FF] Your Love Is Too High – PART 5 (END)

Title : Your Love Is Too High

Author : ReeneReenePott

Maincast : Choi Minho, Lee Son Hee(reader: dasar author narsis!! Author : *tutupkuping* aku ingin beginiii aku ingin begituuu.. aku ingin ini itu banyak sekaliiii~~)

Supportercast : Lee Taemin, Kim Kibum/Key, Kang Minchan (a.k.a Mahita), Kim Sung Ran (a.k.a Charismagirl), Lee Donghae, Lee Gikwang, Cho Kyuhyun, Kim Jonghyun, Yong Junhyung, Goo Hara, Jo Kwangmin, Jo Youngmin, Hwang Tiffany, Choi Sooyoung

Genre : Romance, Comedy, Fluff, School Life

Length : Sequel

Rating : Teen

A/N : LAST PART!! Aku bingung deh, ini sebenernya harusnya jadi twoshoot. Tapi kenapa meluber jadi begini yah?? hadeeehh.. *pecahpala* Ya suda.. silahkan menikmati!! (??) #plakk

Part 5 – END

__

“Menunggu yeojachingu kalian?” gumam Minho sambil menepuk bahu Taemin dan Key yang sedari tadi menatap ke arah pintu masuk. Key mengangguk singkat tanpa mengalihkan pandangannya.

Ruang keluarga dan tamu rumah Minho sudah disulap menjadi seperti ball room sederhana. Yeoja maupun namja dengan topeng beraneka ragam menghiasi pemandangan, dan pasti akan membuat susah untuk mengenali salah satunya. Minuman warna-warni tersusun di meja di sana-sini, kue-kue kecil juga ikut tersedia.

“Kau menunggu siapa? Yuri noona? Atau Lee Son Hee?” goda Jonghyun tiba-tiba. Minho tersentak, lalu menoleh menatap Jonghyun garang.

“Ya!” bentak Minho kesal.

“Yuri noona itu perfect, cantik, dan mengejar-ngejarmu. Sementara Son Hee, yah, dia payah basket, namun ahli dalam matematika, kuakui itu. Pendiam dan kikuk, serta penampilannya dengan behel menurutku itu sangat mengganggu. Kau lebih suka mana?”

“Tutup mulutmu, Kim Jonghyun,” desis Minho kesal. Jonghyun terbahak, namun tawanya terhenti seketika.

“Oh my…” Minho langsung mengikuti arah pandang Jonghyun. Jonghyun melongo menatap ke arah pintu masuk, tepatnya kepada dua orang yeoja yang berjalan beriringan. Yang satu memakai dress berwarna violet, dan satunya lagi berwarna sky blue. Mereka masing-masing menggunakan topeng yang warnanya senada dengan baju mereka. Nampak di belakang salah satu yeoja itu, seorang yeoja lain yang terus menunduk. Ah, Jonghyun tak begitu memperhatikan yeoja yang menunduk itu, namun yang jelas ia tertarik dengan dua yeoja lainnya.

“Ya.. Kim Jonghyun! Singkirkan pikiranmu itu! Ini pesta siapaa woy!” Minho menyenggol lengan Jonghyun.

“Ah.. mereka berdua benar-benar menakjubkan…” desah Jonghyun kagum. Ia makin berkeringat dingin ketika dua yeoja itu melangkah mendekatinya.

“Annyeong Minho sunbae, Jonghyun sunbae,” ujar salah satu yeoja itu, tepatnya yang berbaju violet.senyumnya mengembang pertama untuk Minho, membuat Jonghyun sedikit kesal. “Ah, Minho sunbae, saengil chukkae,”

“Ah, ne, gomawo,”

“Saengil chukkae, Minho sunbae,” ujar seorang yang lain, yang memakai gaun biru. “Annyeong, Jonghyun sunbae,”

“Saengil chukkae, Minho sunbae,” yaang memakai baju berwarna krem berkata pelan. Minho tersenyum kikuk.

“Ne, gamsahamnida,”

“Sunbae tahu dimana Taemin oppa? Aku mencarinya…” Jonghyun mendelik.

“Mwo? Kau mencari Taemin? Kau kenal dengannya?” tanya Jonghyun kaget. Yeja itu mendengus kesal.

“Ya! Sunbae! Kau tak mengenaliku?” serunya. Yeoja disampingnya juga ikut melongo. “Ini aku Kim Sung Ran! Aku yeojachingunya Taemin oppa!”

“MWOYAAA???”

“Dan ini aku. Kang Minchan! Yeojachingunya Key oppa! Sunbae lupa ingatan ya?” seru yeoja disampingnya yang lebih diam. Jonghyun melongo.

“Ah, hanya tidak menyangka saja. Kalian neomu yeoppo,” ujar Jonghyun tulus. “Astaga Minho-yah, mereka ternyata benar-benar cantik! Pantas saja Taemin dan Key tergila-gila pada mereka!”

“Tapi siapa yang ada dibelakang mereka?” tanya Minho penasaran. Jonghyun mengangkat bahunya.

“Tak usah pikirkan, mungkin dia hanya yeoja tak penting yang ikut-ikut saja,” ujar Jonghyun cuek. “Ya, kau harus membuka pestanya, di sini mulai ramai,”

“Kok aku yang membukanya? Harusnya Hara tuh! Dia otak dari pesta ini!” gerutu Minho. Jonghyun cekikikan.

“Kau seperti putra mahkota yang mencari permaisuri deh,”

“Diam kau!”

In another side…

“Kenapa kau bersembunyi di punggungku, Son Hee-yah?” gerutu Minchan sambil menyeruput minuman berwarna oranye, yang ia yakini sebagai jus jeruk. Son Hee hanya nyengir.

“Aku takut,”

“Ish, kau benar-benar aneh,” gumam Sung Ran sambil menggelengkan kepalanya.

Singkat cerita, di pesta topeng itu, mereka harus menarik perhatian pangeran pesta, yaitu Minho yang sedang berulang tahun. Yuri, yang sedari tadi sudah standby di dekat Minho dengan topeng putihnya hanya tersenyum sambil memandangi namja itu. Sementara Son Hee, yang sedari tadi meredam perasaan gugupnya dengan memakan 2 piring cheesecake plus menghabiskan 3 buah risoles (?) hanya memandang cemas ke arah dua chingunya yang sudah berdansa dengan namjachingu mereka masing-masing.

“Ya!” sebuah tangan menepuk pundaknya. Son Hee berjengit dan berbalik.

“Hara sunbae?” gumamnya. Yeoja dengan topeng merah dihadapannya hanya tersenyum.

“Kau tampak berbeda. Kami semua sampai pangling,” ujarnya pelan. Son Hee mengerutkan keningnya.

“Ne?”

“Ne, dari tadi tak ada yang mengenalimu,”

“Ah, ini berkat bantuan kedua chinguku,” jawab Son Hee kikuk.

“Nikmati pestanya ya,” ujarnya sambil berlalu. Son Hee mengulum senyum tipis. Pandangannya kembali terarah kepada sepasang yeoja dan namja yang tengah berdansa di depannya. Dengan mudah ia mengenali itu adalah Minho, Choi Minho. Dengan seorang yeoja yang cantik luar biasa. Dan mereka nampak serasi.

Nyuuttt~

Son Hee menggigit bibirnya. Perasaan sesak menjalari dadanya. Lagi ia menatap ke arah pasangan itu. Seperti ada sinyal, ada sesuatu yang mengalir melalui mata mereka. Tangan Minho yang memeluk yeoja itu membuat mata Son Hee memanas. Ia tahu ia tak pantas untuk merasa cemburu, namun apa daya, tiba-tiba air matanya jatuh begitu saja.

Tiba-tiba pandangannya bertemu dengan mata Minho dari kejauhan, tepat setelah ia mengusap air matanya dengan kasar. Matanya melebar, kedua tangannya terkulai lemah di sisi tubuhnya. Tiba-tiba ia terkesiap, mengalihkan pandangannya dari Minho. Ia berbalik dan melangkah cepat menuju toilet, melepaskan topeng emas yang terpasang di wajahnya.

“Kalau begini aku ingin pulang saja…” setelah berdiam sejenak di toilet dan membasuh tangannya,serta memasang kembali topengnya ia memutuskan untuk kembali ke pesta.

Betapa kagetnya ia, begitu ia keluar dari toilet, sebuah tangan terulur ke arahnya. Ia mendongak cepat, dan matanya langsung beradu dengan mata besar di balik topeng silver itu. Ia terkesiap ketika disadarinya itu adalaah Minho. Dan Minho tengah tersenyum padanya.

“Wanna have a dance with me?” tanyanya lembut. Dengan pelan disambutnya uluran tangan itu, yang langsung membawanya ke tengah lantai dansa. Musik waltz mengalun, membuatnya semakin gugup. Tangan kirinya digenggam oleh Minho, sementara tangan kanannya ia letakkan di dada bidang Minho. Jaraknya dengan Minho sangat dekat, karena lengan Minho sudah melingkari pinggangnya.

“Aku tak begitu mahir berdansa,” gumamnya pelan tanpa menatap mata Minho. Minho tertawa tanpa suara, namun sesat kemudian menatap Son Hee dalam.

“Tak apa, ikuti saja langkahku,” ujarnya lembut. Son Hee menelan ludah. Mereka akhirnya benar-benar berdansa, dan untungnya ia tak salah dalm mengambil langkah. “Siapa namamu?”

“Nan?” tanya Son Hee kaget. Mampus! Batinnya.

“Geurom,”

“Nan… Lee Son Hee,” Son Hee sedikit berjengit ketika Minho mengeratkan lengannya pada pingganggnya, tepat setelah ia mengucapkan namanya.

“Jinchayo?” tanya Minho bingung. “Bukankah Lee Son Hee itu… memakai behel?”

“Ya! Aku melepasnya tadi siang, pabo!”

__

Pesta telah usai, orang-orang sudah mulai menghilang, namun tidak dengan Kim Sung Ran dan Kang Minchan. Mereka masih asyik bercengkrama dengan namjachingu mereka masing-masing, seakan dunia milik berdua. Son Hee hanya menonton keempat mahkluk itu di bangku pesta, dengan kedua sepatu yang sudah ada di kedua tangannya, bukan lagi terpasang di kakinya.

“Minchan-ah, kau benar-benar cantik hari ini, aku sampai melongo melihatmu,” Key mulai menggoda Minchan. Son Hee yang mendengarnya mengeluarkan ekspresi mau muntah, apalagi melihat semburat merah bersemu di kedua belah pipi Minchan.

CHU~

Dengan suksesnya Key mencium pipi Minchan, membuat Son Hee melongo. Teringat lagi insidennya di UKS. Omo..

“Ya! Oppa! Kau membuatku malu!”

“Aish, tamunya sudah pada pulang, untuk apa kau malu?” tanya Key bingung. Ia tersenyum geli melihat Minchan yang tersipu tingkat dewa karena tingkah Key.

“Sung Ran-ah.. ini benar-benar kau, kan?” tanya Taemin melongo dan terus menatap Sung Ran dari ujung rambut hingga ujung kaki. Sung Ran menjitak kepala Taemin gemas.

“Tentu saja oppa… kalau aku bukan Sung Ran berarti aku hantu dong?” tukasnya kesal. Taemin nyengir sambil menatap mata Sung Ran.

“Jincha neomu yeoppo…” desah Taemin kagum.

Blushh

“HIYAAA LEE TAEMIN!!!” Sung Ran memukul bahu Taemin, sementara wajahnya sudah semerah udang rebus duet dengan kepiting bakar.

“Mereka benar-benar kelewatan ya? Apa mereka tidak sadar bahwa ada dua mahkluk di sini yang panas melihat adegan itu?” Jonghyun yang ada di samping Son Hee menggerutu. Son Hee hanya terbahak melihat ekspresi Jonghyun.

“Sunbae saja kali yang merasa begitu,” tukas Son Hee sambil tertawa. Jonghyun mengerucutkan bibirnya, lalu menyambar segelas minuman dan meneguknya hingga habis separuh. “Sabar, sunbae..”

“Bagaimana aku bisa tenang, atau sabar? Mereka benar-benar membuatku IRI!” perkataan Jonghyun sukses membuat Son Hee kembali terbahak.

“Sunbae, aku keluar dulu ya, mau cari angin,” ujar Son Hee tiba-tiba. Jonghyun mengangguk, dan Son Hee bergegas melangkah keluar sambil menenteng sepasang sepatunya.

Ia melangkah menutu ke taman belakang, yang sangat sepi di malam hari itu. Ia menghirup napas dalam-dalam.. ah, ia selalu suka tempat sunyi seperti ini. Dengan langkah pelan tanpa suara, ia berjalan semakin ke belakang, tanpa mengetahui ada sepasang mahkluk bercengkrama di sana.

“Minho-yah..” suara seorang yeoja mendesah, membuat napas Son Hee tercekat. “Aku ingin mengatakan sesuatu padamu,”

“Apa, noona?’ sahut sebuah suara berat. Son Hee menutup mulutnya, dan bergegas bersembunyi di balik tembok.

“A-aku…” yeoja itu menggantungkan kalimatnya sejenak, smabil memirtingkan kepalanya. Tiba-tiba ia meraih tanagn besar Minho dan menggenggamnya erat. “Saranghaeyo~”

“Noona? Kau??” suara Minho seperti tercekat Son Hee terbelalak, ia sudah mengira hal ini akan terjadi secepatnya.

“Aku mencintaimu, Minho. Mungkin terdengar murahan bila yeoja yang menyatakannya duluan, namun perasaan ini tak bisa kupendam lagi, Minho,”

“Mwoya?” sahut Minho kaget. Son Hee sedikit mengintip, ingin melihat apa yang sedang terjadi.Dan saat itu, Yuri mendekatkan wajahnya ke wajah Minho, dan mencium bibirnya tanpa tedeng aling-aling. Dan memeluknya.

JEDERRR

Kedua mata Minho terbelalak, begitu juga Son Hee. Pertahanannya runtuh seketika. Ia ambruk di atas rumput. Air matanya langsung mengalir. Ia ingin menahan isakannya itu, namun ia tak bisa. Akhirnya, dengan terpaksa ia meninggalkan kedua manusia itu dengan sebuah sayatan di hatinya.

Ia bodoh. Lalu apa arti namja itu menciumnya dulu? Apakah ia hanya sebuah mainan?

__

Son Hee menghempaskan tubuhnya di atas ranjang. Ia pulang tanpa pamit dengan teman-temannya, sungguh perasaannya kacau saat ini. Seharusnya dari dulu ia hanya mengaguminya saja, seharusnya ia tak perlu dekat dnegan namja itu, seharusnya…

Ia mengacak-ngacak rambutnya frustasi. Ia bukan tipe orang yang suka menangis tersedu-sedu, karena itu ia rasa cukup hanya menangis di tempat kejadian. Setelah menenangkan diri, memastikan suaranya tidak akan bergetar bila berbicara, ia meraih ponselnya dan menekan nomor Sung Ran. Terdengar nada sambung setelah ia menekan tombol hijau. Dalam dering ketiga, telepon di angkat.

“Yoboseyo?”

“Sung Ran-ah, mianhae tidak memberitahumu, tapi aku sudah pulang dulu,” Son Hee langsung berbicara to the point. Sung Ran terdiam sejenak, nampaknya ia kaget.

“Kau sudah ada di rumah?” tanyanya cemas. Son Hee mengangguk, meski ia tahu Sung Ran tak bisa melihatnya.

“Ne, aku sudah di rumah sekarang. Bilang pada Minchan, sepatunya akan kukembalikan besok,” ujarnya lagi.

“Tidak usah, kami sengaja membelikannya untukmu, arra? Kau tak pernah mau membeli gaun atau sepatu pesta,” sergah Sung Ran keras. Son Hee tersenyum kecil.

“Gomawo…” ujarnya pelan. “Sampaikan salamku pada Minchan, ne?”

“Ne, arraseo. Tidur yang nyenyak!”

“Ne.. annyeong,” klik. Son Hee menutup telponnya dan melempar ponselnya asal ke atas kasur. Ia hancur sekarang. Hatinya hancur, benar-benar hancur. Oh dear…

Cklek…

“Sudah tidur, sweety?” suara berat Donghae menyambut dari pintu. Son Hee langsung menghapus air mata di pipinya.

“Ne?”

“Astaga, kenapa kau menangis?” Tanya Donghae khawatir. Son Hee ingin mengulas sebuah senyum tipis di bibirnya, tapi nyatanya ia malah menangis lagi. Donghae langsung mengambur memeluknya. “Cerita pada oppa,”

“Hiks…” namun Son Hee tak mengeluarkan kata apapun dari mulutnya kecuali isakan. Donghae hanya mengusap pelan bahu Son Hee, seakan ingin membuat Son Hee merasa sedikit nyaman.

“Oppa mungkin tidak tahu masalahmu, tapi… saengi oppa pasti kuat. Jadilah yeoja yang tegar, arra?” ujar Donghae setelah tangis Son Hee mereda sambil mengelus rambutnya lembut.

__

“Jadi, Choi Minho, eomma yakin kau sudah membuat pilihan, bukan?” seorang wanita paruh baya yang ternyata eommanya menyidang Minho saat pesta sudah benar-benar selesai.

“Eomma…”

“Eomma tak mau mendengar bahwa kau masih berpikir, Choi Minho,” ujar eommanya tajam. Minho menelan ludahnya.

“Memang sudah ada, eomma,” ungkapnya takut-takut. Wajah eommanya langsung berseri-seri. “Tapi kami masih SMA, setidaknya biarkanlah kami bertunangan dulu,”

“Baiklah, eomma kabulkan permintaanmu kali ini,”

__

Sudah 3 hari Son Hee tidak masuk sekolah. Dan sudah 3 hari ini Minho mencarinya. Alasan Son Hee di surat ijin memang karena dia sakit, tapi teman-teman-temannya tidak bisa langsung percaya. Bagaimana mungkin bisa sakit kalau kemarinnya sehat-sehat saja? Ditambah dengan Son Hee pulang duluan dari teman-temannya. Itu semakin menguatkan argumen mereka, sesuatu terjadi kemarin malam.

Hari ini adalah hari keempat, dan Sung Ran tercengang. Ia melihat Son Hee dengan ekspresi wajah datar memasuki gerbang dengan earphone terpasang di telinganya. Ia mengangkat alisnya sejenak, dan bergegas menghampiri Minchan.

“Minchan-ah!” serunya. Yeoja yang sedang memainkan game di ponselnya mengadah bingung.

“Ne?”

“Aku lihat tadi Son Hee ada di gerbang sekolah,” ujar Sung Ran pelan. Minchan membulatkan matanya.

“Dia sudah masuk?”

“Lee Son Hee!” seru seorang namja. Minchan dan Sung Ran spontan menoleh. Son Hee menghentikan langkahnya tepat di depan pintu kelasnya.

“Wae?” tanyanya dingin. Minho tercengang.

“Aku hanya mau bilang…”

“Ah, Sung Ran-ah~ aku mau pinjam PR Biologi yang kau katakan!” serunya tiba-tiba dan menjauhi Minho. Minho terhenyak. Baik Minchan maupun Sung Ran melongo. Ada apa ini?

__

“Hey, Lee Son Hee.. ada apa denganmu?” tanya Minchan tiba-tiba. Son Hee meliriknya bingung, namun ia terus saja menghabiskan bekalnya.

“Apanya yang kenapa?” balasnya balik bertanya.

“Sikapmu aneh,” sahut Sung Ran. “Kau menjadi dingin dan terkadang periang, namun periang karena terpaksa,”

“Aku merasa biasa saja,” sergah Son Hee cuek. Dan itu semakin menguatkan pendapat keduanya kalau, ada masalah yang sedang disembunyikan.

“Kau pasti menyembunyikan sesuatu, Lee Son Hee,” ungkap Minchan kesal. “Kalau kau mau aku bicara blak-blakan, sepertinya masalahmu ada sangkut pautnya dengan Choi Minho,” tangan Son Hee berhenti menyumpit telur gulungnya.

“Mwo?” ungkapnya tak percaya. “Hubunganku dengannya baik-baik saja. Tak ada yang perlu dibicarakan,” nada dalam suaranya menjadi dingin.

“Karena patah hati maka kau jadi begini, Lee Son Hee?” nada dalam suara Sung Ran terkesan marah. Son Hee mendeongak menatap chingunya. “Aku tak tahu kenapa, tapi kurasa kau patah hati,”

Son Hee mengangkat kedua bahunya tenang. “Hanya perasaanmu saja,”

“Oh ya? Tapi kenapa ekspresimu benar-benar mencerminkan seperti orang-yang-patah-hati-dan-ingin-keluar-dari-masalah?” sindir Minchan sinis. Son Hee menggigit bibirnya.

“Aku hanya tidak ingin membahas itu, oke?”

“Bicaralah, sebenarnya apa yang terjadi?” pinta Sung Ran. Son Hee mendongak menatap Sung Ran ragu.

“Aku…” ia menghentikan kalimatnya sebentar, “Kurasa aku belum siap menceritakannya,” tiba-tiba sebutir air mata lolos dari matanya. Ia mengusap pipinya kasar.

“Geurae. Kalau kau sudah siap, kapanpun kami pasti akan mendengarnya,” Minchan menepuk bahu Son Hee lembut.

“Dan aku mau menanyakan satu hal, tapi jangan anggap ini ada sangkut pautnya dengan masalahmu, arra?!” Son Hee tiba-tiba berjengit mendapati nada dalam suara Sung Ran yang tiba-tiba menjadi tegas. “Kau suka pada Choi Minho, kan?”

“Ani. Aku tidak akan… menyukainya. Arra?” sahut Son Hee lemah.

__

“Ya!! Lee Son Hee!!” suara berat berteriak lagi dari balik punggung So Hee saat pulang sekolah. Son Hee tak memperdulikannya, dan terus melangkah.

“Lee Son Hee!” Minho terus berteriak kepada yeoja di hadapannya yang selalu tak mengacuhkannya. Geram, ia melangkah mendekatinya dan mencekal lengannya, menghempaskannya hingga berbalik menatapnya.

“Wae?” jawabnya dingin. Ia melepaskan cengekeraman tangan Minho di pergelangan tangannya. “Bicara saja,”

“Kau membenciku?” tanyanya setelah lebih banyak diam dan menatap Son Hee dalam. Namun lawan bicaranya membisu. “YAA LEE SON HEE AKU BICARA PADAMU!!”

Dan lagi, Son Hee hanya membuang muka. “Kau membenciku? Sangking bencinya kau sampai muak melihatku?” desah Minho lemah. Yeoja dihadapannya tetap mematung. “Baiklah, kalau itu maumu,”

“Aku hanya ingin berkata padamu,” Minho menarik napas dalam, namun hanya dilirik Son Hee.”Saranghaeyo.”

“Mwo?”

“Hanya itu yang akan kukatakan. Mian sudah mengganggumu. Annyeong,” desahnya lagi dan berbalik pergi.

Son Hee menatap punggung itu tanpa bergeming. Perasaannya terguncang. Astaga, apakaah telinganya perlu dibawa ke dokter THT? Setelah beberapa detik tercenung, ia berlari menyusul Minho dan melingkarkan tangannya di pinggang Minho.

“Hiks… Hiks….” Son Hee mulai terisak, sementara Minho mematung. Ia membalkikkan tubuhnya dan memegang bagu Son Hee. “Hiksss… Hiks… aku…. aku…”

“Wae?” tanyanya bingung. Air mata membanjiri wajah Son Hee, entah mengapa.

“Hiks… Hiks… aku…”

“Ya! Bicaralah yang jelas!!” seru Minho kesal. Ia mengusap air mata Son Hee dengan ibu jarinya lembut.

“Hiks… aku… sebenarnya…” Son Hee terbatuk sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya, “Aku dari dulu sudah menyukaimu, kau tahu?!” serunya sambil melepaskan tangan Minho yang menangkup wajahnya.

“Mwo?” sebuah senyum sumringah terukir di bibir Minho.

“Kau tahu, aku menahan nangis semalaman karena melihatmu dengan Yuri sunbae berci…” Son Hee membekap mulutnya sendiri, sementara Minho nyengir menyebalkan.

“Ah… jadi kau cemburu, begitu?” goda Minho semangat. Wajah Son Hee bersemu merah.

“A-anii…” elakknya. Kedua tangan Minho mencengkeram lengannya, memaksa matanya untuk menatap mata besar Minho itu.

“Saranghae..”

“Na…. do,” jawab Son Hee pelan. Mereka berdua terdiam sejenak, lalu Son Hee berjinjit untuk mencium pipi Minho.

Cupp

“Ya~” seru Minho tak terima. Son Hee mengerutkan keningnya.

“Wae? Kalau berpacaran, cukup di pipi saja…” tukasnya polos. Minho terkekeh.

“Siapa bilang kita pacaran?” ujar Minho entang. Son Hee membulatkan matanya, apa katanya barusan?

“Mwoya?? Kita tidak pacaran ya? Baiklah~~” Son Hee ngeloyor pergi dengan gurat wajah kecewa. Tiba-tiba tangan Minho mencekal tangan Son Hee lagi.

“Ya~ dengarkan kalimatku sampai habis dulu!” serunya keras. Son Hee mengangkat alisnya bingung. “Kita tunangan saja, dan kalau sudah bertunangan, ciumnya bukan di pipi, tapi di sini…”

“MWOYA??” tapi sayang, bibir Minho sudah mendarat dengan mulus di bibirnya~~

END

EPILOG

“Yaa~ siapa yang dulu pernah bilang ‘aku tidak akan pernah menyukainya… arra?’” Sung Ran mencibir. Son Hee hanya bisa nyengir, bingung harus menanggapinya denagn apa.

“Itu.. hanya masa lalu…”

“Ne, hanya masa lalu, kau tahu, aku kaget mendapat undangan bahwa kau akan bertunangan!” seri Minchan heboh. Son Hee membekap mulut chingu-nya itu.

“Yaa.. jangan keras-keras! Haksaeng lain bisa mendengarnya, kau tahu?” dengan sigap tangan Minchan meraih kesepuluh jemari Son Hee.

“Mana cincin itu?” tanyanya heboh. “Aku ingin lihat!”

“Ah, aku masih pelajar, Minchan-ah, jadi tidak kubawa,”

“Bohong!”

“Masa kau tidak percaya padaku, sih?” Son Hee menggerutu. Minchan maupun Sung Ran menggeleng pelan.

“Eh, oppamu akhirnya merestui, ya?” tiba-tiba Sung Ran bertanya. Son Hee mengangguk.

“Iya, awalnya Donghae oppa yang menentangnya keras. Tapi kan dia juga mau menikahi Jessica eonni, ya sudah deh, dia mengijinkan, haha..”

“Jagiyaaa~~~” ketiga yeoja itu langsung menoleh ke sumber suara. Dan

Blushhh

“Kenapa kau kesini, Choi Minho pabo!” geram Son Hee tertahan. Sementara namja jangkung itu mengembangkan senyumnya dan tetap melangkah menuju ke tempat duduk tunangannya itu*ehem*.

“Baiklah, aku pinjam Son Hee-nya dulu, ya?” tiba-tiba namja yang tak lain-tak bukan bernama Choi Minho itu meraih tangan Son Hee dan menyeretnya keluar. Kedua chingunya hanya mengangguk tak sadar, sementara pasangan itu sudah neghilang di balik pintu kelas.

“Mwoya? Ada perlu apa?” tanya Son Hee bingung ketika Minho menyeretnya ke atap gedung. Minho mendekatkan wajahnya, lalu mengadahkan tangannya di depan wajah Son Hee.

“Mana cincinmu?”

“Aish, kenapa menanyakan cincin itu sih?” ujar Son Hee kesal. “Ada di rumah, kalau ke sekolah tentu saja tidak kupakai,”

“Kau bohong,” gumam Minho menyeramkan, membuat bulu kuduk Son Hee berdiri. Jemarinya menyentuh tengkuk Son Hee, menyelusup masuk lewat kerahnya. Son Hee tercengang. Dalam sekejap, sebuah kalu dengan bandul cincin sudah ada di tangan Minho. “Aku yakin pasti di sini, ternyata benar,”

“Kau mengetahuinya?” tanya Son Hee kaget. Minho mengangkat sebelah alisnya, dan melepaskan cincin iti dari kalung yang berbentuk rantai itu.

“Aku ingin melihatmu memakai cincin ini hari ini, arra?” ujarnya sambil memasukkan cincin itu ke jari manis tangan kanan Son Hee. Di kecupnya punggung tangan Son Hee, membuatnya meleleh.

“Berhentilah bersikap sok manis seperti itu, empphh..”

FIN
Otte?? Ending yang memuaskankah?? XDD Tuh kan, sudh kubilang, gak ada kok konflik yang menujurus. Kan cuma gejolak perasaan anak SMA doang huaha XD

Doa’in semoga di next FF aku bisa lebih baik bikin FF, apalagi menyangkut masalah konflik ==” Gomawo ya yang udah baca… ^^

Ayoo.. komen-komenn.. ^^

credit by : whiteee13

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s