[FF] Ending For Begining

Title : Ending For Begining

Author : ReeneReenePott

Maincast : Lee Taemin, Han Sohwa (a.k.a Sohwa)

Supportercast : Lee Jinki, sisanya cari sendiri! #plakk

Genre : Romance, Life, Sad, Angst, Fluff*hanya di flashback*

Length : Ficlet

Backsound : (siapkan tracklist) SS501 – Because I’m Stupid, Davichi – Don’t Say Goodbye, JYJ – In Heaven, penutupnya pasang SS501 – Love Ya yaa.. XDD

A/N : Lohaaa lohaaa!!! Kali ini aku membawakan dedekku yang kusayang #plakkk *lo umur berapa dia berapa* dengan salah satu hero di sini, Sohwa!! Dia dari dulu udah minta tapi kenapa aku baru bisa sekarang yah?? Ah sudahlah, lets cekidot!!!! XD

Sohwa POV

#Flashback#

Rambutku diikat asal-asalan. Ember di tangan kanan, pel di tangan kiri. Kedua kakiku berganti memakai sepasang sandal jepit butut milik penjaga kebun sekolah. Arghh! Pasti karena aku main Harvestmoon sampai jam 3 pagi. Mana guru piket hari ini killer pula!

Ditambah dengan kain lap yang di sandang di bahuku, kini aku persis tukang pijat merangkap OB di sekolah! Grr…. Dengan kejamnya mereka, hanya telambat 5 menit saja aku disuruh mengepel seluruh toilet di sekolah?! Astaga.. Aku mati saja dah… Eh! Jangan-jangan. Nanti eommaku mau tinggal dengan siapa? Aish, hidup kok berat sekali rasanya….

Aku terus berjalan di koridor sekolah yang mulai ramai. Masa bodohlah haksaeng-haksaeng lain mau menertawaiku karena penampilanku yang mirip tukang jamu ini atau apa. Yang penting, barang-barang keramat ini sampai dengan selamat ke gudang. Entah apa karena aku tidak memperhatikan jalan di depanku, tiba-tiba aku menabrak seseorang. Tubuhku jatuh ke belakang, sementara ember yang tengah kupegang isinya berhambur keluar.

Byurrrr

Mampus! Apakah aku sudah mengguyur anak orang? Aku membulatkan mataku ketika mendapatkan sesosok tinggi yang tengah menunduk dan basah kuyup seperti tikus kecebur got. Aku menelan ludah dengan susah payah.

“Mian… Ham… Nida…” gumamku dengan suara tercekat. Oh, ayolah Han Sohwa, berbahagialah ia bukan yeoja! Kalau yeoja aku harus membiayainya ke salon untuk membersihkan diri, kan?!

“Mampus kau Sohwa! Ia kan namja hoobae idol para sunbae!” seseorang seperti bergumam kepadaku. Namja itu perlahan mengangkat wajahnya, membuatku panas dingin. Aku belum ingin mati di sini! Jantungku berdegup seperti minta diselamatkan, mulutku sudah megap-megap bagai ikan yang ditaruh di darat.

Namja itu mengangkat wajahnya, menatapku sejenak, lalu tersenyum. Senyumnya manis sekali.

Astaga?!

Apa?!

Tersenyum?! Aku tidak sedang main drama kan?!

“Gwaechanayo,” sahutnya tanpa emosi kemarahan. Malah sebaliknya, namja itu tersenyum padaku.

#Flashback end#

Knock

Kncok

“Taemin-ah…” sapaku pada seseorang yang pasti berada di ruangan serba putih itu. Tak ada jawaban, namun senyumku tetap mengembang melihat sosok yang terbaring di atas ranjang dengan pakaian pasien. Aku melangkah mendekati ranjangnya dan menarik sebuah kursi ke dekatnya. “Kau tidur lagi ya?” gumamku sambil menatap wajahnya yang nampak pulas tertidur.

Tubuhnya sangat kurus, wajahnya pucat seperti tak ada darah yang mengalir di dalam nadinya. Kuraih tangannya perlahan sambil berusaha menahan air mataku agar tidak terjatuh. Hatiku hancur saat mengetahui keadaannya sudah seperti ini. Setelah hampir 3 tahun kami berpacaran, kenapa baru sekarang ia memberitahu tentang penyakit yang dideritanya. Leukemia stadium 4.

Kenagan dimana pertama kali aku bertemu dan mengenalnya terulang kembali bagai film yang diputar. Aku benar-benar ingin menangis sekarang. Pemvonisan umurnya yang tinggal 3 bulan itu sungguh membuatku hancur. Setelah appa, apakah harus dia, orang yang kusayangi kembali meninggalkanku? Kenapa dunia ini begitu kejam?

Tiba-tiba kurasakan salah satu jemarinya bergerak di dalam genggamanku. Cepat-cepat aku menghapuskan air mata yang sudah mengalir entah kapan ini. Matanya perlahan membuka, lalu bergerak tertuju padaku. Aku memandangnya sambil mengembangkan senyum. Ia membalasku dengan senyumannya yang tak pernah berubah dari dulu. Senyuman hangat yang sangat manis.

“Aigoo, beruntungnya aku, ketika bangun aku sudah melihat wajahmu,” ujarnya pelan yang membuatku terenyuh. Kalau aku tak bisa menahannya, aku bisa menangis di tempat ini.

“Bagaimana tidurmu? Nyenyak?” tanyaku yang dibalas dengan anggukannya.

“Kau menangis, ya?” tebaknya yang membuatku terdiam.

“Aniyo, aku tidak menangis,” elakku. Ia memasang wajah murung.

“Kau pasti habis menangisiku, kan? Sohwa-yah, kenapa kau jadi seperti ini?” cercanya lagi. Mataku memburam, sementara tangisan sudah mencapai pangkal tenggorokanku. Dan kini aku benar-benar menangis di hadapannya. “Jagiya… Uljimayo…” ujarnya lembut sambil mengelus-elus rambutku.

“Aku sedih, melihatmu seperti ini. Kau tinggal 3 bulan lagi disini… Aku… Aku…”

“Gwaenchanna. Meski hanya 3 bulan, aku akan menikmatinya, ne? Mumpung masih ada 3 bulan, jadi selama itu aku benar-benar menginginkan apa yang kumau,” ujarnya dengan senyuman. Astaga, kenapa ia bisa setegar ini?

#Flashback#

“Han Sohwa, kau diminta ke lapangan basket nanti istirahat!” suara salah satu chinguku berseru kepadaku. Aku menoleh kaget.

“Mwoya?”

“Pokoknya, nanti kau harus ke lapangan basket, ne?”

__

Aku menuruti kemauan mereka. Tapi aku juga bingung, kira-kira ada apa ya? Kini seisi koridor menatapku. Hei, apakah penampilanku aneh ya? Kurasa biasa saja. Tapi… Kenapa yang namja cuma cekikikan, sementara yang yeoja menatapku sinis kayak mau menjambak rambutku gitu? Hua… Ada apa ini?

Kini di depanku sudah lapangan basket. Banyak orang yang mengelilingi lapangan itu, semuanya bersorak riuh. Sementara di tengah-tengah lapangan ada seseorang yang memunggungiku. Siapa dia? Setelah beberapa saat aku berpikir, namja itu membalikkan tubuhnya, dan spontan membuatku tercengang. Itukan Taemin! Ia tersenyum dan melangkah mendekatiku yang masih bengong menatapnya.

“Sohwa-yah…” panggilnya. Tiba-tiba ia berlutut. “Maukah kau menjadi yeoja chinguku?”

“MWOYA?!” pekikku kaget setengah mampus.

“Maukah kau menjadi yeojachinguku?” ulangnya yang semakin membuatku melongo. Aku memang menyukainya, tapi, aish! Eotthokke?

“Ne, aku mau,” jawabku tanpa sadar.

“KYAAAAAA!!!!!” jeritan anak-anak membahana. Senyumnya merekah, lalu menarik tubuhku ke dalam pelukannya. Dan kini tubuhku ia putar-putar bagai ontang-anting.

“Yes!! SARANGHAE HAN SOHWA!!!” teriaknya.

“NADO!! TAPI AKU TAKUT HUAAAAA!!”

#Flashback end#

3 months later…

“Kau masuk kuliah hari ini?” tanya Taemin ketika aku membawanya jalan-jalan ke taman rumah sakit. Sebenarnya ia tidak ijinkan keluar, namun sedari tadi ia terus merengek meminta keluar, akhirnya hati suster luluh juga. Maklumlah, ia kan terkenal sebagai noona killer saat SMA dulu hehehe…

“Tentu saja. Begitu keluar aku langsung ke sini,” jawabku sambil terus mendorong kursi rodanya perlahan.

“Kita ke situ saja,” ajaknya sambil menunjuk sebuah bangku panjang yang terletak agak di sudut. Aku menurutinya. Setelah sampai, aku duduk di kursi panjang itu sementara Taemin di sampingku.

“Dingin tidak?” tanyaku ketika semilir angin berhembus. Ia menggeleng.

“Tidak. Sejuk rasanya,” balasnya sambil memejamkan mata. Aku terus memperhatikan setiap lekuk wajahnya, biar menjadi kenangan indah untukku. Tiba-tiba matanya terbuka, dan menoleh menatapku. “Kelak kau ingin menjadi apa?”

“Aku ingin bekerja di balik layar. Entah menjadi sutradara, atau apapun, yang penting aku ingin bekerja di balik layar,” sahutku. Ia hanya tersenyum.

“Aku senang kau punya cita-cita,” ujarnya. “Hei, kau ingat saat kencan pertama kita?”

#Flashback#

“Apa yang akan kita lakukan di sini?” tanyaku saat Taemin mengajakku ke sebuah taman hiburan pada suatu hari Minggu.

“Kita akan kencan,” jawabnya tenang sambil tetap menggenggam tanganku.

“Mwo? Kencan?” tanyaku kaget. Ia mengangguk semangat.

“Ne, setiap orang yang berpacaran harus berkencan, kan?” jawabnya. Aku tersenyum kecil.

“Tentu saja,” balasku singat.

“Karena itu, ayo kencan!” serunya sambil menarik tanganku. Aku hanya melangkah mengikutinya saja. Tapi sebuah stand tenyata merebut perhatianku.

“Taemin-ah, tunggu sebentar ya, aku ingin ke sana,” pintaku padanya. Ia mengangguk dan tersenyum. Aku pun segera melangkah ke stand yang ternyata menjual berbagai macam perhiasan itu.

Mataku menjelajah melihat-lihat puluha kalung yang berjejer di dalam etalase. Hanya satu yang menrik perhatianku. Kalung perak dengan liontin mahkota mungil.

“Ahjumma, aku ingin lihat yang ini,” pintaku pada ahjumma yang sedang menjaga stand ini. Ia mengangguk lalu mengeluarkan kalung itu dari etalase. Aku meraihnya sambil berdecak kagum.

“Kau mau beli itu?” tiba-tiba Taemin berkata tepat di sampingku. Aku menoleh cepat kepadanya dan mengangguk yakin.

“Ne, ini pertama kalinya aku membeli kalung, hehehe… Aku bayar dulu ya!” balasku sambil meronggoh mencari dompet.”Ini berapa harganya ahjumma?”

“Sebenarnya harganya 12 ribu won, tapi karena kalian pasangan yang serasi, kuberi 10 ribu won saja,” balas ahjumma itu yang membuatku tersipu. Baru saja aku hendak mengambil dua lembaran 5 ribu won di dalam dompet, tangan Taemin sudah terulur membayar kalung itu.

“Ini, ahjumma,” katanya dan bungkusan berisi kalung yang kuinginkan sudah ada di tanganku.

“Hey… Kenapa jadi kau yang bayar?” pekikku tidak terima. Ia hanya nyengir dan menggandeng tanganku.

“Anggap saja itu hadiah hari jadi kita,” sahutnya yang membuatku melongo.

“Tapi…”

“Kkaja! Aku sudah memikirkan wahana yang akan kita naiki,” ajaknya sambil menarik tanganku.

#Flashback end#

“Kau mengingatnya?” tanya Taemin sambil menggenggam tanganku. Aku menerawang sebentar, lalu mengangguk.

“Aku bahkan masih memakai kalung ini,” ujarku sambil menunjuk kalung berliontin mahkota yang menggantung di leherku. Ia tersenyum senang.

“Gomawo Sohwa-yah…”

“Tentu saja, apalagi karena kau yang membelikannya, tentu saja akan terus kupakai,” sahutku sambil tersenyum lebar.

“Sohwa-yah.. Mendekatlah…” pintanya sambil mengulurkan tangannya yang kurus. Aku menurut. Senyumnya mengembang begitu jemarinya menyentuh wajahku.

“Ne?”

“Ingatlah, kalau aku sudah tiada di sini, aku pasti akan ada mengawasimu dari sana,” ujarnya sambil menunjuk langit sore. “Bila malam, aku akan menjadi bintang paling terang untukmu. Arraseo?” lanjutnya yang membuat air mataku menetes.

“Ne,” jawabku sekenanya.

“Uljimayo, aku sedih bila melihatmu seperti ini. Tersenyumlah,” aku memaksakan sebuah senyum tulus untuknya. Ia tersenyum juga. “Inilah yang kumau,”

“Kita harus kembali ke kamar, Taemin-ah,” ujarku tiba-tiba begitu melirik jam. Taemin hanya menggeleng.

“Aniyo, aku masih ingin di sini,”

“Geundae…” sahutku lagi sedikit memaksa. Namun ia menarik pergelangan tanganku dengan tatapan memohon.

“Aku akan baik-baik saja,”

“Geuraeyo,” jawabku pasrah. Ia tersenyum, lalu menjulurkan jarinya menarik daguku mendekat ke wajahnya. Semakin dekat dan dekat lagi, akhirnya ia mengecup bibirku lembut. Aku meneteskan air mata begitu ia tak kunjung melepaskan kecupannya. Setelah ia melepaskannya, aku menatap matanya lalu tercengang. Wajahnya sangat pucat sekali, Tuhan!

“Aku berikan first kiss-ku untukmu, ne? Setelah ini, carilah kebahagiaanmu, saranghaeyo…” ujarnya lemah.

“Nado saranghae, Taemin-ah…” sahutku yang disambut dengan senyuman manisnya. Tiba-tiba matanya menjadi sayu, dan…

Bruukk…

Kepalanya langsung ambruk di bahuku. Nafasku tercekat, langsung aku memeriksa denyut nadinya. Tidak ada.

“Taemin-ah?” panggilku dengan suara bergetar. Aku mengguncang-guncangkan bahunya. “Taemin-ah?” panggilku semakin keras. Airmataku mulai berjatuhan lagi, sementara kulitnya mulai mendingin. “TAEMIN-AH!! BANGUNLAH!” jeritku. “Suster! Suster!”

Tangisku menjadi semakin keras begitu segerombolan orang berbaju putih membawa Taemin masuk ke ruangannya. Aku ingin berada di sampingnya, kumohon! Namun salah seorang suster mencegahku.

“Agashi, mianhamnida anda tidak bisa masuk, tunggulah diluar,”

“Apa yang terjadi padanya?” suara seseorang samar terdengar oleh telingaku. Mataku sudah memburam, sementara tangisanku semakin keras. Yang kutahu itu adalah suara Jinki oppa, kakak dari Taemin.

Tuhan, aku tidak kuat bila harus kehilangannya sekarang…

Cklek…

Tiba-tiba pintu terbuka. Aku sudah lemas, aku tak bisa melangkah mendekati uisa ataupun menerobos masuk ke dalam ruangan itu.

“Mianhamnida, ini di luar dugaan,” uisa berkata kepada Jinki oppa yang siaga di depan ruangan. “Siapa keluarganya?” jinki oppa langsung mengangkat tangannya, tapi aku tahu, wajahnya sudah basah oleh air mata.

“Aku hyungnya,”

“Bisa kita bicara sebentar?”

#Flashback#

Aku kembali melepaskan ponsel dari telingaku. Sudah seminggu terahkir ini Taemin tidak pernah menghubungiku. Telponku tak pernah diangkat, boro-boro diangkat, ponselnya tidak aktif sama sekali. SMSku selalu diabaikannya. Sosoknya juga tak pernah nampak di kampus. Aku mulai khawatir tentangnya, apakah ia baik-baik saja?

“Apakah Taemin tak kunjung menghubungimu?” tanya chinguku yang membuatku menoleh. Aku menggeleng pelan.

“Han Sohwa!” suara seseorang menyerukan namaku. aku merenyit, lalu membalikkan tubuh. Dan aku semakin bingung lagi ketika seorang namja melangkah menghampiriku. “Kau Han Sohwa?”

“Ne, kau siapa?” tanyaku balik.

“Naega Lee Jinki imnida, hyungnya Taemin,” ujarnya yang membuatku terkaget setengah mampus.

“Mwoya?”

“Ne, dan kau pasti bingung kenapa akhir-akhir ini Taemin tidak pernah menghubungimu,” katanya lagi dengan sorot mata kesedihan. Tunggu, firasatku mengatakan sesuatu yang buruk telah menimpanya. Semoga saja ini tidak menjadi kenyataan.

__

“Ia mengidap leukimia stadium empat,” ujarnya pelan yang membuatku tersedak liurku.

“MWOYA?!?!” pekikku keras. Kalian tahu, begitu mendengarnya tubuhku seperti disetrum listrik.

“Dan ia tidak memberitahumu tentang penyakitnya karena takut kau akan khawatir,” ujarnya lagi. Mataku mulai memburam.

“Stadium… 4? Kini dimana ia sekarang?” tanyaku berusaha menahan air mata yang sudah ada diujung kelopak mataku.

“Di Rumah Sakit XXX, nomor 879,”

“Kau mau mengantarku ke sana?” pintaku pada Jinki oppa. Jinki oppa hanya tersenyum.

“Karena itulah aku memberitahumu tentang ini. Awalnya ia berusaha keras agar tidak memberitahukan masalah ini padamu, namun kondisinya akhir-akhir ini membuatku tak tahan,”

“Baiklah, oppa, tolong antar aku sekarang juga!”

__

Brakkk

“LEE TAEMIN!” seruku ketika sudah membuka gagang pintu ruangan nomor 879, alias kamar rawat Taemin. Aku menerobos masuk, lalu menadapati Taemin yang tengah duduk memandang keluar jendela menoleh menatapku. “Beraninya kau tidak memberitahuku!” seruku. Ia hanya tersenyum lemah.

“Mianhae,” jawabnya serak. Aku langsung mengambil tempat duduk di sebelahnya.

“Kau tahu betapa khawatirnya aku begitu kau tidak pernah menghubungiku?” sahutku hampir menangis. Aku tidak percaya dengan pemandangan di depanku ini. Ya Tuhan, kenapa sekarang ia nampak kurus sekali?

“Mianhae,” dan kini aku benar-benar menangis sekarang. “Mianhae,” tiba-tiba ia melingkarkan lengannya ke pundakku, lalu menuntun kepalaku untuk bersandar di dadanya. Sesuatu menetes di pipiku. Astaga, ia menangis! “Sohwa-yah, kurasa, hubungan kita cukup sampai di sini saja,” ucapnya dengan suara bergetar yang membuatku bagai tersambar petir. aku melepaskan diri dari pelukannya.

“Mwoya?”

“Aku juga tidak ingin melakukannya, tapi…”

“Tolong ulangi ucapanmu tadi, Lee Taemin?!” pekikku keras.

“Aku tidak dapat membahagiakanmu, Sohwa-yah, kurasa kita berpisah saja,”

“Andwae!” seruku. “Kau akan selalu mebuatku bahagia, Taemin-ah. Tidak peduli kau sedang sakit atau apa, aku akan tetap di sampingmu, kau mengerti?!”

“Tapi… umurku tidak akan lama lagi, Sohwa-yah,” jawabnya pelan.

“Biarkan aku ada di sampingmu sampai akhir hidupmu. Kumohon,” pintaku. “Aku tidak peduli kau sakit apa, yang penting biarkan aku berada di sampingmu semampuku,” lanjutku. Taemin langsung menarikku ke dalam pelukannya lagi.

“Gomawo Sohwa-yah, jongmal gomawoyo,” bisiknya lirih di telingaku.

#Flashback end#

__

Katanya, saat itu ia seharusnya melakukan cuci darah. Namun ia tidak melakukannya. Itulah penyebab dari kematiannya. Seharusnya aku menyuruhnya kembali ke kamar waktu itu, seharusnya aku memaksanya…

“Sudahlah, kau jangan menyalahkan diri sendiri. Taemin yang tidak ingin kembali ke ruangannya,” seseorang berkata kepadaku. Yang kutahu, itu suara Jinki oppa. Aku tetap mematung.

Aku menatap batu nisan yang terbuat dari marmer hitam di hadapanku. Aku sudah tidak dapat menangis lagi sekarang, air mataku sudah habis. Tenggorokanku sudah kering, tapi yang kurasakan sekarang masih sama, ada lubang menganga besar di hatiku. Memberikan rasa perih dan sakit yang tak kunjung hilang.

“Sohwa-yah, aku tahu kau pasti kuat,” Jinki oppa berujar dari balik bahuku. Tangannya menepuk bahuku, lalu melangkah menjauh.

“Taemin-ah, aku tahu kau akan selalu mengawasiku. Saranghaeyo…” entah apa yang kukatakan ini. Yang pasti aku sudah tidak kuat menangis lagi sekarang.

Author POV

5 years later…

Han Sohwa, ia adalah seorang yang penuh tanggung jawab dan pekerja keras. Ia telah menyelesaikan kuliahnya 3 tahun lalu dan langsung terjun ke dunia di balik layar hiburan musik Korea. Tugasnya memanageri seorang penyanyi telah berhasil dan kontraknya selesai bulan lalu. Pekerjaan lain telah menantinya, karena ada lagi seorang penyanyi yang hendak debut di agensinya, SM Entertaiment.

Kini ia tengah terduduk di ruangannya, sendirian dengan MP3 Player yang mengalunkan lagu-lagu klasik. Pandangannya kosong, sementara kedua tangannya menggenggam sebuah kalung dengan liontin mahkota kecil berkilauan. Sebentar ia nampak tersenyum, lalu kembali menerawang. Itulah yang terkadang suka dilakukanya, ketika ia rindu dengan mantan kekasihnya, Lee Taemin. Namun, ia percaya bahwa selama 4 tahun ini, mantan kekasihnya, Lee Taemin selalu menjaganya. Hanya setahun masa-masa terburuknya saat itu, dan ia berusaha bangkit untuk kehidupannya selanjutnya.

“Aku akan baik-baik saja…”

Kata-kata Taemin terus mengiang di telinganya. Dan ternyata kata-kata itulah yang selama ini menjadi sumber kekuatannya. Bila Taemin akan baik-baik saja di sana, kenapa ia tidak? Setidaknya Taemin bisa tersenyum di atas sana ketika melihat hidupnya kembali normal seperti ini.

“Miss Han, ia telah datang dan menunggu di ruangan Mr. Lee,” suara sekretarisnya membuyarkan lamunannya. Cepat-cepat ia memang kembali kalungnya, lalu mengambil beberapa berkas yang ada di atas mejanya.

“Oke, gamsahamnida,”

Sohwa melangkah menuju ke ruangan yang dimaksudkan, dengan penampilan yang seharusnya bagi seorang manager. Senyumnya mengembang begitu telah sampai di depan ruangan yang dituju.

Knock

Knock

“Ne, silahkan masuk,” suara di dalam menyahut begitu Sohwa menyentuh gagang pintu.

Cklekk..

“Annyeonghaseyo,” sapa Sohwa ramah. Pandangannya langsung disambut dengan kehadiran tiga orang yang menatapnya. “Joneun Han Sohwa imnida”

“Ne, Miss Han, aku telah menemukan kontrak selanjutnya untukmu. Ia besar di Amerika, keahliannya adalah menyanyi dan menari,” kata direkturnya. Sohwa menoleh menatap calon ‘artis’nya, dan napasnya langsung tercekat. Namja yang duduk di bagian luar sofa itu, meski rambutnya panjang pirang sebahu namun wajahnya sungguh membuat Sohwa seperti tersetrum listrik. Apalagi senyum itu.

“Annyeonghaseyo, joneun Lee Taemin imnida. Banggapseumnida,”

“Jadi, Miss Han, dia yang akan kau manageri (?) dan kontrak kalian di atas surat telah tertulis selama 6 tahun. Bagaimana? Kau setuju?”

END

Ottheyo? Gaje? Aneh? Alur ga jelas? Bahasa berantakan? Kependekan? Feel gak dapet?*padahal aku bikinnya sampe berucucuran air mata hiks* Huaaaa mianhae…. T^T Kurasa ini endingnya sedikit menggantung, mau sequel?? XDD Tapi gak janjiya, tergantung berapa banyak yang pengen sequel. Di atas 5, aku kasih deh!! XD

Mianhae for typo, alur gaje, aneh, dan kesalahan-kesalahan lainnya. Komen nya ditungguu.. XD

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s