatku saja…” ungkap JongHyun jujur, sejujur-jujurnya.

“Haish.. Jincha… Kalau kau mau mendapatkannya, lawan dulu si Gikwang…” balas Minho lemas.

“Mwoo?? Itu yeojanya Gikwang???” seru Kwangmin sambil membulatkan matanya.

“Aniyo… Dia itu dongsaengnya!!” balas Minho sambil mengibaskan tangannya. Serentak Key dan Taemin menoleh.

“Jincha??? Kenapa dia tak pernah bilang?? Yaikks,..” rintih Taemin ketika jitakan Key dengan sukses mendarat di kepalanya. “Ya! Apa-apaan kau hah?”

“Kau pikir, dengan orang seperti itu kita bisa mengorek informasi pribadinya heu??” balas Key sok tahu yang membuat Taemin langsung cemberut. Pikiran mereka langsung melayang ke setiap reaksi dan tingkah laku Son Hee yang menurut mereka lebih-baik-dia-jadi-seorang-mesin-saja. Bagaimana tidak? Orangnya sangat kalem, sampai karena kalemnya keterlaluan, ia tidak akan bicara bila tidak ada yang mengajaknya bicara.

“Iya juga sih..” tiba-tiba sebuah suara yang familiar terdengar. Minho dengan cepat menoleh ke asal suara itu, demikian pula Key dan temin. Merasa tertarik juga, JongHyun beserta Youngmin dan Kwangmin juga ikut-ikutan.

“Ne sunbae.. Aku bisa latihan sore ini. Habisnya oppa mengajar yang kelas 11, sedangkan aku belum ada tutornya, gamshamnida sunbae…” kedua mata Minho melebar. Taemin dan Key membulatkan mulutnya, dan bergaya sok dramatis#plakkk

“Bukankah itu hoobaenya? Kenapa ia bersama Kyuhyun??” celetuk Youngmin yang memang-tidak-peka-akan-suasana. Yang lain hanya meliriknya sinis, membuatnya kembali membungkam mulutnya, sambil terus menikmati adegan itu dari balik jendela kelas.

“Gwaenchanna, Son Hee-ssi, aku senang bisa membantumu… Eum.. Bolehkan aku memanggilmu saengi??” suara Kyuhyun yang berat tersebut membuat mata Minho semakin terbelalak lebar.

“Mwoya?? Eh?? Ehm.. Boleh sunbae..” jawab Son Hee ragu dan gugup. Key merenyitkan keningnya, sambil menatap Minho prihatin. Sementara Taemin tampak serius mendengarkan kelanjutan percakapan itu.

“Dan kau memanggilku oppa..” sahut Kyuhyun lagi.

“Ne oppa!!” balas Son Hee lantang. Walaupun tak terlihat, jelas gadis itu sedang tersenyum.

“Hm.. Daebak. Kau kembali ke kelas saja saengi-ya.. Sudah hampir bel…”

“Nee.. Annyeong oppa!!”

“Wah.. Kau kalah 1 langkah minho….” gumam JongHyun sambil menepuk-nepuk bahu Minho. Minho hanya meliriknya sinis.

Minho POV

Sesak. Aku memandangi sosok Son Hee yang masih tersenyum pada Kyuhyun. Sedetik kemudian pandangannya beradu pandang denganku, namun ia langsung membuang mukanya dan berlari menjauh. Akh… Pasti gara-gara itu.

“Arrrrggghhh!!!!” aku meracau frustasi. Tapi tak kusangka ternyata tindak-tandukku itu mengundang tatapan mencurigakan dari chingudeulku ini.

“Wae??? Jangan bilang kalau kau..” seru Youngmin sambil menggantungkan kalimatnya. Aku menatapnya tanpa ekspresi.

“Cemburu pada Kyuhyun??” lanjut Jjong yang sangat-sangat tepat sasaran di jantungku. JLEB.

“Hah… Jincha molla…” kataku sambil mengacak rambuit frustasi. Kuingat lagi pertemuan awalku dengannya. Ia memang sepertinya… kurang suka denganku? Ia sangat terburu-buru waktu itu. Tapi itu lebih baik dari pada dicueki olehnya seperti tadi!

Ya.. Aku harus melakukan sesuatu agar segalanya kembali normal..

Sepulang sekolah, aku mengekori Son Hee yang pulang naik bus sendirian. Heu.. Anak ini. Apa ia tidak khawatir ada yang mau menculik yeoja sepertinya hah? Namun sepertinya ia tenang-tenang saja. Haishhh kenapa malah aku yang sewot sendiri??

Tiba-tiba ia turun di depan sebuah cafe kecil. Tempat ini jauh dari sekolah, terletak di tepian kota. Untuk apa yeoja sepertinya ke tempat sepi—er..Mungkin sedikit ramai—seperti ini? Biarlah. Yang penting sekarang aku harus tahu apa yang akan dilakukannya.

“Annyeong agashi! Apakah aku terlambat??” sapanya semangat ketika ia sudah masuk ke dalam café itu. Terlambat? Apa maksudnya? Memangnya dia rutin datang kesini, begitu? Kalau tidak salah sih, karena otakku yang berkata seperti itu#plakk.

“Aniyo. Kau datang tepat waktu seperti biasanya. Cepat ganti pakaianmu, gunakan celemeknya dan bantu chef mengeluarkan cheescake dari oven!! Lalu tolong ambilkan krim vanilla dan serbuk mocca dari ruang persediaan!!” seru ahjussi yang menjaga meja kasir. Apakah dia bekerja di sini? Astaga… kenapa otakku lelet sekali sih loadingnya?

“Sip agashi!!” balasnya semangat. Kurasa ia memang yeoja bodoh nan ceroboh, bahkan sampai sekarang ia tak mengetahui bahwa aku berada tepat di belakangnya. Ketika sosoknya sudah menghilang ke ruang karyawan, aku kembali menoleh menatap kepada ahjussi kasir itu.

“Apakah ada yang mau di pesan, agashi?”

“Sepiring cheesecake,” jawabku spontan. Ahjussi itu tersenyum.

“Baiklah, silahkan menungu di salah satu meja,”

“Gamsahamnida,”

TBC

Makin geje dan garinggg T^T Otte?? Otte?? Feel ga dapet?? ini bahasa tulisannya terus bertransformasi nihhh *lukira transformer apee* #plakk Well, gamsahayoo bagi yang udah baca… apalagi komen!! XDDD

credit by : whiteee13

[FF] Your Love Is Too High – PART 1

 Title : Your Love Is Too High

Author : ReeneReenePott

Maincast : Choi Minho, Lee Son Hee(reader: dasar author narsis!! Author : *tutupkuping* aku ingin beginiii aku ingin begituuu.. aku ingin ini itu banyak sekaliiii~~)

Supportercast : Lee Taemin, Kim Kibum/Key, Kang Minchan (a.k.a Mahita), Kim Sung Ran (a.k.a Charismagirl), Lee Donghae, Lee Gikwang, Cho Kyuhyun, Kim Jonghyun, Yong Junhyung, Goo Hara, Jo Kwangmin, Jo Youngmin, Hwang Tiffany, Choi Sooyoung

Genre : Romance, Comedy, Fluff, School Life

Length : Sequel

Rating : Teen

A/N : ANNYEONG ^o^  akhirnya aku post sesuatu jugaaak XDDD silahkan dinikmatiii XDD

PART 1

Son Hee POV

Aku mendesah ketika bel sudah berbunyi lagi. Anak-anak semrawutan berebut keluar kelas, ke sebuah tempat yang mutlak harus dikunjungi bila istirahat yang terletak di lantai basement. Apalagi kalau bukan kantin?

Kenapa aku tidak ikut? Well, kalau aku tidak mau mencekik leherku sendiri, lebih baik tidak usah kesana. Kenapa? Yah, makanan disana memang setaraf hotel bintang lima. Namun harganya! Ekkh.. cukup membuatku menahan napas mengingat uang jajanku yang hanya cukup untuk membayar bus pulang-pergi dan membeli beberapa permen.

Jika kalian berpikir sekolahku mewah, yah, itu memang betul. Namun apakah aku kaya? Jawabannya tidak, walaupun aku hidup sangat berkecukupan. Eomma hanya memiliki usaha gathering disamping pekerjaanya yaitu seorang karyawan. Kedua oppaku, Gikwang dan Donghae sudah dapat menghidupi diri sendiri. Oppaku Gikwang masih satu sekolah denganku, sementara Donghae oppa sudah kuliah dan mendapat beasiswa di luar negri. Sedangkan aku? Yah, aku kerja part time di sebuah café kecil di pinggiran kota Seoul. Memang seharusnya eomma bisa menggidupi kami berempat—setalah appa meninggal sewaktu aku SMP—namun apa salahnya jika aku belajar bertanggung jawab sendiri.

Jadi kenapa aku bisa bersekolah di sekolah yang ‘waw’ ini? Well, mungkin kalian mengetahuinya. The B’Goss Korean International High School. Aku melongo saat eomma mengabarkan bahwa aku bersekolah di sini. Well, aku cukup jelas juga ketika tahu teman appa yang membiayai sekolahku, karena… eum.. aku kurang jelas dengan itu. Apakah karena prestasiku?

Hah. Prestasi. Peraih juara umum selama 3 tahun berturut-turut memang patut dibanggakan. Namun nyatanya? Aku tidak bangga dengan diriku sendiri. Apanya yang menarik dari dirku? Tubuh yang harus bermasalah dengan berat badan—well, tubuhku tak selangsing Choi Sooyoung, putri pertama pemilik sekolahan ini—behel atas-bawah, jerawat bertebaran disekujur kening dan pipi, aku tak pernah menganggap diriku spesial. Namun dapat kuakui bahwa badanku sedikit mengurus semenjak aku masuk SMA dan kerja part time. Ingat. Sedikit.

“Ya! Lee Son hee! Berapa banyak berat badan yang kau hilangkan kali ini?” suara Sung Ran yang cempreng langsung menyerang gendang telingaku ketika aku masih asyik berkutat dengan buku Sejarah.

“Mollayo, aku tahu tahu.” jawabku cuek yang ditanggapi dengan tatapan heran Sung Ran.

“Kau tampak sangat kurus,” katanya ulang. Aku menatapnya tak percaya.

“Jinja?? Huufft.. Sekurus-kurusnya aku, tetap saja gemuk,” tukasku lagi.

“Kau.. Kau jadi kurus sekarang! Beritahu aku, berapa kali kau makan dalam sehari??” Aku tahu, Sung Ran, mungkin kau ingin menyenangkanku, tapi kurasa tak ada yang berubah dari tubuhku ini.

“Tentu saja 3 kali. Kau pikir aku apa hingga makan kurang dari 3 kari sehali?” jawabku sambil menatap Sung Ran heran.

“Yaa! Kau tahu ada acara di sekolah ini???” tiba-tiba Minchan datang entah dari mana dan langsung mengoceh tak jelas.

“Mollayo,” sesuai pribadiku, aku menjawab dengan padat, singkat, dan jelas.

“Ah, kau ini. Kuper banget sih??” cerca Minchan yang menusuk hati#apadeuh. Ya, ya, ya, aku memang kuper, dari dulu malah. Masa dia baru sadar sekarang sih?

“Aku.. Memang kuper kan dari dulu??” tanyaku memastikan. Kedua temanku hanya memutar-mutarkan bola mata mereka.

“Tapi ini sudah terlalu PARAH!!” pekiknya keras.

“Sudahlah Minchan-ah, kau yang sabar, dia kan memang begitu…” kata Sung Ran sambil menepuk-nepuk bahu Minchan. Hei.. Apa maksudmu hah, Kim Sung Ran?

Ya.. Ya… Ya. Aku kuper, apalah, segala macem. Bla bla bla cuihh. Aku menatap kedua temanku ini. Kim Sung Ran dan Kang Minchan. Yang satu anak pengusaha sukses, yang satu anak komposer hebat. Aku jadi canggung sendiri. Apalagi mereka sering memaksa untuk mentraktirku. Aku sungguh tak enak pada mereka.

“Minchan-ah, kau lebih berisi ya?” kataku sambil memperhatikan Minchan dari atas sampai bawah.

“Jinjaa??? Hehehe.. Key oppa sukanya yang tembem-tembem sih.. Kke~ lagipula ia suka memberiku makan…” jawabnya malu-malu.

“Hee? Iya yah. Ck ck. Key harus kuberitahu, kalau ia tak mau punya istri seperti balon, sebaiknya ia memberitahumu untuk diet,” kata Sung Ran menyetujui ucapanku sambil menghindar dari jitakan Minchan.

“Ya!! Kau pikir aku apa huh??” seru Minchan tak terima.

“Hahaha…” tawaku dan Sung Ran menggema. Minchan memeletkan lidahnya.

“Kau juga. Taemin? Hah. Diajak makan lolipop mulu. Ga bosen?” sindirnya. Sung Ran hanya mengerucutkan bibirnya tak paduli.

“Tidak hanya lolipop kok. Ia mengajariku main gitar dan popping dance,” kilah Sung Ran sambil memainkan dasinya.

Heuh. Sungguh iri aku dengan teman-temanku ini. Cantik, berasal dari keluarga kaya, berbakat, punya pacar yang perfect Pula. Sedangkan aku? Hah. Boro-boro pacar. Teman dekat saja tidak ada.

“Son Hee, sebaiknya kau cari pacar juga,” ujar Minchan yang membuatku kaget.

“Mwoo? Jangan bercanda Minchan. Mana ada yang mau denganku?? Gadis kutu buku dan jerawatan begini??” kataku ketus sambil menunjuk-nunjuk jerawat yang bertengger di pipiku.

“Itu karena kau sering tidur malam dan lupa mencuci muka!!” bentak Sung Ran persis salesgirl sebuah nama kosmetika.

“Hehehe…” Aku hanya bisa nyengir tiga jari menjawabnya.

“Berubahlah untuk orang yang kau sukai!” tukas Minchan tiba-tiba setelah beberapa saat berpikir. Aku mendelik menatapnya tak percaya.

“Nee? Aku tak mengerti.”

“Ahh.. Masa ga ngerti??” seru Sung Ran berbinar setelah menyadari kata-kata Minchan yang bagai teka-teki silang.

“Iya. Padahal jelas telihat di raut wajahmu,”sahut Minchan mengiyakan.

“Wae???” tanyaku masih tak mengerti.

“CHOI MINHO!!!” pekik keduanya bersamaan yang bisa membuat gendang telingaku pecah. Mwo? Apa kata mereka? Choi Minho? Choi Minho yang ituu?? Astaga…

“MWOOO!!!!???? ANDWAE!!! NAN NAEGA JOAHE ANIYAA!!!”

“Ck. Jinjaa?? Geurom, kau selalu mengamatinya dari jauh. Kau pikir aku tak sadar??” cerca Minchan menusuk hidung#plakkk maksudnya menusuk hati.

“Dan kau selalu memperhatikannya. Jongmal??” Timpal Sung Ran semangat. Gini deh. Apa mereka sekarang sedang berkomplot?

“Aniyaaa!!! Aku hanya mengagguminya saja. Tidak boleh?” kataku keras, tapi dengan polosnya mereka menggeleng. “Yaa!! Neo micheosso?”

“Kau mau kebalap Hara?” sergah Sung Ran setengah mengancam.

“Mereka sangat dekat, tahuuu..” goda Minchan sambil memonyong-monyongkan bibirnya, membuatku mau muntah melihat ekspresinya.

“Haish. Jincha molla, kau pikir, dengan tampang sepertiku aku punya muka untuk berhadapan dengannya, huh???” tukasku sebal.

“Ck, jincha. Jerawatmu hanya tiga….” ucap Minchan sambil memperhatikan pipi kanan dan kiriku.

“Tapi besar-besar!!!” tukasku selalu masih mencari alasan.

“Haishh… Sudah 3 bulan kau di sini… Namun kau tak pernah tahu apa-apa. Paling tidak, ada satu pasangan jadian di lapangan basket itu setiap 2 minggu sekali.. ” ujarnya tenang sambil menunjuk lapangan basket yang ada di bawah lewat jendela.

“Aku mana tau begituan??” tanyaku sambil mengangkat alis.

“Jagiyaaa…” seru sebuah suara yang sepertinya kukenal. Bagaimana tidak? Salah satu temanku ini adalah sejolinya. Sung Ran menoleh, lalu mengembangkan senyumannya.

“Eh?? Nee… Annyeong… Son Hee.. Kutinggal ya???” tuhkan. Si Taemin sunbae datang. Dibawa kaburlah si Sung Ran sama dia. Heuh.

“Ho’oh…” jawabku pasrah. Kini mereka melangkah berdua sambil bergandengan tangan bagaikan sejoli paling bahagia sedunia.

“Hahaha.. Mereka lengket sekali yaa???” sergah Minchan setengah tertawa. Aku hanya membalasnya dengan senyuman miris.

“Dorrr…” seseorang menepuk bahu Minchan hingga membuatnya tersentak dan kami berduapun menoleh ke asal suara.

“Ah.. Oppa…” desah Minchan lega saat melihat sesosok namjanya berdiri di belakangnya dengan senyuman maut yang sanggup meluluhkan hati para yeoja.

“Son Hee-ssi, Minchan-nya ku pinjam ya???” kata Key sunbae memelas padaku. Hah, bukannya cute, malah aneh jadinya.

“Nee…. Gwaenchanna Minchan-ah…” kataku pada Minchan yang memasang wajah khawatir. Aku menatap Key sunbae dan tersenyum, sementara ia mengajak Minchan pergi berdua.

Jadilah aku sendirian di kelas nan sepi ini. Apa tadi mereka menyinggung soal namja bernama Choi Minho? Ah, kalau tidak salah sih iya. Ck, namja itu. Baiklah, aku memang menyukainya. Tapi aku punya cukup malu untuk tidak menyatakan perasaanku padanya. Hahaha. Tiap hari nempelnya sama Hara gituh. Memangnya aku punya kesempatan apa? Jangankan kesempatan. Kemauan saja ciut. Memang Hara cantiknya seberapa sih? Cantik banget dia itu. Cantik, pintar, tajir, baik, ramah, suaranya merdu dan tariannya lincah, pria mana yang tak jatuh cinta padanya haa??

Baiklah. Aku semakin bosan disini. Aku menyambar I-Podku yang berwarna putih—hasil dari tabunganku—dan sebuah novel fantasi, lalu melangkah keluar kelas.

Author POV

Son Hee melangkah keluar kelas, menelusuri koridor sekolah yang sepi karena para penghuninya sedang ada di kantin. Langkahnya semakin cepat menuruni tangga, lalu bergegas ke pintu keluar gedung. Ia menelusuri jalan setapak di sana, membuka sebuah pagar dengan berbagai macam tumbuhan. Ya, ia memilih kebun sekolah sebagai tempat persembunyiannya kali ini.

Setelah berkeliling sejenak, ia memilih untuk duduk di tepi sebuah pot dengan bunga bougenville warna putih. Ia duduk di rerumputan dengan bersila, tangannya langsung memasangkan headset ke telinganya setelah itu dengan cepat membuka buku novel yang dibawanya—Wolfsangel—dan memulai membaca bab pertama.

Lee Gikwang, saat ini sedang berada di kantin dengan pandangan mengedar ke seluruh pelosok ruangan itu, mencari sesosok rambut berkucir kuda dengan postur tubuh berisi yang pasti hanya duduk merenung di kantin. Namun ternyata hasilnya nihil. Ia tak berhasil menemukan yeodongsaengnya—yang terkenal pendiam—itu. Ia hanya menemukan kedua sahabat karib dongsaengnya sedang bercanda berpasang-pasangan dengan namja mereka masing-masing.Gikwang segera memutar otaknya yang terkenal dengan instingnya itu. Setelah menyadari beberapa kemungkinan dimana lokasi dongsaengnya, ia segera bergegas ke sana.

Gikwang melangkah keluar gedung, menelusuri jalan setapak ke arah kebun sekolah. Ia mengedarkan pandangan, mencari sesosok mahkluk hidup berwujud manusia disitu dan….. gotcha!! Ia menemukan dongsaengnya sedang terduduk di pinggir sebuah pot bougenville dengan novel terbuka di pangkuannya sementara matanya telah terpejam.

“Yaa… saengi-yaa.. Ireonna!!” kata Gikwang pelan mengguncang bahu Son Hee. Dengan keadaan sadar baru 0,5%, Son Hee mebalas perkataan Gikwang dengan gumaman tak jelas.

“Uhhmm??” gumamnya dengan mata mulai terbuka. “Eh.. oppa..”

“Ya! Kau suka sekali menyelinap ke tempat seperti ini! Kkaja! Ada sesuatu yang harus kubicarakan denganmu!” kata Gikwang dengan sedikit seruan untuk membangunkan arwah Son Hee yang baru 45%.

“Wae geurae??” Tanya Son Hee sambil mengucek-ucek matanya.

“Ya! Kkaja!” seru Gikwang lagi, kali ini ia menarik tangan dongsaengnya agar berjalan mengikutinya.

“Akh.. Ya! Oppa!! Apphaa!! Yaa!!” erang Son Hee sambil dengan terpaksa mengikuti langkah oppanya.

“Palli!!” seru oppanya lagi.

“Ukh, Oppa neomu jinchaa??” gerutu Son Hee.

“Aish, sudahlah tutup dulu mulutmu itu! Nanti akan kujelaskan!”

“Jinchayo..”

Gikwang menarik Son Hee untuk masuk ke ruang guru. Son Hee hanya menurut karena ia tak mau melihat oppanya marah. Ia sudah pernah mengalaminya dan tak mau mengulangnya lagi.

“Sonsaengnim! Apa dia yang saem maksudkan?” Tanya Gikwang pada seorang guru.

“Ne, dia yang kumaksud. Apa dia adikmu?” balas guru itu.

“Ne, saem.”

“Hm. Geundae, dia akan kuikutkan dalam olimpiade matematika nantinya. Menggantikanmu.” Kata guru itu singkat. Gikwang mengangguk.

“Ne, saem. Saya bisa menjamin kemampuannya.” Balas Gikwang yakin. Guru itu tersenyum puas.

“Beri ini pada adikmu. Ia akan diikuti dalam pelatihan bersama calon lainnya. Sekaligus akan dilatih olehmu dan Kyuhyun,” kata guru itu lagi. Gikwangpun menerima selembaran kertas yang diberikan sonsaengnim itu.

“Ne, saem. Gamsahamnida saem. Annyeong,”

“Ne,”Setelah membungkuk terlebih dahulu, kedua kakak-beradik itu keluar dari ruang guru sambil berjalan berdampingan.

“IGE MWOYA?? Ya oppa!!” pekik Son Hee, tak bisa menyembunyikan kekagetan dari dalam dirinya lagi.

“Kau itu harusnya bangga karena otakmu itu bisa dipakai,” balas Gikwang kalem.

“Tapi oppa bilang-bilang dulu geh, jadi akunya ga terlalu kaget gini…” sergah Son Hee sambil cemberut.

“Hehe.. Mianhae saengi~” ujar Gikwang sambil mengacak pelan rambut Son Hee.

“Ngomong-ngomong, Kyuhyun itu siapa oppa? Teman oppa?” Tanya Son Hee penasaran.

“Ne, dia sangat pintar sains terutama matematika. Kau beruntung dapat dilatih olehnya,” kata Gikwang. Son hee mencibir sambil terus membaca selembaran kertas yang diberi oppanya dengan teliti, hingga ia tak sadar apa yang ada di hadapannya.

Bruakk…

“Akh.. mianhae..”seru Son Hee pada orang yang ditubruknya. Tiba-tiba ada sapu tangan terjatuh. Son Hee dengan sigap mengambilnya dan mengembalikannya. “Igeo..”

“Ne… gwaenchanna…” jawab orang tersebut. Son Hee terbelalak melihat siapa yang ditabraknya. Namja jangkung yang barusan dibicarakan teman-temannya, siapalagi kalau bukan Minho!

“Eh.. sunbaenim.. eh.. annyeong,” ujar Son Hee gugup dan hendak melanjutkan langkahnya. Namun..

“Minho-ya..” sapa Gikwang ramah.

Son Hee POV

Rasanya jantungku akan meledak se-ka-rang!! Omo.. omo.. gyaaaaa~

“Minho-ya..” haisshhh oppa!! Kenapa malah mengajaknya bicara?? Aku-ingin-segera-angkat-kaki-dari-sini!!!!

“Eh.. Gikwang-ssi! Lama gak lihat” seru Minho sunbae pada oppaku yang disambut pelukan khas namja dari oppaku. Cih. Aku mulai jadi kambing congek di sini.

“Gak lihat.. Gak lihat.. masa selama 3 bulan kau gak lihat aku? Huh? Matamu kemana?”

“Hehe.. mian.. igeo..” ujar Minho sunbae lagi sambil menatapku heran. Dan iapun menunjukku!! Siapapun, tolong cubit aku SE-KA-RANG!!!

“Naega dongsaeng,hahaha…” kata Gikwang oppa dengan pede selangit sambil merangkulku. Akupun menepisnya.

“Apa kau oppa maen rangkul-rangkul!! Ganjen!!” kataku pelan.

“Sepertinya dongsaengmu galak..” gumam Minho sunbae namun gumamannya itu terlalu keras jadi aku bahkan oppaku mendengarnya dengan sangat jelas.

“Ne, geurae. Kau punya dongsaeng?” haduhh oppa banyak amat sih topiknya…

“Aniyo, aku hanya punya seorang noona,” jawab Minho sunbae.

“Choi Sooyoung..” gumamku tanpa sadar. Minho sunbae berpaling ke arahku.

“Darimana kau tahu?” tanyanya bingung. Sumpah, lebih baik bunuh aku daripada harus menatap matanya!!!

“Ehh?? A… Ani…”

“Nugu imnika?” tanyanya lagi. Aku kaget. Dia bertanya pada siapa??? Atauu??

“Hee… Heeeehhh??? Nan?” kataku kaget sambil menunjuk diriku sendiri. Sedangkan ia hanya menahan tawa melihatku. Tawanya itu.. aduh Tuhann….

“Geurom,”

“Nan.. Lee Son Hee imnida.. bangaseupnida…” kataku sambil membungkuk.

“Choi Minho imnida… senang berkenalan denganmu Son Hee-ssi!!”

“Nee..” jawabku lemas. Kyaa~ wajahku pasti sudah memerah sekarang. Lebih baik… aku pergi dari sini, dari pada harus tinggal, pasti aku dikira masuk oven.

“Oppa, aku kebelet!! Annyeong!!” seruku spontan lalu ngabur.

“Nee!! Hati-hati!! Jangan sampai kepleset!!” suara oppa masih jelas terdengar beberapa langkah setelah aku beranjak dari situ.

Drap.. drap.. drap..

Syuutt..

Gubrakk…

Oppa….. TERIMAKASIH SUDAH MEPERMALUKANKU SEKARANG!!!!

“Akh…. YAAA!!! OPPAA!! Akh.. apphaa..” rintihku. KENAPA PERKATAAN OPPAKU SELALU MENJADI KENYATAAN HUH???

“Hahaha.. dongsaeng ceroboh…” katanya kejam. Tiba-tiba…

“Gwaenchanna??” Tanya Minho sunbae sambil menyodorkan tangannya. Aku tersentak dan langsung berdiri.

“Ne, gwaenchanna. Gamsahamnida…”

“Lain kali hati-hati..” katanya lembut. Tatapannya mengunciku. Namuan ini bukan waktu yang tepat untuk terpesona padanya, Lee Son Hee!!

“Ne.. annyeong!!”

Gikwang POV

Aku melirik ke arah chinguku. Ia terus memandang punggung dongsaengku walaupun ia sudah tak terlihat. Yah, aku tahu apa yang dirasakannya. Dan aku memakluminya, karena terkadang aku sendiri mengalami sister complex. Yah, semua orang tahu, dongsaengku itu anak polos tapi brilian, ceroboh tapi manis, dan galak tapi baik hati. Apalagi Donghae Hyung, dia sangat menyayangi yeodongsaengnya itu daripada aku. Yah, dia menyayangiku juga sih, tapi yaa… Sepertinya ia sister complex akut deh… Hehehehe…

Namuan kekurangannya adalah, ia sedikit jerawatan, dan badannya lebih berisi daripada kebanyakan haksaeng yeoja di sini yang singset-singset. Tapi, sepertinya badannya mulai mengecil? Apa efek dari pekerjaannyakah? Jangan sampai Donghae hyung memarahiku karena Son Hee sudah seperti anak kurang gizi.

“Yaa!! Lee Gikwang!!” suara berat Minho mengagetkanku. Aku pun menoleh.

“Ne?” tanyaku bingung.

“Ck, kkaja!” katanya singkat sambil mendorong punggungku ke arah kelas. Namun aku menarik tangannya hingga langkahnya terhenti.

“Ada Hara..” kataku kalem sambil menatap yeoja yang tengah berjalan ke arah kami.

“Hah?? Ck..” dengus Minho sebal. Aku hanya memandangnya prihatin.

“Annyeong Minho-yahh!!” seru Hara nyaring.

“Nee.. waee?” balas Minho malas.

“Heyy!! Jangan ketus-ketus!! Nanti jodoh pada kabur lhoo..” sergah Hara cuek. Minho mendengus lagi.

“Ne.. ne.. ne… wae geurae?” Tanya Minho lagi. Raut wajah Hara langsung bersemangat.

“Eommamu bilang, aku harus mengawasimu, katanya kalau sampai nanti lulus kau tak dapat yeojachingu, kau akan dimasukkan ke pesantren, dan pendapat itu disetujui 100% oleh noonamu, Sooyoung eonni, huakakakakakaka..”

“Haissh!! Andwae!! Aku harus memilih sendiri soal itu!!” balas Minho kecut. Hara kembali nyengir.

“Hara-yah, bagaimana denganmu dan Junhyung hyung?” tanyaku basa-basi.

“Ne? Junghyung oppa?? Ne… kami baik-baik saja,” jawabnya smabil tersenyum.

“Semoga langgeng ya..”

“Gomawo Gikwang-ssi..”

“Ya!! Kau sok pamer gitu? Mentang-mentang sudah punya namjachingu..” sergah Minho sebal. Aku hanya menatapnya sambil tertawa tanpa suara.

“Huu.. sirik aja.. suruh siapa lelet buat nyari yeojachingu begitu?” balas Hara santai.

“Heii.. sudah-sudah!! Ini sudah bel!! Masuk kelas sono!” potongku mengingatkan tujuan utama kami, yaitu kembali ke kelas.

Sumpah lama-lama aku stress melihat kedua sepupu ini beranteeeem terus. Yah, banyak orang yang tidak tahu kalau mereka itu sebenarnya sepupuan, bukan pacaran. Coba saja kalo mereka pacaran, bakalan marah kayak apa tuh Junhyung hyung…

“Nee.. annyeong.. awas kau Minho kalau kau belum punya gebetan akan kulaporkan ke eomma..” kata Hara lagi sambil menunjukkan bogemnya.

“Dasar.. hush sana pergi ah!!” usir Minho kejam.

“Idii…” kata Hara sambil melirik jijik pada Minho. “Annyeong Gikwang-ssi,” katanya lagi sambil tersenyum padaku. Akupun membalas senyumnya.

“Nee..” untung saja aku belum benar-benar terpikat dengannya sejak dulu. Coba kalau sudah naksir duluan, bisa kena bunuh sama Junhyung hyung nanti! Sekarang, secara gituh, Hara itu perfect abis. Udah cantik, keren, baik pula. Cuma sayangnya yaa.. agak galak sama cerewet gitu. Hahahahaha…

“Gikwang-ah.. Apa Son Hee sedang suka sama seseorang?” pertanyaan Minho mengagetkanku.

“Ndee? Jinchayo?” tanyaku balik dengan gak jelasnya.

“Yaa aku kan cuma yanya.” Jawab Minho kalem.

“Hemmm.. sepertinya iya. Tapi nggak tahu juga sih. Soalnya, biasanya ia suka ngalahan,” kataku. Minho mendelik.

“Heh??”

“Iya. Jadi kalo misalkan, dia suka sama Kyu, terus si Seohyun juga suka. Nah, dia bakalan nyomblangin Kyu sama Seohyun gitu. Makanya, mesti mastiin dulu perasaan ke dia itu beneran ato cuma naksir doang.. tumben nanya kayak gini, kau suka dengannya yaa?? Hayoo..” godaku.

“A… Aniyoo… geunyang… ia membuatku penasaran.. hahahah..”

“Hahahaha.. hyungku sister complex terhadapnya.” Balasku kalem.

“Nde??” pekiknya yang membuat matanya yang belo itu semakin keluar.

TBC

Otte?? Geje?? Aneh?? Well, menyimpan FF sampe lumutan di komputer itu gak baik #PLAKKK sebenernya dai dulu pengen ku post, tapi ragu terus DX Jadi.. gimana menurut kalian?? Ini.. sudah selesai di tulis.. jadi gak bakal lama postnya. Tenangggg~~~ #PLAKKK (FF LU YANG LAIN GIMANE WOY)–>labil kumat

Okehh.. yang sudah baca gomawoo.. tapi jincha jincha gomawoyooo kalo kalian meninggalkan komen. Mau komen, kritik atau saran.. silahkann!! XDD

credit by : whiteee13