[FF] Your Love Is Too High – PART 1

 Title : Your Love Is Too High

Author : ReeneReenePott

Maincast : Choi Minho, Lee Son Hee(reader: dasar author narsis!! Author : *tutupkuping* aku ingin beginiii aku ingin begituuu.. aku ingin ini itu banyak sekaliiii~~)

Supportercast : Lee Taemin, Kim Kibum/Key, Kang Minchan (a.k.a Mahita), Kim Sung Ran (a.k.a Charismagirl), Lee Donghae, Lee Gikwang, Cho Kyuhyun, Kim Jonghyun, Yong Junhyung, Goo Hara, Jo Kwangmin, Jo Youngmin, Hwang Tiffany, Choi Sooyoung

Genre : Romance, Comedy, Fluff, School Life

Length : Sequel

Rating : Teen

A/N : ANNYEONG ^o^  akhirnya aku post sesuatu jugaaak XDDD silahkan dinikmatiii XDD

PART 1

Son Hee POV

Aku mendesah ketika bel sudah berbunyi lagi. Anak-anak semrawutan berebut keluar kelas, ke sebuah tempat yang mutlak harus dikunjungi bila istirahat yang terletak di lantai basement. Apalagi kalau bukan kantin?

Kenapa aku tidak ikut? Well, kalau aku tidak mau mencekik leherku sendiri, lebih baik tidak usah kesana. Kenapa? Yah, makanan disana memang setaraf hotel bintang lima. Namun harganya! Ekkh.. cukup membuatku menahan napas mengingat uang jajanku yang hanya cukup untuk membayar bus pulang-pergi dan membeli beberapa permen.

Jika kalian berpikir sekolahku mewah, yah, itu memang betul. Namun apakah aku kaya? Jawabannya tidak, walaupun aku hidup sangat berkecukupan. Eomma hanya memiliki usaha gathering disamping pekerjaanya yaitu seorang karyawan. Kedua oppaku, Gikwang dan Donghae sudah dapat menghidupi diri sendiri. Oppaku Gikwang masih satu sekolah denganku, sementara Donghae oppa sudah kuliah dan mendapat beasiswa di luar negri. Sedangkan aku? Yah, aku kerja part time di sebuah café kecil di pinggiran kota Seoul. Memang seharusnya eomma bisa menggidupi kami berempat—setalah appa meninggal sewaktu aku SMP—namun apa salahnya jika aku belajar bertanggung jawab sendiri.

Jadi kenapa aku bisa bersekolah di sekolah yang ‘waw’ ini? Well, mungkin kalian mengetahuinya. The B’Goss Korean International High School. Aku melongo saat eomma mengabarkan bahwa aku bersekolah di sini. Well, aku cukup jelas juga ketika tahu teman appa yang membiayai sekolahku, karena… eum.. aku kurang jelas dengan itu. Apakah karena prestasiku?

Hah. Prestasi. Peraih juara umum selama 3 tahun berturut-turut memang patut dibanggakan. Namun nyatanya? Aku tidak bangga dengan diriku sendiri. Apanya yang menarik dari dirku? Tubuh yang harus bermasalah dengan berat badan—well, tubuhku tak selangsing Choi Sooyoung, putri pertama pemilik sekolahan ini—behel atas-bawah, jerawat bertebaran disekujur kening dan pipi, aku tak pernah menganggap diriku spesial. Namun dapat kuakui bahwa badanku sedikit mengurus semenjak aku masuk SMA dan kerja part time. Ingat. Sedikit.

“Ya! Lee Son hee! Berapa banyak berat badan yang kau hilangkan kali ini?” suara Sung Ran yang cempreng langsung menyerang gendang telingaku ketika aku masih asyik berkutat dengan buku Sejarah.

“Mollayo, aku tahu tahu.” jawabku cuek yang ditanggapi dengan tatapan heran Sung Ran.

“Kau tampak sangat kurus,” katanya ulang. Aku menatapnya tak percaya.

“Jinja?? Huufft.. Sekurus-kurusnya aku, tetap saja gemuk,” tukasku lagi.

“Kau.. Kau jadi kurus sekarang! Beritahu aku, berapa kali kau makan dalam sehari??” Aku tahu, Sung Ran, mungkin kau ingin menyenangkanku, tapi kurasa tak ada yang berubah dari tubuhku ini.

“Tentu saja 3 kali. Kau pikir aku apa hingga makan kurang dari 3 kari sehali?” jawabku sambil menatap Sung Ran heran.

“Yaa! Kau tahu ada acara di sekolah ini???” tiba-tiba Minchan datang entah dari mana dan langsung mengoceh tak jelas.

“Mollayo,” sesuai pribadiku, aku menjawab dengan padat, singkat, dan jelas.

“Ah, kau ini. Kuper banget sih??” cerca Minchan yang menusuk hati#apadeuh. Ya, ya, ya, aku memang kuper, dari dulu malah. Masa dia baru sadar sekarang sih?

“Aku.. Memang kuper kan dari dulu??” tanyaku memastikan. Kedua temanku hanya memutar-mutarkan bola mata mereka.

“Tapi ini sudah terlalu PARAH!!” pekiknya keras.

“Sudahlah Minchan-ah, kau yang sabar, dia kan memang begitu…” kata Sung Ran sambil menepuk-nepuk bahu Minchan. Hei.. Apa maksudmu hah, Kim Sung Ran?

Ya.. Ya… Ya. Aku kuper, apalah, segala macem. Bla bla bla cuihh. Aku menatap kedua temanku ini. Kim Sung Ran dan Kang Minchan. Yang satu anak pengusaha sukses, yang satu anak komposer hebat. Aku jadi canggung sendiri. Apalagi mereka sering memaksa untuk mentraktirku. Aku sungguh tak enak pada mereka.

“Minchan-ah, kau lebih berisi ya?” kataku sambil memperhatikan Minchan dari atas sampai bawah.

“Jinjaa??? Hehehe.. Key oppa sukanya yang tembem-tembem sih.. Kke~ lagipula ia suka memberiku makan…” jawabnya malu-malu.

“Hee? Iya yah. Ck ck. Key harus kuberitahu, kalau ia tak mau punya istri seperti balon, sebaiknya ia memberitahumu untuk diet,” kata Sung Ran menyetujui ucapanku sambil menghindar dari jitakan Minchan.

“Ya!! Kau pikir aku apa huh??” seru Minchan tak terima.

“Hahaha…” tawaku dan Sung Ran menggema. Minchan memeletkan lidahnya.

“Kau juga. Taemin? Hah. Diajak makan lolipop mulu. Ga bosen?” sindirnya. Sung Ran hanya mengerucutkan bibirnya tak paduli.

“Tidak hanya lolipop kok. Ia mengajariku main gitar dan popping dance,” kilah Sung Ran sambil memainkan dasinya.

Heuh. Sungguh iri aku dengan teman-temanku ini. Cantik, berasal dari keluarga kaya, berbakat, punya pacar yang perfect Pula. Sedangkan aku? Hah. Boro-boro pacar. Teman dekat saja tidak ada.

“Son Hee, sebaiknya kau cari pacar juga,” ujar Minchan yang membuatku kaget.

“Mwoo? Jangan bercanda Minchan. Mana ada yang mau denganku?? Gadis kutu buku dan jerawatan begini??” kataku ketus sambil menunjuk-nunjuk jerawat yang bertengger di pipiku.

“Itu karena kau sering tidur malam dan lupa mencuci muka!!” bentak Sung Ran persis salesgirl sebuah nama kosmetika.

“Hehehe…” Aku hanya bisa nyengir tiga jari menjawabnya.

“Berubahlah untuk orang yang kau sukai!” tukas Minchan tiba-tiba setelah beberapa saat berpikir. Aku mendelik menatapnya tak percaya.

“Nee? Aku tak mengerti.”

“Ahh.. Masa ga ngerti??” seru Sung Ran berbinar setelah menyadari kata-kata Minchan yang bagai teka-teki silang.

“Iya. Padahal jelas telihat di raut wajahmu,”sahut Minchan mengiyakan.

“Wae???” tanyaku masih tak mengerti.

“CHOI MINHO!!!” pekik keduanya bersamaan yang bisa membuat gendang telingaku pecah. Mwo? Apa kata mereka? Choi Minho? Choi Minho yang ituu?? Astaga…

“MWOOO!!!!???? ANDWAE!!! NAN NAEGA JOAHE ANIYAA!!!”

“Ck. Jinjaa?? Geurom, kau selalu mengamatinya dari jauh. Kau pikir aku tak sadar??” cerca Minchan menusuk hidung#plakkk maksudnya menusuk hati.

“Dan kau selalu memperhatikannya. Jongmal??” Timpal Sung Ran semangat. Gini deh. Apa mereka sekarang sedang berkomplot?

“Aniyaaa!!! Aku hanya mengagguminya saja. Tidak boleh?” kataku keras, tapi dengan polosnya mereka menggeleng. “Yaa!! Neo micheosso?”

“Kau mau kebalap Hara?” sergah Sung Ran setengah mengancam.

“Mereka sangat dekat, tahuuu..” goda Minchan sambil memonyong-monyongkan bibirnya, membuatku mau muntah melihat ekspresinya.

“Haish. Jincha molla, kau pikir, dengan tampang sepertiku aku punya muka untuk berhadapan dengannya, huh???” tukasku sebal.

“Ck, jincha. Jerawatmu hanya tiga….” ucap Minchan sambil memperhatikan pipi kanan dan kiriku.

“Tapi besar-besar!!!” tukasku selalu masih mencari alasan.

“Haishh… Sudah 3 bulan kau di sini… Namun kau tak pernah tahu apa-apa. Paling tidak, ada satu pasangan jadian di lapangan basket itu setiap 2 minggu sekali.. ” ujarnya tenang sambil menunjuk lapangan basket yang ada di bawah lewat jendela.

“Aku mana tau begituan??” tanyaku sambil mengangkat alis.

“Jagiyaaa…” seru sebuah suara yang sepertinya kukenal. Bagaimana tidak? Salah satu temanku ini adalah sejolinya. Sung Ran menoleh, lalu mengembangkan senyumannya.

“Eh?? Nee… Annyeong… Son Hee.. Kutinggal ya???” tuhkan. Si Taemin sunbae datang. Dibawa kaburlah si Sung Ran sama dia. Heuh.

“Ho’oh…” jawabku pasrah. Kini mereka melangkah berdua sambil bergandengan tangan bagaikan sejoli paling bahagia sedunia.

“Hahaha.. Mereka lengket sekali yaa???” sergah Minchan setengah tertawa. Aku hanya membalasnya dengan senyuman miris.

“Dorrr…” seseorang menepuk bahu Minchan hingga membuatnya tersentak dan kami berduapun menoleh ke asal suara.

“Ah.. Oppa…” desah Minchan lega saat melihat sesosok namjanya berdiri di belakangnya dengan senyuman maut yang sanggup meluluhkan hati para yeoja.

“Son Hee-ssi, Minchan-nya ku pinjam ya???” kata Key sunbae memelas padaku. Hah, bukannya cute, malah aneh jadinya.

“Nee…. Gwaenchanna Minchan-ah…” kataku pada Minchan yang memasang wajah khawatir. Aku menatap Key sunbae dan tersenyum, sementara ia mengajak Minchan pergi berdua.

Jadilah aku sendirian di kelas nan sepi ini. Apa tadi mereka menyinggung soal namja bernama Choi Minho? Ah, kalau tidak salah sih iya. Ck, namja itu. Baiklah, aku memang menyukainya. Tapi aku punya cukup malu untuk tidak menyatakan perasaanku padanya. Hahaha. Tiap hari nempelnya sama Hara gituh. Memangnya aku punya kesempatan apa? Jangankan kesempatan. Kemauan saja ciut. Memang Hara cantiknya seberapa sih? Cantik banget dia itu. Cantik, pintar, tajir, baik, ramah, suaranya merdu dan tariannya lincah, pria mana yang tak jatuh cinta padanya haa??

Baiklah. Aku semakin bosan disini. Aku menyambar I-Podku yang berwarna putih—hasil dari tabunganku—dan sebuah novel fantasi, lalu melangkah keluar kelas.

Author POV

Son Hee melangkah keluar kelas, menelusuri koridor sekolah yang sepi karena para penghuninya sedang ada di kantin. Langkahnya semakin cepat menuruni tangga, lalu bergegas ke pintu keluar gedung. Ia menelusuri jalan setapak di sana, membuka sebuah pagar dengan berbagai macam tumbuhan. Ya, ia memilih kebun sekolah sebagai tempat persembunyiannya kali ini.

Setelah berkeliling sejenak, ia memilih untuk duduk di tepi sebuah pot dengan bunga bougenville warna putih. Ia duduk di rerumputan dengan bersila, tangannya langsung memasangkan headset ke telinganya setelah itu dengan cepat membuka buku novel yang dibawanya—Wolfsangel—dan memulai membaca bab pertama.

Lee Gikwang, saat ini sedang berada di kantin dengan pandangan mengedar ke seluruh pelosok ruangan itu, mencari sesosok rambut berkucir kuda dengan postur tubuh berisi yang pasti hanya duduk merenung di kantin. Namun ternyata hasilnya nihil. Ia tak berhasil menemukan yeodongsaengnya—yang terkenal pendiam—itu. Ia hanya menemukan kedua sahabat karib dongsaengnya sedang bercanda berpasang-pasangan dengan namja mereka masing-masing.Gikwang segera memutar otaknya yang terkenal dengan instingnya itu. Setelah menyadari beberapa kemungkinan dimana lokasi dongsaengnya, ia segera bergegas ke sana.

Gikwang melangkah keluar gedung, menelusuri jalan setapak ke arah kebun sekolah. Ia mengedarkan pandangan, mencari sesosok mahkluk hidup berwujud manusia disitu dan….. gotcha!! Ia menemukan dongsaengnya sedang terduduk di pinggir sebuah pot bougenville dengan novel terbuka di pangkuannya sementara matanya telah terpejam.

“Yaa… saengi-yaa.. Ireonna!!” kata Gikwang pelan mengguncang bahu Son Hee. Dengan keadaan sadar baru 0,5%, Son Hee mebalas perkataan Gikwang dengan gumaman tak jelas.

“Uhhmm??” gumamnya dengan mata mulai terbuka. “Eh.. oppa..”

“Ya! Kau suka sekali menyelinap ke tempat seperti ini! Kkaja! Ada sesuatu yang harus kubicarakan denganmu!” kata Gikwang dengan sedikit seruan untuk membangunkan arwah Son Hee yang baru 45%.

“Wae geurae??” Tanya Son Hee sambil mengucek-ucek matanya.

“Ya! Kkaja!” seru Gikwang lagi, kali ini ia menarik tangan dongsaengnya agar berjalan mengikutinya.

“Akh.. Ya! Oppa!! Apphaa!! Yaa!!” erang Son Hee sambil dengan terpaksa mengikuti langkah oppanya.

“Palli!!” seru oppanya lagi.

“Ukh, Oppa neomu jinchaa??” gerutu Son Hee.

“Aish, sudahlah tutup dulu mulutmu itu! Nanti akan kujelaskan!”

“Jinchayo..”

Gikwang menarik Son Hee untuk masuk ke ruang guru. Son Hee hanya menurut karena ia tak mau melihat oppanya marah. Ia sudah pernah mengalaminya dan tak mau mengulangnya lagi.

“Sonsaengnim! Apa dia yang saem maksudkan?” Tanya Gikwang pada seorang guru.

“Ne, dia yang kumaksud. Apa dia adikmu?” balas guru itu.

“Ne, saem.”

“Hm. Geundae, dia akan kuikutkan dalam olimpiade matematika nantinya. Menggantikanmu.” Kata guru itu singkat. Gikwang mengangguk.

“Ne, saem. Saya bisa menjamin kemampuannya.” Balas Gikwang yakin. Guru itu tersenyum puas.

“Beri ini pada adikmu. Ia akan diikuti dalam pelatihan bersama calon lainnya. Sekaligus akan dilatih olehmu dan Kyuhyun,” kata guru itu lagi. Gikwangpun menerima selembaran kertas yang diberikan sonsaengnim itu.

“Ne, saem. Gamsahamnida saem. Annyeong,”

“Ne,”Setelah membungkuk terlebih dahulu, kedua kakak-beradik itu keluar dari ruang guru sambil berjalan berdampingan.

“IGE MWOYA?? Ya oppa!!” pekik Son Hee, tak bisa menyembunyikan kekagetan dari dalam dirinya lagi.

“Kau itu harusnya bangga karena otakmu itu bisa dipakai,” balas Gikwang kalem.

“Tapi oppa bilang-bilang dulu geh, jadi akunya ga terlalu kaget gini…” sergah Son Hee sambil cemberut.

“Hehe.. Mianhae saengi~” ujar Gikwang sambil mengacak pelan rambut Son Hee.

“Ngomong-ngomong, Kyuhyun itu siapa oppa? Teman oppa?” Tanya Son Hee penasaran.

“Ne, dia sangat pintar sains terutama matematika. Kau beruntung dapat dilatih olehnya,” kata Gikwang. Son hee mencibir sambil terus membaca selembaran kertas yang diberi oppanya dengan teliti, hingga ia tak sadar apa yang ada di hadapannya.

Bruakk…

“Akh.. mianhae..”seru Son Hee pada orang yang ditubruknya. Tiba-tiba ada sapu tangan terjatuh. Son Hee dengan sigap mengambilnya dan mengembalikannya. “Igeo..”

“Ne… gwaenchanna…” jawab orang tersebut. Son Hee terbelalak melihat siapa yang ditabraknya. Namja jangkung yang barusan dibicarakan teman-temannya, siapalagi kalau bukan Minho!

“Eh.. sunbaenim.. eh.. annyeong,” ujar Son Hee gugup dan hendak melanjutkan langkahnya. Namun..

“Minho-ya..” sapa Gikwang ramah.

Son Hee POV

Rasanya jantungku akan meledak se-ka-rang!! Omo.. omo.. gyaaaaa~

“Minho-ya..” haisshhh oppa!! Kenapa malah mengajaknya bicara?? Aku-ingin-segera-angkat-kaki-dari-sini!!!!

“Eh.. Gikwang-ssi! Lama gak lihat” seru Minho sunbae pada oppaku yang disambut pelukan khas namja dari oppaku. Cih. Aku mulai jadi kambing congek di sini.

“Gak lihat.. Gak lihat.. masa selama 3 bulan kau gak lihat aku? Huh? Matamu kemana?”

“Hehe.. mian.. igeo..” ujar Minho sunbae lagi sambil menatapku heran. Dan iapun menunjukku!! Siapapun, tolong cubit aku SE-KA-RANG!!!

“Naega dongsaeng,hahaha…” kata Gikwang oppa dengan pede selangit sambil merangkulku. Akupun menepisnya.

“Apa kau oppa maen rangkul-rangkul!! Ganjen!!” kataku pelan.

“Sepertinya dongsaengmu galak..” gumam Minho sunbae namun gumamannya itu terlalu keras jadi aku bahkan oppaku mendengarnya dengan sangat jelas.

“Ne, geurae. Kau punya dongsaeng?” haduhh oppa banyak amat sih topiknya…

“Aniyo, aku hanya punya seorang noona,” jawab Minho sunbae.

“Choi Sooyoung..” gumamku tanpa sadar. Minho sunbae berpaling ke arahku.

“Darimana kau tahu?” tanyanya bingung. Sumpah, lebih baik bunuh aku daripada harus menatap matanya!!!

“Ehh?? A… Ani…”

“Nugu imnika?” tanyanya lagi. Aku kaget. Dia bertanya pada siapa??? Atauu??

“Hee… Heeeehhh??? Nan?” kataku kaget sambil menunjuk diriku sendiri. Sedangkan ia hanya menahan tawa melihatku. Tawanya itu.. aduh Tuhann….

“Geurom,”

“Nan.. Lee Son Hee imnida.. bangaseupnida…” kataku sambil membungkuk.

“Choi Minho imnida… senang berkenalan denganmu Son Hee-ssi!!”

“Nee..” jawabku lemas. Kyaa~ wajahku pasti sudah memerah sekarang. Lebih baik… aku pergi dari sini, dari pada harus tinggal, pasti aku dikira masuk oven.

“Oppa, aku kebelet!! Annyeong!!” seruku spontan lalu ngabur.

“Nee!! Hati-hati!! Jangan sampai kepleset!!” suara oppa masih jelas terdengar beberapa langkah setelah aku beranjak dari situ.

Drap.. drap.. drap..

Syuutt..

Gubrakk…

Oppa….. TERIMAKASIH SUDAH MEPERMALUKANKU SEKARANG!!!!

“Akh…. YAAA!!! OPPAA!! Akh.. apphaa..” rintihku. KENAPA PERKATAAN OPPAKU SELALU MENJADI KENYATAAN HUH???

“Hahaha.. dongsaeng ceroboh…” katanya kejam. Tiba-tiba…

“Gwaenchanna??” Tanya Minho sunbae sambil menyodorkan tangannya. Aku tersentak dan langsung berdiri.

“Ne, gwaenchanna. Gamsahamnida…”

“Lain kali hati-hati..” katanya lembut. Tatapannya mengunciku. Namuan ini bukan waktu yang tepat untuk terpesona padanya, Lee Son Hee!!

“Ne.. annyeong!!”

Gikwang POV

Aku melirik ke arah chinguku. Ia terus memandang punggung dongsaengku walaupun ia sudah tak terlihat. Yah, aku tahu apa yang dirasakannya. Dan aku memakluminya, karena terkadang aku sendiri mengalami sister complex. Yah, semua orang tahu, dongsaengku itu anak polos tapi brilian, ceroboh tapi manis, dan galak tapi baik hati. Apalagi Donghae Hyung, dia sangat menyayangi yeodongsaengnya itu daripada aku. Yah, dia menyayangiku juga sih, tapi yaa… Sepertinya ia sister complex akut deh… Hehehehe…

Namuan kekurangannya adalah, ia sedikit jerawatan, dan badannya lebih berisi daripada kebanyakan haksaeng yeoja di sini yang singset-singset. Tapi, sepertinya badannya mulai mengecil? Apa efek dari pekerjaannyakah? Jangan sampai Donghae hyung memarahiku karena Son Hee sudah seperti anak kurang gizi.

“Yaa!! Lee Gikwang!!” suara berat Minho mengagetkanku. Aku pun menoleh.

“Ne?” tanyaku bingung.

“Ck, kkaja!” katanya singkat sambil mendorong punggungku ke arah kelas. Namun aku menarik tangannya hingga langkahnya terhenti.

“Ada Hara..” kataku kalem sambil menatap yeoja yang tengah berjalan ke arah kami.

“Hah?? Ck..” dengus Minho sebal. Aku hanya memandangnya prihatin.

“Annyeong Minho-yahh!!” seru Hara nyaring.

“Nee.. waee?” balas Minho malas.

“Heyy!! Jangan ketus-ketus!! Nanti jodoh pada kabur lhoo..” sergah Hara cuek. Minho mendengus lagi.

“Ne.. ne.. ne… wae geurae?” Tanya Minho lagi. Raut wajah Hara langsung bersemangat.

“Eommamu bilang, aku harus mengawasimu, katanya kalau sampai nanti lulus kau tak dapat yeojachingu, kau akan dimasukkan ke pesantren, dan pendapat itu disetujui 100% oleh noonamu, Sooyoung eonni, huakakakakakaka..”

“Haissh!! Andwae!! Aku harus memilih sendiri soal itu!!” balas Minho kecut. Hara kembali nyengir.

“Hara-yah, bagaimana denganmu dan Junhyung hyung?” tanyaku basa-basi.

“Ne? Junghyung oppa?? Ne… kami baik-baik saja,” jawabnya smabil tersenyum.

“Semoga langgeng ya..”

“Gomawo Gikwang-ssi..”

“Ya!! Kau sok pamer gitu? Mentang-mentang sudah punya namjachingu..” sergah Minho sebal. Aku hanya menatapnya sambil tertawa tanpa suara.

“Huu.. sirik aja.. suruh siapa lelet buat nyari yeojachingu begitu?” balas Hara santai.

“Heii.. sudah-sudah!! Ini sudah bel!! Masuk kelas sono!” potongku mengingatkan tujuan utama kami, yaitu kembali ke kelas.

Sumpah lama-lama aku stress melihat kedua sepupu ini beranteeeem terus. Yah, banyak orang yang tidak tahu kalau mereka itu sebenarnya sepupuan, bukan pacaran. Coba saja kalo mereka pacaran, bakalan marah kayak apa tuh Junhyung hyung…

“Nee.. annyeong.. awas kau Minho kalau kau belum punya gebetan akan kulaporkan ke eomma..” kata Hara lagi sambil menunjukkan bogemnya.

“Dasar.. hush sana pergi ah!!” usir Minho kejam.

“Idii…” kata Hara sambil melirik jijik pada Minho. “Annyeong Gikwang-ssi,” katanya lagi sambil tersenyum padaku. Akupun membalas senyumnya.

“Nee..” untung saja aku belum benar-benar terpikat dengannya sejak dulu. Coba kalau sudah naksir duluan, bisa kena bunuh sama Junhyung hyung nanti! Sekarang, secara gituh, Hara itu perfect abis. Udah cantik, keren, baik pula. Cuma sayangnya yaa.. agak galak sama cerewet gitu. Hahahahaha…

“Gikwang-ah.. Apa Son Hee sedang suka sama seseorang?” pertanyaan Minho mengagetkanku.

“Ndee? Jinchayo?” tanyaku balik dengan gak jelasnya.

“Yaa aku kan cuma yanya.” Jawab Minho kalem.

“Hemmm.. sepertinya iya. Tapi nggak tahu juga sih. Soalnya, biasanya ia suka ngalahan,” kataku. Minho mendelik.

“Heh??”

“Iya. Jadi kalo misalkan, dia suka sama Kyu, terus si Seohyun juga suka. Nah, dia bakalan nyomblangin Kyu sama Seohyun gitu. Makanya, mesti mastiin dulu perasaan ke dia itu beneran ato cuma naksir doang.. tumben nanya kayak gini, kau suka dengannya yaa?? Hayoo..” godaku.

“A… Aniyoo… geunyang… ia membuatku penasaran.. hahahah..”

“Hahahaha.. hyungku sister complex terhadapnya.” Balasku kalem.

“Nde??” pekiknya yang membuat matanya yang belo itu semakin keluar.

TBC

Otte?? Geje?? Aneh?? Well, menyimpan FF sampe lumutan di komputer itu gak baik #PLAKKK sebenernya dai dulu pengen ku post, tapi ragu terus DX Jadi.. gimana menurut kalian?? Ini.. sudah selesai di tulis.. jadi gak bakal lama postnya. Tenangggg~~~ #PLAKKK (FF LU YANG LAIN GIMANE WOY)–>labil kumat

Okehh.. yang sudah baca gomawoo.. tapi jincha jincha gomawoyooo kalo kalian meninggalkan komen. Mau komen, kritik atau saran.. silahkann!! XDD

credit by : whiteee13

Advertisements

3 thoughts on “[FF] Your Love Is Too High – PART 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s